
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Relativisme estetika menyebutkan gagasan tentang keindahan bersifat relatif terhadap perbedaan persepsi dan pertimbangan. Dan secara intrinsik, keindahan itu tidak memiliki kebenaran atau validitas absolut.
Estetika dan keindahan diposisikan sebagai dua hal berbeda akibat keputusan yang bersifat mendasar/intrinsik dan muncul dari dalam kejiwaan atau mental/psyche seseorang atau sekelompok orang yang bersepakat atas kehadiran estetika tadi.
Baca juga: Masyarakat Umum Dilarang Masuki Area IKN hingga Akhir September
Vitruvius juga menegaskan bahwa figur manusia adalah sumber utama proporsi arsitektur. Ia menyiratkan simbol simetri esensial tubuh manusia, dan sebagai perluasan, alam semesta secara keseluruhan.
Pemikiran Vitruvius sangat berpengaruh pada arsitektur dan peran seorang arsitek hingga kini.
Bahkan kelak Leonardo da Vinci membuat ilustrasi Vitruvian Man ketika ia memahami deskripsi tulisan-tulisan Vitruvius tentang tubuh manusia yang menggambarkan lingkaran dan persegi sebagai bagian geometri dan proporsi tubuh manusia tak terpisahkan terhadap spasialitas/keruangan arsitektur.
Dalam studi kasus Istana Garuda, skala manusia ‘dibongkar’ dan tampilannya diganti dengan skala raksasa untuk visualisasi yang lebih monumental.
Dengan demikian, perdebatan estetika Istana Garuda di IKN akan terkait dengan keputusan estetis dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memutuskan karya Nyoman Nuarta sebagai perancangnya usai memenangi sayembara desain yang diadakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) pada 2021.
Pada laman Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), organisasi ini mendorong mekanisme sayembara perancangan arsitektur sebagai salah satu mekanisme pengadaan barang atau jasa yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 16 Tahun 2018 terutama jika terkait arsitektur gedung-gedung negara.
Jika memang Istana Garuda ini adalah sebuah hasil sayembara terbuka atau terbatas sekalipun, masih terdapat kejanggalan narasi.
Apa itu? Yakni bagaimana mungkin karya perancangan sebuah gedung Istana Garuda lolos seleksi mengingat Arsitek Utama bukan pemegang lisensi praktik dan polemik estetika bentuk dipermasalahkan kemudian?
Dalam hal ini sebaiknya Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menjelaskan dan memberikan klarifikasi yang transparan.
Sejatinya, perdebatan atas kritik estetika bentuk bisa diakhiri.
Dalam konteks kritik arsitektur, salah satu bangunan keagamaan yang paling dihormati pada masa Brutalis adalah Gereja Ziarah karya almarhum arsitek Gottfried Böhm di Neviges.
Bangunan menyerupai kristal ini meninggalkan pesona arsitektur gereja Katolik tradisional demi sekadar sudut-sudut tajam.
Gereja ini juga terlihat seperti bongkahan batu dan beton yang kasar serta terlalu tebal di mata awam.
Baca juga: IKN Terkini: Pembangunan Fisik 50,4 Persen dari 108 Paket