Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IKN Bisa Tiru Sejong, Ibu Kota Kedua Korsel yang Dihuni 300.000 Orang

Kompas.com, 6 Maret 2024, 16:06 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Pemerintah dan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bisa meniru praktik baik atau best practice dari Sejong City, Korea Selatan (Korsel).

Sejong City merupakan ibu kota definitif kedua Koresel yang dibangun sejak 2007 silam. Kota ini telah mengalami perkembangan luar biasa dan sangat signifikan. 

Pembangunan infrastruktur terjadi demikian masif dengan mengusung konsep smart and green building yang berbasis teknologi canggih.

Baca juga: Amerika Serikat Dilibatkan dalam Lokakarya Sistem Pengadaan IKN

Megaproyek Sejong City menempati lahan seluas 7.000 hektar yang dibangun untuk mengurai kepadatan di Ibu Kota Seoul.

Mengutip data Korea National Agency for Administrative City Construction (NAACC) per akhir 2023 lalu, Sejong City telah menyedot anggaran 130 miliar dollar AS (ekuivalen Rp 2.041 triliun) atau setara 81 persen dari total investasi yang direncanakan yakni 170 miliar dollar AS (Rp 2.700 triliun) .

Sudut Kota Sejong di Korea Selatan.SHUTTERSTOCK/STOCK FOR YOU Sudut Kota Sejong di Korea Selatan.
Anggaran tersebut digunakan untuk pembangunan 127.000 unit rumah dari total 200.000 hunian atau setara 64 persen.

Kini, Sejong City dihuni 303.289 penduduk atau 60 persen dari total populasi yang direncanakan.

Penghuni tersebut merupakan pekerja di 44 instansi pemerintahan serta 16 lembaga riset yang didanai oleh negara.

Baca juga: OIKN Gelar Market Briefing untuk Calon Investor Nusantara

Direktur Jenderal Perencanaan dan Pengembangan Korea NAACC Hyungwook Choi menuturkan, tahapan pembangunan Kota Sejong kini sudah memasuki tahun ke-17 dari total 23 tahun yang direncanakan.

Pengembangan Kota Sejong merupakan kolaborasi sejumlah institusi. Proyek kota baru ini mendapat dukungan sepenuhnya dari lembaga Komite Administrasi Kota, kebijakan pemerintah, Ministry of Interior and Safety (MoIS), dan Pemerintah Kota Sejong.

Pemandangan Danau Sejong di Korea Selatan.SITUS PEMERINTAH KOTA SEJONG Pemandangan Danau Sejong di Korea Selatan.
“Selain NAACC, pengembangan Kota Sejong juga melibatkan Komite Konstruksi Kota Administratif, dan Korea Land and Housing Corporation,” papar Choi dalam keterangannya kepada Kompas.com, Rabu (6/3/2024).

Karena keberhasilan inilah yang menarik perhatian asosiasi perusahaan pengembang properti REI DKI Jakarta untuk melakukan studi banding beberapa waktu lalu.

Ketua DPD REI DKI Arfin F Iskandar mengatakan, pihaknya terbang ke Korea Selatan untuk belajar pembangunan Kota Sejong.

Baca juga: Ketika Para Pemimpin Daerah Mendapat Tempat di Sisi Jokowi

Dalam waktu singkat Sejong City telah memiliki bangunan megah dengan teknologi canggih, smart and green building.

"Bagaimana mereka mengembangkan smart building, massive building dengan area terbuka seluas 60 persen," kata Arvin.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau