Gereja yang digadang-gadang menjadi simbol iman dan kemajemukan bangsa ini secara fisik telah mencapai progres 99 persen.
Namun, di balik megahnya arsitektur yang menelan anggaran Rp 704,9 miliar tersebut, ada satu hal yang tidak bisa diputuskan oleh linimasa proyek pemerintah yakni penyematan nama "Basilika".
Hingga saat ini, bangunan yang direncanakan bernama Gereja Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius tersebut masih menunggu "ketukan palu" dari Otoritas Kepausan di Vatikan.
Direktur Urusan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama, Salman Habeahan, menegaskan, status Basilika merupakan pengakuan khusus yang memiliki prosedur ketat dalam tata kelola Gereja Katolik universal.
Dalam tradisi Katolik, sebuah gereja tidak bisa begitu saja menamakan dirinya Basilika tanpa restu Takhta Suci.
“Status basilika belum ditetapkan secara resmi karena masih menunggu persetujuan dari Otoritas Kepausan di Vatikan. Ini merupakan prosedur yang lazim dan mutlak dalam hukum Gereja,” ujar Salman saat ditemui di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Pemerintah Indonesia, lanjut Salman, sepenuhnya menghormati mekanisme hierarkis tersebut.
Meskipun usulan nama telah bergulir sejak Juli 2024 melalui rekomendasi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), kajian di Vatikan melibatkan aspek yang jauh lebih dalam.
Kajian ini mulai dari nilai historis, peran pastoral, hingga kemegahan liturgisnya.
Kepatuhan pada Hukum Kanonik
Secara hierarkis, Uskup Agung Samarinda sebagai pimpinan diosesan setempat memegang peran sentral dalam mengajukan permohonan tersebut kepada Bapa Suci Paus Leo XIV.
Peninjauan oleh Vatikan biasanya memakan waktu karena kriteria untuk menjadi Basilica Minor sangat spesifik, termasuk bagaimana gereja tersebut menjadi pusat kehidupan liturgi dan pastoral di wilayahnya.
“Kita menghormati kedaulatan otoritas Vatikan dalam menetapkan status Basilica Minor bagi gereja di IKN ini,” tambah Salman.
Hal ini menegaskan, seberapa pun cepatnya pembangunan infrastruktur oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU), urusan otoritas spiritual tetap mengikuti ritme hukum kanonik yang telah berlaku berabad-abad.
Siluet Salib Raksasa
Lepas dari itu, bangunan ini menyimpan pesan teologis yang puitis. Pemilihan nama Santo Fransiskus Xaverius bukan tanpa alasan.
Sang santo adalah misionaris ulung yang melintasi batas budaya di Asia, selaras dengan visi IKN sebagai titik temu keberagaman.
Secara arsitektural, gereja berkapasitas 2.500 umat ini dirancang untuk "berbicara" melalui estetikanya.
Pada malam hari, sistem pencahayaan pada atap gereja akan membentuk siluet salib raksasa yang terlihat dari kejauhan, seolah menjadi mercusuar iman di tengah hutan Kalimantan.
Konsultan Desain Sarana Kompleks Basilika, Rm. Mikael Adi Siswanto, mengungkapkan, setiap elemen interior, mulai dari meja altar hingga relief, merupakan buah karya seniman lokal yang dikerjakan dengan pendalaman teologis serius.
"Setiap unsur dirancang selaras dengan norma Gereja universal namun tetap berakar pada kekayaan seni Nusantara," ungkap Rm. Mikael.
Saat ini, fokus pekerjaan di lapangan menyisakan penyempurnaan interior dan penataan lanskap.
Jika proses di Vatikan berjalan selaras dengan linimasa pemerintah, Misa Syukur Peresmian dan Dedikasi Gereja dijadwalkan akan digelar pada akhir Juli 2026.
https://ikn.kompas.com/read/2026/02/24/043000987/fisik-sudah-99-persen-nasib-basilika-ikn-kini-di-tangan-paus-leo-xiv