Namun, kini, sebuah pemandangan yang lebih lembut dan organik mulai mendominasi lanskap: bermekarannya bunga bougainvillea atau kembang kortas.
Di kawasan strategis dan bersejarah, tepat di seberang Istana Garuda dan Istana Negara, hamparan bunga bougainvillea berwarna lilac kini berkembang, menghiasi area yang dikenal sebagai Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Kehadiran bunga-bunga ini bukan sekadar pemanis, melainkan sebuah pernyataan visual yang kuat, bahwa IKN bukan hanya tentang hutan beton dan pemerintahan, tetapi juga tentang kehidupan yang berakar pada keindahan alam.
Di satu sisi, tegak berdiri siluet Istana Garuda yang futuristik, melambangkan kedaulatan dan kemajuan teknologi.
Di sisi lain, bougainvillea lilac menawarkan kontras yang lembut dan organik, mengingatkan pada visi IKN sebagai sustainable forest city.
Perpaduan ini menciptakan sebuah narasi baru: kekuasaan politik dan administrasi akan berdenyut di tengah kota yang ramah pejalan kaki, asri, dan lestari.
Kembang-kembang setaman yang kini tumbuh subur, menjadi simbol bahwa desain IKN tidak mengorbankan elemen natural, melainkan mengintegrasikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari infrastruktur kota.
"Kontras tapi indah, panorama yang jarang ditemukan di kota-kota lain. Saya berkunjung ke sini, karena pengen lihat bunga-bunga ini bermekaran," ujar Sri Astrutik, warga Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.
Bunga ini, selain indah, dikenal karena sifatnya yang tahan banting dan mudah beradaptasi dengan iklim tropis yang ekstrem.
Tanaman ini mampu tumbuh subur dengan paparan sinar matahari penuh dan tidak memerlukan perawatan yang rumit, sebuah analogi sempurna untuk ketahanan kota baru Indonesia.
Kehadiran bougainvillea lilac secara masif di sepanjang jalan lebar, jalur pejalan kaki, dan jalur sepeda KIPP memberikan beberapa dampak signifikan.
Di antaranya peningkatan visual aesthetics dengan emberikan warna kontras yang dramatis dan menjadikannya latar belakang Instagrammable yang menarik minat publik untuk berkunjung.
Estetika jalanan yang menarik mendorong masyarakat dan ASN untuk lebih memilih berjalan kaki atau bersepeda, sejalan dengan perencanaan tata kota yang mengutamakan mobilitas rendah emisi.
Vegetasi ini berkontribusi pada penurunan suhu mikro di kawasan jalan, membuat area pedestrian lebih nyaman dilalui.
Jalan-jalan lebar yang mulus, trotoar yang luas, serta taman-taman yang tertata rapi di seberang Istana menunjukkan komitmen pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang fungsional dan human-centric.
Berakhirnya fase konstruksi keras dan masuknya fase soft landscaping ini adalah langkah penting.
Bougainvillea adalah pembawa pesan bahwa di balik debu pembangunan, kehidupan kota sudah mulai bersemi.
Bagi publik, foto-foto bougainvillea ini meruntuhkan skeptisisme terhadap IKN sebagai proyek yang steril dan tanpa jiwa.
Pemandangan bougainvillea yang bermekaran ini hadir menjelang target operasional IKN sebagai Ibu Kota Politik pada tahun 2028.
Ketika Gedung DPR RI, Yudikatif, dan kantor-kantor pendukung lainnya rampung, kawasan ini akan dipenuhi oleh ASN dan para pembuat kebijakan.
Kesiapan lansekap hijau ini memastikan bahwa transisi fungsi pemerintahan akan terjadi di lingkungan yang sudah matang secara ekologis.
IKN tidak hanya membangun fisik pemerintahan, tetapi juga menanamkan budaya baru: budaya kerja yang terintegrasi dengan alam, berfokus pada keberlanjutan, dan merayakan keindahan domestik.
Pada akhirnya, kisah bougainvillea ungu di IKN adalah narasi tentang keseimbangan yang dicapai.
Ini adalah bukti visual bahwa pembangunan ambisius tidak harus bertentangan dengan lingkungan.
Bougainvillea yang sederhana namun memikat ini telah berhasil mencuri perhatian dan memberikan wajah yang lebih segar dan manusiawi pada Ibu Kota Nusantara.
https://ikn.kompas.com/read/2025/12/05/220000787/kembang-kertas-bermekaran-di-ibu-kota-nusantara