Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Pusat Finansial Internasional IKN Ditolak Purbaya, Otorita Ogah Komentar

Argumentasi penolakan didasarkan pada realitas sosiologis dan aktivitas kawasan yang dinilai belum memadai untuk ekosistem keuangan global.

"Mungkin enggak, (IKN) terlalu sepi," ujar Purbaya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Merespons penolakan tegas dari bendahara negara tersebut, Otorita IKN memilih untuk tidak memberikan pernyataan resmi.

Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik Otorita IKN, Troy Pantouw, enggan berkomentar lebih jauh mengenai masa depan insentif investasi finansial yang sebelumnya digadang-gadang akan menjadi motor penggerak ekonomi di ibu kota baru tersebut.

"Tidak ada tanggapan dari kami," tegas Troy kepada Kompas.com, Jumat (3/7/2026).

Bali Jadi Alternatif, Kejar Investor Timur Tengah

Pemerintah kini mengalihkan pandangan ke wilayah lain yang dianggap memiliki kesiapan infrastruktur sosial dan daya tarik internasional lebih matang.

Purbaya menyampaikan, penentuan titik lokasi masih berada dalam tahap pembahasan intensif, dengan Provinsi Bali muncul sebagai kandidat kuat.

"Ada alternatif ya mungkin beberapa di Bali, tapi mungkin ada beberapa titik juga," kata Purbaya.

Ia menambahkan bahwa fokus utama pemerintah adalah mencari lokasi yang paling nyaman (comfortable) bagi investor internasional.

Gagasan pemindahan pusat finansial ke Bali sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Rencana pembentukan Special Financial Center ini awalnya diusulkan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan beberapa tahun lalu, dengan menunjuk Bali sebagai lokasi strategis.

Dinamika geopolitik global menjadi katalis utama kebijakan ini. Presiden Prabowo mengidentifikasi adanya pergeseran modal besar-besaran dari kawasan yang tidak stabil.

Sejak konflik Rusia-Ukraina pecah pada tahun 2022, Bali telah menjadi destinasi migrasi bagi warga dan modal dari kedua negara tersebut.

Momentum ini yang ingin direplikasi untuk menjaring likuiditas dari Timur Tengah yang mencari suaka investasi aman di luar zona konflik.

Hambatan Realitas di Lapangan

Lepas dari penolakan Purbaya, pembangunan infrastruktur IKN terus berjalan dengan kemajuan fisik signifikan.

Proyek Jalan Tol Segmen 5B yang menghubungkan Jembatan Pulau Balang–Simpang Riko, telah menembus angka 96 persen.

Di sektor pendidikan, SMA Taruna Nusantara yang siap operasional pada tahun ajaran 2026/2027, menjadi daya tarik tersendiri.

Selain itu, pembangunan kawasan Kompleks Legislatif dan Yudikatif juga terus berlanjut sesuai arahan Presiden Prabowo, dengan target penyelesaian pada 2027–2028.

Proyek ini mencakup pembangunan gedung-gedung utama lembaga negara sekaligus infrastruktur pendukung dan jalan kawasan.

Pada kawasan legislatif, pembangunan direncanakan meliputi lima gedung utama, yakni Gedung Paripurna, Gedung DPR, Gedung DPD, dan Gedung MPR.

Gedung Paripurna akan menjadi pusat kegiatan dengan kapasitas hingga 1.579 orang. Saat ini, proses penyempurnaan desain tengah menunggu persetujuan Presiden.

Pembangunan jalan kawasan sepanjang 3,7 km juga tengah disiapkan untuk mendukung konektivitas antarbangunan. Tahapan awal berupa pembersihan lahan telah dilaksanakan.

Pada pembangunan kawasan yudikatif dibagi dalam dua paket pekerjaan. Paket pertama mencakup pembangunan Gedung Mahkamah Agung beserta kawasan pendukung dan Plaza Keadilan.

Paket kedua meliputi pembangunan Gedung Mahkamah Konstitusi, kawasan yudisial, serta masjid. Seluruh area ini dilengkapi dengan pembangunan jalan kawasan sepanjang 8 km.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa pembangunan kedua kawasan tersebut tetap menjadi prioritas meskipun terdapat kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini tengah berlangsung.

“Pembangunan kompleks lembaga yudikatif dan legislatif tidak termasuk dalam efisiensi. Pembangunan tetap berjalan, jadi tidak perlu ragu,” ucap Basuki, dikutip Kompas.com, Jumat (3/7/2026).

Penguatan infrastruktur air juga terus dilakukan melalui pembangunan embung dan kolam retensi diantaranya embung EC-08 dan kolam retensi TR01.

Jaringan perpipaan air minum tengah dibangun dan akan terintegrasi melalui Multi-Utility Tunnel (MUT) untuk mendukung kawasan di KIPP IKN.

https://ikn.kompas.com/read/2026/07/03/224447887/pusat-finansial-internasional-ikn-ditolak-purbaya-otorita-ogah-komentar

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar