Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Peter Yogan Gandakusuma
Pengamat Perkotaan

Peter Yogan Gandakusuma meraih gelar Master of Science Regional Planning dari The University of Sheffield, South Yorkshire, Inggris. Bersama sejumlah kolega, Peter tengah mengembangkan Center for Sustainable Development Studies (CSDS) Universitas Indonesia. CSDS merupakan pusat riset dan bagian dari Center for Strategic and Global Studies (CSGS), Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

Memahami Polemik Istana Garuda di IKN, Sebuah Karya Ilegal? (II)

Kompas.com, 26 Agustus 2024, 12:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Relativisme estetika menyebutkan gagasan tentang keindahan bersifat relatif terhadap perbedaan persepsi dan pertimbangan. Dan secara intrinsik, keindahan itu tidak memiliki kebenaran atau validitas absolut.

Estetika dan keindahan diposisikan sebagai dua hal berbeda akibat keputusan yang bersifat mendasar/intrinsik dan muncul dari dalam kejiwaan atau mental/psyche seseorang atau sekelompok orang yang bersepakat atas kehadiran estetika tadi.

Baca juga: Masyarakat Umum Dilarang Masuki Area IKN hingga Akhir September

Vitruvius juga menegaskan bahwa figur manusia adalah sumber utama proporsi arsitektur. Ia menyiratkan simbol simetri esensial tubuh manusia, dan sebagai perluasan, alam semesta secara keseluruhan.

Pemikiran Vitruvius sangat berpengaruh pada arsitektur dan peran seorang arsitek hingga kini. 

Bahkan kelak Leonardo da Vinci membuat ilustrasi Vitruvian Man ketika ia memahami deskripsi tulisan-tulisan Vitruvius tentang tubuh manusia yang menggambarkan lingkaran dan persegi sebagai bagian geometri dan proporsi tubuh manusia tak terpisahkan terhadap spasialitas/keruangan arsitektur.

Dalam studi kasus Istana Garuda, skala manusia ‘dibongkar’ dan tampilannya diganti dengan skala raksasa untuk visualisasi yang lebih monumental.

Dengan demikian, perdebatan estetika Istana Garuda di IKN akan terkait dengan keputusan estetis dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memutuskan karya Nyoman Nuarta sebagai perancangnya usai memenangi sayembara desain yang diadakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) pada 2021.

Pada laman Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), organisasi ini mendorong mekanisme sayembara perancangan arsitektur sebagai salah satu mekanisme pengadaan barang atau jasa yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2018 terutama jika terkait arsitektur gedung-gedung negara.

Klarifikasi transparan

Jika memang Istana Garuda ini adalah sebuah hasil sayembara terbuka atau terbatas sekalipun, masih terdapat kejanggalan narasi.

Apa itu? Yakni bagaimana mungkin karya perancangan sebuah gedung Istana Garuda lolos seleksi mengingat Arsitek Utama bukan pemegang lisensi praktik dan polemik estetika bentuk dipermasalahkan kemudian?

Dalam hal ini sebaiknya Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menjelaskan dan memberikan klarifikasi yang transparan.

Sejatinya, perdebatan atas kritik estetika bentuk bisa diakhiri.

Dalam konteks kritik arsitektur, salah satu bangunan keagamaan yang paling dihormati pada masa Brutalis adalah Gereja Ziarah karya almarhum arsitek Gottfried Böhm di Neviges.

Bangunan menyerupai kristal ini meninggalkan pesona arsitektur gereja Katolik tradisional demi sekadar sudut-sudut tajam.

Gereja ini juga terlihat seperti bongkahan batu dan beton yang kasar serta terlalu tebal di mata awam.

Baca juga: IKN Terkini: Pembangunan Fisik 50,4 Persen dari 108 Paket

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau