Namun, di balik itu, tersimpan potensi besar dari sektor hortikultura. Potensi ini dikelola dengan apik oleh Asosiasi Asparagus, Kucai, dan Sayuran (Aspakusa) Makmur Boyolali.
Berdiri sejak tahun 2005, Aspakusa telah menjelma menjadi salah satu pilar agribisnis yang memasok sayuran berkualitas ke berbagai pasar di Indonesia, dengan omzet bulanan menembus lebih dari Rp 100 juta.
Kini, ada babak baru yang sangat menjanjikan bagi Aspakusa. Asosiasi ini diincar oleh investor untuk memanfaatkan peluang menjadi pemasok kebutuhan pangan bagi Ibu Kota Nusantara (IKN).
Sebuah potensi besar yang bisa mengangkat nama Boyolali sekaligus menjamin ketahanan pangan di pusat pemerintahan yang baru.
Manajer Pemasaran Aspakusa, Ningsih, membenarkan adanya perbincangan awal dengan calon pemasok dari IKN.
"Sudah ada yang datang ke sini, katanya untuk memasok kebutuhan di IKN," ungkap Ningsih kepada Kompas.com, melalui sambungan pesan singkat, Kamis (11/9/2025).
Meskipun belum ada kerja sama resmi yang terjalin, pertemuan awal sudah terjadi, pada tahun 2024 lalu.
Ningsih mengungkapkan, nvestor dari IKN tersebut tertarik dengan beragam sayuran yang diproduksi oleh Aspakusa dan menanyakan harga serta varietas yang tersedia.
"Mereka tertarik dengan tanaman pangan keras seperti wortel, jagung, sayur-sayuran harian," kata Ningsih.
Namun, dia juga menegaskan bahwa pertemuan itu baru sebatas obrolan dan belum ada tindak lanjut yang konkret.
"Waktu itu ngobrol, kami memberikan informasi seperti yang dia butuhkan. Namun, belum ada tindak lanjut yang lain," jelasnya.
Ningsih menekankan, investor yang datang tersebut tidak berasal atau terkait langsung dengan Otorita IKN, melainkan perwakilan yang memiliki relasi di Boyolali. Kendati demikian, Aspakusa membuka pintu lebar-lebar untuk peluang kerja sama.
"Kami sangat terbuka untuk siapapun bekerja sama dengan Aspakusa, kita kirim ke mana saja bisa," tegas Ningsih.
Aspakusa: Lebih dari Sekadar Asosiasi Petani
Aspakusa bukan sekadar kelompok tani biasa. Ddidukung oleh inisiatif dari Taiwan Technical Mission dan bimbingan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, asosiasi ini telah menerapkan model agribisnis yang terintegrasi.
Dengan lebih dari 200 anggota petani dan 21 karyawan tetap, Aspakusa membudidayakan sekitar 100 jenis sayuran, mulai dari kailan, jagung manis, hingga kentang.
Mereka menerapkan praktik pertanian baik Good Agricultural Practices (GAP), menggunakan teknologi seperti greenhouse dan net paranet untuk memastikan kualitas dan pasokan yang stabil.
Hasilnya, sayuran segar dari Aspakusa tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga memasok supermarket besar di Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya, serta perumahan elite di kota-kota tersebut.
Dampak Positif yang Meluas
Studi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Udayana menunjukkan bahwa Aspakusa berhasil memberdayakan petani anggotanya.
Melalui skema kemitraan, petani mendapatkan akses ke bimbingan teknis, benih unggul, pupuk, bahkan fasilitas keuangan.
Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga kemandirian ekonomi para petani.
Dengan omzet Rp 100 juta lebih per bulan, Aspakusa tidak hanya menggenjot pendapatan petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendukung sektor UMKM lokal.
Aspakusa telah membuktikan diri sebagai model sukses agribisnis berkelanjutan, dan kini, dengan potensi menjadi pemasok IKN, peran mereka bisa jauh lebih besar lagi dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
https://ikn.kompas.com/read/2025/09/11/140000487/aspakusa-makmur-boyolali-diincar-investor-penuhi-kebutuhan-pangan-ikn