Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Influencer yang Diajak Jokowi Tinjau IKN Tak Bisa Membedakan Kantor Presiden dan Istana Negara

Kompas.com, 29 Juli 2024, 11:31 WIB
Add on Google
Aisyah Sekar Ayu Maharani,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

Selain itu, bangunan juga didesain tanggap iklim dan meminimalisasi perubahan terhadap bentuk dan kondisi topografi tapak.

Lantai bangunan Istana Negara dilapisi marmer, parket, dan homogenous tile (HT). Dan khusus lantai lobi, dilapisi marmer hijau Juparana.

Marmer pelapis lantai yang digunakan merupakan produksi lokal, didatangkan langsung dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara dindingnya merupakan beton 20 sentimeter yang dilapisi kayu ukiran hasil karya seniman dari Pulau Jawa dan Bali dengan craftmanship tinggi, kemudian sebagian dinding lainnya dilapisi anyaman pisang, HT, marmer, granit, dan labradorite.

Berlanjut ke plafon Istana Negara yang terbuat dari gypsum, kayu solid, veneer, ukiran kayu dan tembaga.

Sedangkan sebagian pintu-pintu di bangunan Istana Negara bermaterialkan kayu jati solid, sebagian lagi merupakan pintu anti peluru, dan pintu besi.

IKN disambangi influencer Kota Jakarta

Presiden Jokowi mengundang sejumlah influencer atau persona asal Kota Jakarta untuk bermalam di IKN pada Minggu (28/7/2024).

Sayangnya, mereka yang merupakan perwakilan generasi muda Indonesia juga masih salah dalam penyebutan nama gedung berbentuk garuda raksasa tersebut.

Seperti halnya Irwansyah dan isterinya, Zaskia Sungkar yang menyebut gedung garuda itu dengan nama Istana.

"Istananya, garuda ya," ujar Irwansyah saat ikut menambahkan testimoni yang diberikan isterinya, dikutip dari video Youtube Sekretariat Presiden.

Sementara Zaskia Sungkar membagikan pengalamannya saat merasa berkunjung ke IKN seperti masuk ke dunia lain.

"Benar-benar experience, walaupun padat ya satu hari ini tapi kita semua aku rasa sepakat happy banget dan terutama begitu sampai di IKN kayak masuk dunia lain, keren banget, aku enggak nyangka progresnya sudah sampai tahap ini, benar-benar sudah kelihatan kemegahannya, arsitekturnya keren, alamnya juga cantik, danaunya juga itu bagus banget, dan Istananya juga megah banget, futuristik tapi tetapi culture dan heritage Indonesia itu tetap dipertahankan," ucap Zaskia.

Begitu pula dengan Atta Halilintar yang menyebut Istana Negara IKN Instagramable, sehingga dirinya ingin berfoto di sana.

"Istananya juga unik gitu ya, yang menurutku Instagramable banget jadi kalau ke sini kayak pengin foto aja gitu sama Istana," kata Atta.

Sedangkan Raffi Ahmad mengatakan bahwa ibu kota negara baru tersebut merupakan proyek yang prestisius.

"Untuk menjalankan suatu pemerintahan untuk kepala negara beserta jajarannya ada di sini, ini merupakan suatu prestisius juga, kalau misal tamu-tamu luar negeri datang ke Indonesia tahu bahwa Indonesia itu indah sekali," cetus Raffi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau