Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Konglomerat Artha Graha Lirik IKN, Ini Sektor yang Paling Diincar

Salah satunya adalah Artha Graha Network, yang melakukan kunjungan strategis ke Kantor Otorita IKN untuk menjajaki potensi investasi.

Pertemuan ini bukan sekadar membahas pembangunan fisik, melainkan juga tentang bagaimana menciptakan ekosistem perkotaan yang hidup, inklusif, dan berdaya saing global.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan komitmen pemerintah untuk melanjutkan pembangunan IKN. Menurutnya, tidak akan ada moratorium, dan pembangunan justru akan dipercepat.

"Presiden Prabowo memerintahkan agar pembangunan Yudikatif dan Legislatif segera diselesaikan dalam tiga tahun," ujar Basuki, dikutip Kompas.com, minggu (3/8/2025).

Saat ini, fokus pembangunan berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), termasuk Istana, gedung Legislatif, dan Yudikatif.

Pembangunan jalan di KIPP 1B juga sudah dimulai, menandakan semakin banyak investasi yang masuk.

Pernyataan ini memberikan kepastian bagi para investor bahwa IKN adalah proyek prioritas nasional yang didukung penuh oleh landasan hukum dan anggaran yang kuat.

Lirik Peluang di Sektor Hospitality dan FnB

Perwakilan Artha Graha Network, Michael Iskandar, menyambut baik pemaparan dari Otorita IKN.

Ia secara khusus menyatakan ketertarikannya pada potensi di sektor hospitality (perhotelan) dan food & beverage (FnB).

Ketertarikan ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi Otorita IKN, Sudiro Roi Santoso, yang menjelaskan bahwa IKN membutuhkan elemen pendukung seperti tempat-tempat keramaian dan fasilitas gaya hidup.

"Yang saat ini kami butuhkan agar ekosistem bisa berjalan adalah crowd, tempat-tempat keramaian dan juga lifestyle, seperti sarana olahraga. Jadi bukan sekadar memindahkan orang, tapi menciptakan kenyamanan agar betah tinggal di sini,” kata Roi.

25.000 Orang Berkegiatan Setiap Hari

Otorita IKN juga membeberkan potensi pasar yang menjanjikan. Sekretaris Otorita IKN, Bimo Adi Nursanthyasto, mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada sekitar 1.200 ASN dan 5.000 pekerja konstruksi yang menghuni IKN.

"Jika kegiatan baru dimulai, bisa mencapai 25.000 orang. Selain itu, ada ribuan turis lokal yang datang setiap harinya, serta kunjungan rutin dari tamu-tamu pemerintah," jelas Bimo.

Angka-angka ini menjadi daya tarik kuat bagi investor seperti Artha Graha Network, yang yakin bahwa pengelolaan aset serupa dengan yang ada di kawasan SCBD Jakarta bisa diterapkan di IKN melalui kolaborasi business to business (B2B) yang menjanjikan.

Sebanyak 16 kementerian/lembaga juga akan menjadi pionir relokasi, membawa sekitar 3.500 ASN ke IKN, yang akan semakin memperkuat fondasi populasi awal.

Dengan adanya dukungan dari konglomerat seperti Artha Graha Network, IKN tidak hanya akan menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga sebuah laboratorium hidup untuk model kota masa depan yang berfokus pada manusia, inovasi, dan kolaborasi global.

Investasi di IKN bukan hanya soal membangun gedung, melainkan juga membentuk peradaban baru Indonesia yang tangguh dan modern.

https://ikn.kompas.com/read/2025/08/03/123245487/konglomerat-artha-graha-lirik-ikn-ini-sektor-yang-paling-diincar

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com