Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

IKN 2028: Laboratorium Masa Depan dan Cetak Biru Reindustrialisasi RI

Lebih dari itu, IKN adalah sebuah manifestasi ambisi besar bangsa Indonesia untuk menciptakan kota masa depan yang cerdas, hijau, dan inklusif.

Terletak strategis di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, IKN kini resmi menjadi laboratorium hidup bagi pembangunan perkotaan modern di tanah air.

Visi ini dipertegas oleh tokoh teknologi nasional, Ilham Akbar Habibie, yang menyatakan bahwa IKN adalah acuan mutlak bagi pembangunan kota-kota masa depan Indonesia.

Membangun kota dari nol atau greenfield project memberikan keleluasaan yang tidak dimiliki oleh kota-kota tua yang terbebani oleh masalah tata ruang kronis.

IKN menjadi referensi karena menerapkan standar yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.

Terdapat target net-zero carbon city, dengan rasio kawasan hijau yang mencapai 75 persen memastikan ekosistem hutan Kalimantan tetap terjaga.

Kemudian, smart mobility yang mengintegrasi transportasi umum berbasis listrik dan jalur pedestrian yang masif untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Dan terakhir, circular economy di mana pengelolaan air dan sampah secara mandiri yang akan menjadi standar baku baru bagi kota-kota di Indonesia lainnya ke depan.

Insinyur sebagai Aktor Utama Reindustrialisasi

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ilham Akbar Habibie, menekankan bahwa peran insinyur sangat krusial dalam pembangunan IKN.

Di era reindustrialisasi dan digitalisasi, IKN menjadi panggung pembuktian kemampuan teknis putra-putri bangsa.

"IKN adalah laboratorium bagi pembangunan di tempat-tempat lainnya ke depan. Peran insinyur sangat penting sebagai aktor utama pembangunan di era reindustrialisasi dan digitalisasi," ujar Ilham, dikutip Kompas.com, Senin (22/12/2025).

Kehadiran IKN memicu kebutuhan akan inovasi di bidang teknik sipil, teknologi informasi, hingga energi terbarukan.

Inilah yang menjadikan IKN bukan sekadar kota, melainkan pusat riset konstruksi terbesar di Asia Tenggara.

Mencetak Pemimpin Masa Depan

Otorita IKN menyadari bahwa keberlanjutan proyek ini ada di tangan generasi muda. Melalui program Mahasiswa Kaltim Goes to IKN 2025, kolaborasi antara Otorita IKN, Pemprov Kaltim, dan PII memperkuat peran mahasiswa lokal sebagai Insinyur Muda IKN.

Partisipasi dari berbagai institusi seperti Universitas Balikpapan, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, dan Politeknik Negeri Samarinda bertujuan untuk:

  • Transfer Teknologi: Mahasiswa dapat melihat langsung implementasi teknologi konstruksi terkini di lapangan.
  • Kepemimpinan Profesional: Menyiapkan mereka sebagai calon pemimpin yang akan mengoperasikan IKN di masa depan.
  • Keberpihakan Lokal: Memastikan masyarakat asli Kalimantan tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi motor penggerak pembangunan.

Roadmap 2028: Menuju Ibu Kota Politik yang Sah

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, mengungkapkan bahwa pembangunan IKN kini telah memasuki tahap strategis sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025.

Pada tahun 2028, IKN ditargetkan dapat berfungsi secara penuh sebagai Ibu Kota Politik Indonesia.

Penyiapan infrastruktur menuju 2028 mencakup penyelesaian kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP), gedung-gedung lembaga tinggi negara, hingga fasilitas diplomatik.

Secara hukum dan konstitusi, perpindahan pusat kekuasaan akan menjadi simbol kedaulatan Indonesia yang lebih sentris (Indonesia-sentris), bukan lagi sekadar Jawa-sentris.

https://ikn.kompas.com/read/2025/12/29/232619387/ikn-2028-laboratorium-masa-depan-dan-cetak-biru-reindustrialisasi-ri

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com