Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

BI Rekomendasikan Pemprov Kaltim Genjot Ekonomi Hijau dan Biru

Selama ini Kaltim hanya mengandalkan industri ekstraktif yang berasal dari pertambangan migas, dan batubara, untuk memenuhi pasar dalam negeri dan diekspor ke mancanegara.

Oleh karena itu, Kepala Perwakilan BI Kaltim Budi Widihartanto menegaskan pentingnya eksplorasi SDA yang mendukung pengembangan ekonomi hijau dan biru sesuai dengan misi Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Terutama Asta Cita Nomor 2 dan 5 yakni memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru, serta melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Budi menjelaskan, ekonomi hijau merupakan sistem perekonomian rendah karbon, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan inklusif secara sosial.

Dalam perekonomian hijau, pertumbuhan lapangan kerja dan pendapatan didorong oleh investasi pemerintah dan swasta pada kegiatan ekonomi, infrastruktur dan aset yang memungkinkan pengurangan emisi karbon dan polusi.

Kemudian peningkatan efisiensi energi dan sumber daya, serta pencegahan hilangnya keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem. 

Menurut Budi, Pemprov Kaltim harus meningkatkan manfaat perkebunan kelapa sawit (PKS) sebagai salah satu sumber penopang pertumbuhan ekonomi.

"Siapa bilang kebun sawit hanya merusak lingkungan? Ada banyak manfaatnya jika dieksplorasi dengan baik," cetus Budi.

Selain sebagai komoditas ekspor utama, kelapa sawit memiliki peran penting dalam mendukung ekonomi hijau melalui berbagai produk turunannya yang ramah lingkungan.

Produk-produk seperti bioenergi, kosmetik, dan minyak goreng mencerminkan potensi besar sawit sebagai solusi berkelanjutan.

Kemudian tanaman Kaliandra juga bisa menjadi lumbung energi karena potensial sebagai bahan bakar ramah lingkungan.

Kaliandra merupakan tanaman perdu yang mempunyai batang berkayu, bertajuk lebat, dapat mencapai tinggi hingga 45 meter dan mempunyai perakaran yang dalam hingga 1,5 meter sampai 2 meter.

Tanaman itu juga mampu tumbuh di semua jenis tanah, tahan pangkasan, cepat bersemi dan lebat. Sistem perakaran tanaman Kaliandra dapat membentuk bintil akar, bintil akar ini dapat menyerap nitrogen dan menjadikan tanah subur.

Ekonomi biru meliputi beberapa sektor yaitu perikanan, akuakultur, pelayaran, energi, pariwisata, dan bioteknologi kelautan.

Menurut Budi, Pemprov Kaltim bisa berdayakan para nelayan untuk mengeksplorasi kekayaan alam yang ada di laut. Mengembangbiakkan, membudidayakan, atau memproduksi olahan ikan kerapu, kepiting, atau jenis-jenis ikan laut lainnya.

"Praktik ekonomi biru ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat tanpa merusak lingkungan," tutur Budi, saat media gathering, di Lombok, pekan lalu.

Kaltim sendiri memiliki potensi besar untuk lebih serius lagi meningkatkan eksplorasi SDA laut duna menopang ekonomi biru.

Sebut saja, garis pantai Provinsi Kaltim yang sepanjang 3.893,15 kilometer, melintasi delapan wilayah kabupaten/kota dari total 10 kabupaten/kota di Kaltim.

Kemudian memiliki 212 pulau, 43 kecamatan pesisir, 244.437 hektar kawasan mangrove, 105.556,55 hektar luas terumbu karang, dan 13.119 hektar padang lamun.

"Ini bisa dikelola melalui pengembangan hilirisasi dan industrialisasi yang menekankan pada prinsip-prinsip berkelanjutan dan inklusif secara sosial," cetus Budi.

Ekonomi hijau dan biru bisa dijalankan beriringan seraya transformasi perlahan diterapkan pada industri ekstraktif.

Tumbuh Positif

Ekonomi Kaltim sendiri pada triwulan III-2024 tetap melanjutkan pertumbuhan positif dan lebih tinggi dibandingkan dengan ekonomi Nasional dan regional Kalimantan.

Laju pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan III 2024 tercatat sebesar 5,52 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Meskipun melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Kaltim pada periode laporan tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan regional Kalimantan.

Lapangan Usaha (LU) pertambangan masih menjadi pendorong utama perekonomian Kaltim, meskipun melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya akibat produksi dan permintaan batu bara yang melandai.

Selain itu, kinerja LU konstruksi juga melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sejalan dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) di komponen pengeluaran.

Hal ini seiring dengan progress pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang termoderasi pasca pelaksanaan HUT ke-79 RI hingga akhir triwulan III 2024.

Sementara itu, komponen ekspor tetap tumbuh positif didorong oleh kinerja ekspor fertilizers.

https://ikn.kompas.com/read/2024/12/09/203735587/bi-rekomendasikan-pemprov-kaltim-genjot-ekonomi-hijau-dan-biru

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com