Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Proyek Kota Terpadu Ciputra di IKN Tunggu Infrastruktur Terbangun

Angka tersebut didominasi investasi swasta murni, dengan total nilai Rp 60,29 triliun.

PT Ciputra Development Tbk (Ciputra Group), salah satunya, yang akan mengembangkan perumahan skala kota terpadu di atas lahan seluas 300 hektar.

Lantas, bagaimana kelanjutan proyek tersebut?

Sebagaimana diketahui, kesiapan konglomerat properti ini telah disampaikan sebelumnya oleh Managing Director PT Ciputra Development Tbk, Budiarsa Sastrawinata, di hadapan Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo, dalam acara “Pre-Market Sounding Proyek IKN” di Jakarta, Selasa (18/10/2022).

Melalui PT Citra Kotabaru Nusantara, Ciputra Group akan membangun kawasan yang mengintegrasikan perumahan, hotel, lapangan golf, fasilitas Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition (MICE) dan botanical garden.

Komitmen ini dilanjutkan dalam bentuk Penandatanganan Kesepakatan Kerja Sama antara PT Citra Kotabaru Nusantara dengan PT Bina Karya (Persero) terkait Pengembangan Kawasan Terpadu di Kantor Pusat Ciputra Group, Ciputra World 1 Jakarta, pada Kamis (06/07/2023).

“Penandatanganan ini merupakan milestone yang sangat berarti bagi kami. Karena akhirnya kami bisa menindaklanjuti konsep pengembangan yang sudah lama kami siapkan untuk diimplementasikan di IKN,” ungkap Budiarsa.

Namun, hingga saat ini, Director Ciputra Group, Agussurja Widjaja, mengungkapkan, proyek jumbo tersebut belum dimulai.

"Di IKN, memang beberapa tahun yang lampau kita pernah mengajukan proposal kepada pemerintah, tapi proposal kami itu di area tahap kedua. Tepatnya, berada di Wilayah Perencanaan (WP) 2 atau WP IKN Barat yang infrastrukturnya itu belum sampai ke sana," kata Agus dalam paparan publik di Jakarta Selatan, Jumat (26/06/2026).

Agussurja menerangkan, WP IKN Barat ini merupakan bagian dari pembangunan jangka panjang, sehingga memang infrastrukturnya belum dibangun. Oleh karena itulah, realisasi kota terpadu ini juga belum dimulai.

"Jadi waktu kami mengajukan, dan akan mulai membangun kalau infrastrukturnya sudah siap. Dan sampai sekarang karena infrastrukturnya belum sampai ke sana, jadi proyek tersebut belum dimulai," jelasnya.

Selain membangun perumahan skala kota terpadu, berdasarkan catatan Kompas.com, Ciputra Group juga berkomitmen membangun 10 tower rusun Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 20 rumah tapak yang berada di bawah naungan Sub Holding 2. 

Rusun dengan skema pendanaan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) ini merupakan bagian dari total 166 tower rusun dan 159 rumah tapak.

Terkait hal ini, Director Ciputra Group, Harun Hajadi, proyek ini masuk dalam wilayah yang pengembangan infrastrukturnya sudah siap.

"Kalau proyek KPBU, infrastrukturnya memang sudah siap," imbuh Harun.

Selain Ciputra Group, badan usaha lain yang terlibat antara lain PT Summarecon Agung Tbk dengan 6 tower, PT Perintis Triniti Properti Tbk 8 tower, PT Nindya Karya 8 tower, PT Intiland Development Tbk 109 tower, serta Rockfields.

Kemudian badan usaha luar negeri, meliputi Citic Construction dari China yang tergabung dalam Konsorsium Nusantara bersama dengan PT Risjadson Brunsfield Nusantara dengan 60 tower rusun untuk pegawai Kementerian Pertahanan dan Keamanan (Hankam), Maxim dari Malaysia 10 tower, dan IJM dari Malaysia 20 tower.

Adapun total nilai investasi dari proyek jumbo tersebut masih fluktuatif, namun diperkirakan belanja modalnya akan mencapai lebih kurang Rp 50 triliun.

https://ikn.kompas.com/read/2026/06/26/220910887/proyek-kota-terpadu-ciputra-di-ikn-tunggu-infrastruktur-terbangun

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com