Salat Subuh berjamaah perdana digelar Masjid Negara IKN, dengan Menteri Agama (Menag) RI, KH Nasaruddin Umar, bertindak sebagai imam sekaligus khatib.
Peristiwa ini menjadi simbolisasi aktivasi dimensi spiritual di pusat saraf pemerintahan masa depan Indonesia.
Dalam khotbahnya, Menag membedah esensi Surat Al-Baqarah ayat 30. Pemilihan ayat ini sangatlah strategis dan relevan dalam konteks pembangunan IKN.
Ayat tersebut mengisahkan penunjukan manusia sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi.
Pesan ini menegaskan bahwa pembangunan IKN tidak boleh dipandang sebagai penaklukan terhadap alam, melainkan sebuah amanah untuk mengelola dan memakmurkan bumi.
Konsep khalifah dalam konteks IKN diterjemahkan sebagai kerja-kerja keberlanjutan yang menyelaraskan antara ketakwaan spiritual dengan tanggung jawab ekologis.
IKN, dalam sudut pandang ini, adalah laboratorium moral bagi manusia Indonesia dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya secara modern.
"Nah, dengan demikian kita akan lebih mempercepat aktivitas kantor kita di sini, karena ini adalah kebanggaan kita, makin cepat dilihat oleh dunia makin akan lebih bagus, insya Allah sesuai dengan harapan Bapak Presiden bahwa IKN ini nanti akan menjadi ikonik bangsa Indonesia yang sangat membanggakan," ujar Nasaruddin.
Dia tak menampik bahwa masih banyak masyarakat yang belum paham apa dan seperti apa IKN sekarang ini.
"Saya sendiri juga sangat yakin setelah melihat, menyaksikan dari dekat apa-apa yang telah disiapkan,” imbuhnya.
Nasaruddin pun akan mencoba bersama Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono, untuk memanfaatkan masjid yang dianggapnya tercantik di Indonesia ini, pada Ramadhan nanti.
"Kami akan mencoba, menjelang Presiden datang berkunjung ke tempat ini, jadi kami melihat juga sampai mana persiapan menjelang bulan suci Ramadan karena insya Allah bulan suci Ramadan yang akan datang kita sudah mulai aktif di penggunaan Masjid IKN (Masjid Negara),” lanjutnya.
Arsitektur Simbolik
Masjid Negara IKN bukan sekadar pencapaian teknik sipil, melainkan manifestasi kemegahan fungsional.
Dengan luas bangunan mencapai 76.647 meter persegi yang terbagi dalam empat lantai dan dua mezanin, masjid ini merupakan representasi arsitektur ikonik bangsa.
Masjid Negara saat ini mampu menampung 29.095 jamaah, dengan proyeksi perluasan hingga 60.000 jamaah.
Angka ini mencerminkan antisipasi pemerintah terhadap pertumbuhan demografis dan aktivitas sosial-spiritual di masa depan.
Inklusivitas
Salah satu poin paling krusial dari kunjungan ini adalah peninjauan terhadap kawasan peribadatan secara menyeluruh.
Kehadiran Basilika yang sedang dalam tahap penyelesaian, berdampingan dengan rencana pembangunan Gereja Kristen, Pura, dan Wihara, menunjukkan komitmen terhadap inklusivitas.
Pembangunan infrastruktur lintas iman di IKN adalah antitesis terhadap narasi eksklusivitas.
IKN sedang memposisikan diri sebagai ibu kota yang merefleksikan keragaman Indonesia secara mikrokosmos.
Integrasi fisik rumah-rumah ibadah ini adalah sebuah rekayasa sosial untuk menumbuhkan atmosfer keberagamaan yang damai, produktif, dan modern.
Percepatan Relokasi
Pernyataan Nasaruddin mengenai percepatan relokasi kantor Kementerian Agama menjadi sinyalemen kuat bagi publik tentang progresi IKN.
Sebagaimana ditegaskan oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, kesiapan operasional masjid ini adalah bagian dari kesiapan IKN sebagai pusat interaksi sosial dan kebudayaan.
"Makin cepat dilihat oleh dunia, makin akan lebih bagus. IKN akan menjadi ikonik bangsa Indonesia yang sangat membanggakan," tuntas Nasaruddin.
https://ikn.kompas.com/read/2026/01/11/132835187/perdana-salat-subuh-berjamaah-di-masjid-negara-ikn-menag-jadi-imam