
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Meski demikian, kritikus menilainya sebagai karya arsitektur yang sangat puitis. Namun setajam apapun penilaian kritikus, ahli teori dan sejarawan arsitektur di mata awam bangunan dengan fungsi gereja ini tetap dianggap aneh, terlalu tebal dan jelek.
Estetika menjadi sangat relatif karena lekat dengan bias budaya, nilai peradaban dan konteks.
Sementara itu, langgam Brutalis arsitektur juga acapkali dianggap sebagai modern error atau penyimpangan di masa kebangkitan arsitektur modern.
Bahkan, sempat mendapat label concrete monstrosities atau arsitektur beton monster dari kritikus arsitektur.
Sebagian kritikus menganggapnya tidak menarik karena penampilannya yang “dingin”, tebal dan gigantik seraya memproyeksikan nuansa totalitarianisme juga diasosiasikan sebagai bangunan yang merusak wajah perkotaan.
Almarhum Peter Reyner Banham, seorang kritikus asal Inggris ternama juga mengaitkan langgam Brutalis sebagai suatu gerakan arsitektur dan mengajukan frasa Prancis béton brut atau ‘beton mentah’ dan art brut ‘seni mentah’ ketika bangunan baru pasca Perang Dunia II ini banyak bermunculan di Inggris.
Langgam ini kelak diadopsi oleh arsitek Eropa Timur dan bangunan beton dianggap menegaskan kesetaraan sosial terutama oleh negara-negara Eropa Timur yang saat itu didominasi paham sosialisme, komunisme dan totalitarianisme.
Sebagai pengetahuan arsitektur itu netral, tetapi sebagai bangunan yang hadir ia tidak bebas nilai.
Suka atau tidak, karya arsitektur atau bangunan pemerintahan akan terkait dengan keputusan politik dan lekat dengan ideologi negara.
Dalam hal ini Istana Garuda memang dimaksudkan merefleksikan semangat dari ideologi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika oleh sang perancangnya.
Bentuk Istana Garuda memang gigantik juga terlihat masif. Meski tidak didominasi beton dan tentu tidak termasuk dalam langgam Brutalis arsitektur, namun jelas karya ini merupakan hasil keputusan politik seorang presiden.
Di sisi lain, kritik atas karya dapat ditinjau dari pencapaian kualitas teknis (baca: value engineering) Istana Garuda di IKN.
Baca juga: Uji Terbang Sky Taxi IKN Buatan Hyundai Sukses, Take Off dan Landing Mulus
Misalnya dengan menakar pencapaian teknologi, sistem kontruksi, performa gedung, efektivitas/efisiensi biaya bangun, atau ketanggapan bangunan atas pencapaian low carbon emission.
Mungkin hal tersebut bisa dilakukan setelah bangunan ini paripurna terbangun sebagai tanggung jawab evaluasi bangunan.
Sebagai penutup, Istana Garuda di daerah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur ini dibangun di atas lahan 100 hektare.