Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Pelajaran Berharga dari Kegagalan Kereta Tanpa Rel China di IKN

Setelah evaluasi ketat, kereta tanpa rel ini tidak mampu beroperasi secara otonom dan dikembalikan ke China pada 29 April 2025.

Meski mengecewakan, kegagalan ini memberikan pelajaran berharga bagi Otorita IKN dalam mewujudkan visi smart mobility untuk kota cerdas yang hijau dan berkelanjutan.

Berikut catatan Kompas.com yang dihimpun berdasarkan hasil wawancara khusus bersama Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Mohammed Ali Berawi, atau akrab disapa Ale dan para pakar dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

1. Pentingnya Adaptasi Teknologi dengan Kondisi Lokal

Salah satu kelemahan utama kereta tanpa rel adalah ketidaksiapan sistem otonomnya untuk beroperasi di lingkungan mixed traffic IKN, di mana jalur uji coba digunakan bersama kendaraan lain.

Sistem sensor dan Artificial Intelligent (AI) kereta tanpa rel tidak diadaptasi sepenuhnya untuk kondisi jalan yang masih dalam tahap pembangunan, seperti permukaan tidak rata atau gangguan dari kendaraan konstruksi.

Di China, ART beroperasi di jalur khusus dengan infrastruktur matang, sedangkan IKN memiliki dinamika berbeda.

Teknologi impor harus melalui proses adaptasi lokal yang menyeluruh, termasuk pengujian di kondisi nyata dan penyesuaian dengan iklim tropis, topografi, serta pola lalu lintas IKN.

Kolaborasi dengan lembaga riset lokal, seperti UI, ITB, atau ITS, dapat memastikan teknologi sesuai dengan kebutuhan spesifik Nusantara.

2. Evaluasi Ketat sebagai Filter Teknologi Terbaik

Otorita IKN menerapkan evaluasi independen oleh pakar transportasi dan asosiasi profesional, dengan empat pilar penilaian: kualitas teknologi, interoperabilitas, nilai ekonomis, dan transfer teknologi.

ART gagal karena sistem otonomnya tidak andal, pengereman tidak responsif, dan kurang mendukung operasi dua arah (bidirectional).

Biaya tinggi (estimasi Rp 70 miliar per unit) juga dinilai tidak sebanding dengan performa sebagai advanced electric bus.

Pendekatan living laboratory IKN, yang mengevaluasi teknologi secara ketat melalui Proof of Concept (PoC), terbukti efektif untuk menyaring teknologi yang belum matang.

Evaluasi ini melindungi IKN dari investasi yang tidak optimal dan memastikan hanya solusi terbaik yang diadopsi, seperti yang diungkapkan Deputi Transformasi Hijau dan Digital OIKN, Mohammed Ali Berawi.

3. Fleksibilitas dalam Menyusun Strategi Mobilitas

Kegagalan ART tidak menghentikan ambisi Otorita IKN untuk membangun ekosistem smart mobility.

Saat ini, Otorita IKN bekerja sama dengan Kemitraan Indonesia-Australia untuk Infrastruktur (KIAT) Tengah menyusun masterplan ekosistem smart mobility and transportation terpadu di IKN.

Salah satunya dengan pengembangan Mobility-as-a-Service (MaaS) untuk mengintegrasikan bus listrik, sepeda listrik, hingga urban air mobility.

Kegagalan satu teknologi harus dijadikan momentum untuk mengeksplorasi solusi alternatif.

Pendekatan fleksibel memungkinkan Otorita IKN tetap berada di jalur menuju 10-minute city, di mana 80 persen perjalanan menggunakan transportasi publik atau mobilitas aktif, seperti berjalan kaki dan bersepeda.

4. Pentingnya Pola Pengadaan yang Efisien

Salah satu kritik terhadap ART adalah biaya PoC yang tinggi, meskipun ditanggung oleh penyedia teknologi (Norinco dan CRRC).

Ale menekankan perlunya pola pengadaan (procurement) yang transparan untuk meminimalkan eskalasi harga dan memastikan teknologi sesuai spesifikasi.

Kereta tanpa rel dinilai terlalu mahal untuk fungsinya yang belum optimal, mendorong Otorita IKN untuk memperketat proses pengadaan di masa depan.

Pengadaan teknologi harus didukung oleh analisis biaya-manfaat yang ketat dan negosiasi yang mengutamakan transfer teknologi serta produksi lokal.

Hal ini akan menekan biaya jangka panjang dan mendukung industri dalam negeri, seperti rencana pembangunan fasilitas produksi ART di Indonesia.

5. Kolaborasi dan Kajian Ilmiah sebagai Fondasi Inovasi

Kegagalan ART menyoroti pentingnya kajian ilmiah sebelum implementasi skala besar. Otorita IKN telah berkolaborasi dengan universitas nasional dan lembaga internasional untuk menguji teknologi cerdas, seperti Autonomous Driving System (ADS) dan Advanced Traffic Management System (ATMS).

Namun, kereta tanpa rel tidak melalui penyempurnaan pra-uji yang memadai, seperti pembaruan sistem komunikasi atau fitur keselamatan sesuai standar keamanan siber Indonesia.

Kolaborasi dengan pusat riset dan pendekatan berbasis data adalah kunci untuk memastikan teknologi siap pakai.

Kajian ilmiah dapat mengidentifikasi potensi masalah sejak dini, seperti yang kini dilakukan untuk PoC urban air mobility bersama Hyundai Motor Group, yang direncanakan beroperasi terbatas pada 2026–2028.

Dampak Positif bagi Masa Depan IKN

Meski kereta tanpa rel asal China tak dapat berfungsi otonom, kegagalan ini memperkuat posisi IKN sebagai Technology and Knowledge Hub yang selektif dan inovatif.

Beberapa dampak positif meliputi:

Evaluasi ketat ART mendorong penyedia teknologi untuk menghadirkan solusi yang lebih andal dan hemat biaya. 

Kegagalan ini juga memperkaya blueprint kota cerdas IKN, memastikan sistem Intelligent Transportation System (ITS) berbasis IoT yang akan fungsional pada 2025–2029 lebih matang.

"Kami tetap optimistis dengan target operasional smart mobility pada tahap kedua pembangunan, termasuk sensor IoT, aplikasi MaaS, dan smart traffic lights, yang akan mendukung visi emisi nol bersih pada 2045," tegas Ale.

https://ikn.kompas.com/read/2025/05/01/111030287/pelajaran-berharga-dari-kegagalan-kereta-tanpa-rel-china-di-ikn

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com