Termasuk Istana Negara dan Lapangan Upacara yang akan dijadikan salah satu venue berlangsungnya pesta seluruh rakyat Indonesia tersebut.
Sejak dikerjakan pada November 2022 hingga saat ini, perkembangan konstruksi Istana Negara dan Lapangan Upacara telah berada pada level 65 hingga 68 persen.
Secara struktur, dua infrastruktur yang menelan nilai kontrak Rp 1,34 triliun, ini sudah hampir tuntas dengan angka sekitar 90 persen.
Namun, unsur-unsur detail menyangkut interior, elemen dekoratif, mekanikal, elektrikal, pumbling (MEP), penataan lanskap, penataan jalan termasuk Multi Utility Tunnel (MUT) dan jembatan, masih menyisakan 32 persen.
Project Manager Istana Negara dan Lapangan Upacara Eko Arief S menuturkan, pekerjaan MEP dan penataan interior adalah hal yang paling krusial.
Eko menuturkan, pekerjaan Istana Negara dan Lapangan Upacara membutuhkan proses yang cukup panjang, dan melibatkan banyak pihak, serta harus berkualitas.
"Selain itu, ada banyak tahapan yang kami lewati. Termasuk mendapatkan persetujuan (approval) dari Sekretariat Presiden (Setpres), dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Kami mengikuti arahan mereka," ungkap Eko dalam perbincangan khusus dengan Kompas.com.
Menurut Dwityo, mereka bekerja sesuai detail engineering design (DED), ada perencana desain, arsitek, teknik sipil, ada pengendalian pembangunan, dan ada konsultan yang mendampingi untuk mengawasi pekerjaan.
"Tahapannya berjenjang, mulai dari yang tertinggi Setpres, Paspampres, Satgas Kementerian PUPR, Manajemen Konstruksi Induk (MKI), Manajemen Konstruksi (MK), hingga Kontraktor Pelaksana," jelas Dwityo.
Jadi, tambah Dwityo, walaupun punya basic design, pada saat eksekusi harus sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Setpres dan Paspampres.
"Ini semua menyangkut detail dan memang seluruhnya harus sama tinggi kualitasnya. Jangan ada satu hal pun terlewat, apalagi ada yang tidak sesuai dengan rencana. Itulah mengapa seluruh pekerjaan interior ini ditangani oleh orang-orang yang memang memiliki craftmanship tinggi," imbuh Alfits.
Dalam idiom Ketua Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN Danis HIdayat Sumadilaga, the devil is in the details (masalah justru ada dalam hal-hal rinci).
"Idiom ini mengacu pada tangkapan atau elemen misterius yang tersembunyi dalam sesuatu yang rinci, detail. Ini menunjukkan bahwa sesuatu mungkin tampak sederhana, tetapi kenyataannya perinciannya rumit dan cenderung menimbulkan masala," jelas Danis.
Konsep keseimbangan bukan hanya pada tampilan bangunan namun juga secara keseluruhan kawasan.
Selain itu, bangunan juga didesain tanggap iklim dan meminimalisasi perubahan terhadap bentuk dan kondisi topografi tapak.
Lantai bangunan Istana Negara dilapisi marmer, parket, dan homogenous tile (HT). Dan khusus lantai lobby, dilapisi marmer hijau Juparana.
Menurut Eko, marmer pelapis lantai yang digunakan merupakan produksi lokal, didatangkan langsung dari Makassar, Sulawesi Selatan.
"Tak hanya itu, pada ornamen dinding terdapat artwork dan cat tekstur," cetus Eko.
Berlanjut ke plafon Istana Negara yang terbuat dari gypsum, kayu solid, veneer, ukiran kayu dan tembaga.
Adapun atap bangunan mencakup bitumen dan roof garden. Sedangkan unsur sanitary-nya terdiri dari sanitary VVIP, VIP, dan umum
Sedangkan penataan lanskap-nya dirancang dengan luas area tanam 109.932 meter persegi, dengan 40 persen tanaman endemik 40 persen, dan 60 persen tanaman non-endemik.
"Hal ini karena IKN dirancang sebagai smart city forest. Jadi penataan lanskapnya pun harus mengacu pada konsep itu," cetus Eko.
Beralih ke kolom fasad, meliputi 34 pilar dengan sentuhan akhir marmer white tassos. Kemudian pelapis jendela terbuat dari kaca sun energy, kaca clear, dan kaca anti peluru .
Interior Istana Negara
Bangunan Istana Negara mencakup 11 ruang. Empat ruang di antaranya harus sudah dapat difungsikan untuk upacara peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan RI.
"Pada saat 17 Agustus nanti, sekitar 95 persen pekerjaan Istana Negara tuntas. Sisanya 5 persen, finishing di area yang bukan area utama. Jadi, nanti commissioning test-nya bertahap," terang Eko.
Alfrits mengatakan, para pekerja yang khusus mengerjakan Istana Negara dan Lapangan Upacara ini berasal dari Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan 30 persen lainnya berasal dari Kalimantan.
"Kami optimistis dapat mencapai target itu. Karena pekerjaan yang terkait dengan kendala alam sudah kami lewati dengan baik, seperti struktur bangunan dan elevated jalan," ucap Eko dan Alfrits kompak.
Bangunan Istana Negara juga memenuhi aspek smart building alias bangunan cerdas. Dilengkapi sistem alarm kebencanaan yang bisa mendeteksi kebakaran dengan detektor panas dan asap serta pemadam api otomatis.
Terdapat juga sistem kamera pengawas secara live 24 jam dari semua area. Kemudian sistem kontrol area yang dapat mengendalikan pintu-pintu dan titik akses secara otomatis dari pusat kendali.
Selanjutnya sistem pencahayaan otomatis dengan lampu penerang menggunakan sensor cahaya, gerak, dan kendali via Battery Management System (BMS).
Berikutnya sistem pengondisian udara dengan penggunaan pendinginan udara Air Handling Unit (AHU), Variable Air Volume (VAV) terintegrasi dengan BMS.
Kemudian sistem air minum yang bekerja mengamati kapasitas tangki air dan status pompa secrta pencatatan penggunaan air minum.
Tak hanya itu, Istana Negara juga dilengkapi sistem transportasi dalam gedung yang mampu memonitor posisi elevator berdasarkan lantai.
Terakhir Intelligent Building Management System (IBMS) yang merupakan teknologi untuk mengawasi dan mengendalikan berbagai informasi dan mengoptimalkan kondisi di dalam Bangunan Istana Negara.
Informasi ini kemudian digunakan untuk mengotomatiskan berbagai proses, mulai dari pemanasan dan ventilasi, hingga sistem tata udara, pencahayaan, dan keamanan.
https://ikn.kompas.com/read/2024/05/02/070714787/bocoran-interior-istana-negara-ikn-ada-11-ruang-dengan-artwork-nusantara