Infrastruktur dasar telah berdiri tegak, konektivitas mulai terjalin, dan fasilitas publik mulai menampakkan fasad modernitasnya.
Namun, di tengah akselerasi pembangunan fisik yang masif, muncul sebuah diskursus mengenai esensi dan standar kualitas: apakah IKN akan berakhir sebagai kota administratif biasa, atau ia mampu bertransformasi menjadi mercu suar peradaban urban global yang berkelanjutan?
Guru Besar Planologi Universitas Diponegoro (Undip) sekaligus Dekan Cities and Local Government Institute (CLGI), Bambang Susantono, memberikan refleksi mendalam mengenai arah kemudi pembangunan ini.
Baginya, tantangan terbesar IKN bukan terletak pada kecepatan pembângunan fisik, melainkan pada konsistensi menjaga standar yang telah dicanangkan sejak awal.
IKN dirancang dengan standar yang jauh melampaui kota-kota lain di Indonesia, sebuah ambisi yang menuntut keteguhan visi agar tidak luruh menjadi sekadar replikasi kota konvensional.
"Tentu pertanyaan mendasarnya adalah apakah kota ini akan sekadar menjadi kota yang sama dengan yang lain? Atau akan berupaya mengikuti standar-standar yang sudah dicanangkan pada awalnya sehingga dapat menjadi kota referensi di Indonesia yang hijau, cerdas, namun tetap inklusif," ujar Bambang kepada Kompas.com, Selasa (20/1/2026).
Rentan Bencana
Salah satu tantangan paling nyata dalam mewujudkan konsep Forest City adalah kerentanan terhadap bencana alam, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bambang mengungkapkan bahwa isu ini telah menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Dalam kacamata planologi, luasnya area hijau yang mencapai 65 persen dari total wilayah IKN menuntut sebuah sistem ketahanan kota (city resiliency) yang komprehensif.
Implementasi kota hutan tidak boleh berhenti pada aspek estetika hijau semata. Bambang menekankan perlunya integrasi antara infrastruktur fisik (hardware) dan sistem digital (software).
Secara fisik, IKN memerlukan jaringan embung atau reservoir yang strategis, Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai area penyangga, serta peralatan pemadam kebakaran mutakhir.
Namun, semua itu akan pincang tanpa dukungan Smart Urban Fire Management, sebuah sistem cerdas yang mampu mendeteksi dan menanggulangi potensi api secara dini.
Terlebih lagi, di atas kecanggihan teknologi dan kemegahan infrastruktur, Bambang juga menegaskan bahwa keberlanjutan IKN bergantung sepenuhnya pada kesinergian tiga pilar utama: People, Nature, dan Culture.
Ketiganya merupakan fondasi eksistensial yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Tanpa integrasi manusia yang sadar akan lingkungan dan budaya yang merawat alam, visi kota hutan berisiko mengalami kegagalan struktural.
"Ini yang saya sering sebut bahwa IKN butuh tiga pilar utama: people, nature, dan culture. Kalau manusianya tidak sadar bencana dengan kultur yang melindungi dan merawat hutan, maka konsep forest city bisa bubar," tegas Bambang.
Proyek Kebudayaan
Pesan ini menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa pembangunan IKN adalah sebuah proyek kebudayaan, bukan sekadar proyek konstruksi.
Transformasi perilaku warga dan pengunjung untuk memiliki kesadaran mitigasi bencana menjadi kunci utama.
IKN diharapkan tidak hanya menjadi pusat gravitasi ekonomi baru, tetapi juga menjadi laboratorium hidup di mana manusia, alam, dan budaya berinteraksi dalam harmoni yang cerdas dan inklusif.
"Standar tinggi yang telah ditetapkan harus tetap menjadi kompas agar IKN benar-benar menjadi kota referensi masa depan, bukan sekadar catatan sejarah tentang pembangunan fisik yang kehilangan jiwanya," tuntas Bambang.
https://ikn.kompas.com/read/2026/01/21/232230087/guru-besar-undip-tanpa-kultur-merawat-forest-city-ikn-bisa-bubar