Balikpapan berhasil mencatatkan deflasi 0,06% (mtm), sedangkan PPU justru mengalami inflasi 0,07% (mtm).
Perbedaan tipis ini mengungkap sensitivitas ekonomi di sekitar IKN, di mana efisiensi distribusi logistik dan hasil panen musiman menjadi penentu utama daya beli masyarakat.
Meski begitu, target inflasi nasional (2,5% 1%) masih aman terkendali di kedua wilayah, dengan realisasi Balikpapan (1,15% yoy) jauh di bawah batas bawah.
Balikpapan: Kado Deflasi dari Dapur dan Distribusi
Deflasi di Balikpapan didorong oleh anjloknya harga di Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga dengan andil deflasi signifikan sebesar 0,16% (mtm).
Komoditas penyelamat deflasi adalah penurunan harga Bahan Bakar Rumah Tangga (BBRT) yang didorong oleh menurunnya biaya operasional distribusi, sekaligus mengindikasikan kelancaran pasokan energi.
Kemudian melimpahnya pasokan bawang merah dan tomat dari sentra produksi (Sulawesi dan Jawa) di tengah permintaan yang stabil berhasil menekan harga.
Selanjutnya peningkatan pasokan cabai rawit dan kangkung dari sentra produksi dan produksi lokal yang didukung cuaca baik meredam gejolak harga.
Alarm Inflasi: Transportasi dan Emas
Di sisi lain, alarm inflasi Balikpapan berbunyi nyaring dari Kelompok Transportasi yang memberikan andil 0,14%.
Kenaikan tarif Angkutan Udara setelah diskon dicabut dan tingginya permintaan untuk aktivitas kedinasan menjadi pemicunya.
Sementara itu, Emas Perhiasan menjadi sorotan setelah menyentuh nilai tertinggi sepanjang masa (Rp 2,1 Juta/gram) akibat tren harga emas dunia yang terus menguat.
PPU: Perayaan Maulid Nabi dan Gelombang Tinggi Memicu Inflasi
Berbeda dengan Balikpapan, IHK PPU mengalami inflasi 0,07% (mtm). Penyumbang inflasi terbesar adalah Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau.
Komoditas Pendorong Inflasi mencakup kenaikan harga daging ayam ras yang kuat akibat meningkatnya permintaan sejalan dengan perayaan Maulid Nabi pada awal September 2025.
Kenaikan harga ikan tongkol dan layang yang didorong oleh terbatasnya pasokan akibat kondisi gelombang laut yang tinggi dan mengurangi jumlah nelayan melaut, serta penundaan penebaran benih budidaya Ikan Bandeng juga ikut mendorong inflasi.
Kenaikan harga beras yang disebabkan oleh stok beras premium terbatas karena pasokan dari Jawa tertunda, adalah komoditas pendorong inflasi PPU.
Meskipun Inflasi PPU lebih tinggi dari nasional (2,83% yoy vs 2,65% yoy), deflasi dari komoditas pangan seperti Bawang Merah, Cabai Rawit, dan hasil panen lokal (Terong dan Kangkung) yang melimpah berhasil menahan laju inflasi agar tetap berada dalam rentang sasaran nasional.
Optimisme Konsumen yang Kuat Diuji Risiko Cuaca
Meskipun tekanan harga pangan terlihat, optimisme konsumen di Balikpapan tetap kuat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Balikpapan tercatat di level optimis 118,3 (meski turun sedikit dari 129,8), menandakan keyakinan tinggi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan.
Namun, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mewanti-wanti adanya risiko tekanan inflasi ke depan dari dua faktor alam.
Seperti hujan berlanjut yang merupakan risiko pada pasokan komoditas hortikultura dari daerah sentra produksi.
Kemudian gelombang laut tinggi yang mengancam ketersediaan pasokan produk perikanan, mengingat kuatnya permintaan.
"Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, BI Balikpapan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan dan PPU akan terus bersinergi melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP)," tutur Robi, Jamat (3/10/2025).
Strategi yang dicanangkan meliputi perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), pelaksanaan gelar pangan murah, dan dorongan untuk pemanfaatan lahan pekarangan untuk komoditas hortikultura, memastikan ketersediaan pasokan pangan yang stabil di jantung pembangunan IKN.
https://ikn.kompas.com/read/2025/10/04/130000587/kontras-ekonomi-penyangga-ikn-balikpapan-deflasi-ppu-inflasi