Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Peter Yogan Gandakusuma
Pengamat Perkotaan

Peter Yogan Gandakusuma meraih gelar Master of Science Regional Planning dari The University of Sheffield, South Yorkshire, Inggris. Bersama sejumlah kolega, Peter tengah mengembangkan Center for Sustainable Development Studies (CSDS) Universitas Indonesia. CSDS merupakan pusat riset dan bagian dari Center for Strategic and Global Studies (CSGS), Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.

Memahami Polemik Istana Garuda di IKN, Sebuah Karya Ilegal? (II)

Kompas.com, 26 Agustus 2024, 12:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Meski demikian, kritikus menilainya sebagai karya arsitektur yang sangat puitis. Namun setajam apapun penilaian kritikus, ahli teori dan sejarawan arsitektur di mata awam bangunan dengan fungsi gereja ini tetap dianggap aneh, terlalu tebal dan jelek.

Estetika menjadi sangat relatif karena lekat dengan bias budaya, nilai peradaban dan konteks.

Sementara itu, langgam Brutalis arsitektur juga acapkali dianggap sebagai modern error atau penyimpangan di masa kebangkitan arsitektur modern.

Bahkan, sempat mendapat label concrete monstrosities atau arsitektur beton monster dari kritikus arsitektur.

Sebagian kritikus menganggapnya tidak menarik karena penampilannya yang “dingin”, tebal dan gigantik seraya memproyeksikan nuansa totalitarianisme juga diasosiasikan sebagai bangunan yang merusak wajah perkotaan.

Almarhum Peter Reyner Banham, seorang kritikus asal Inggris ternama juga mengaitkan langgam Brutalis sebagai suatu gerakan arsitektur dan mengajukan frasa Prancis béton brut atau ‘beton mentah’ dan art brut ‘seni mentah’ ketika bangunan baru pasca Perang Dunia II ini banyak bermunculan di Inggris.

Langgam ini kelak diadopsi oleh arsitek Eropa Timur dan bangunan beton dianggap menegaskan kesetaraan sosial terutama oleh negara-negara Eropa Timur yang saat itu didominasi paham sosialisme, komunisme dan totalitarianisme.

Sebagai pengetahuan arsitektur itu netral, tetapi sebagai bangunan yang hadir ia tidak bebas nilai.

Suka atau tidak, karya arsitektur atau bangunan pemerintahan akan terkait dengan keputusan politik dan lekat dengan ideologi negara.

Dalam hal ini Istana Garuda memang dimaksudkan merefleksikan semangat dari ideologi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika oleh sang perancangnya.

Bentuk Istana Garuda memang gigantik juga terlihat masif. Meski tidak didominasi beton dan tentu tidak termasuk dalam langgam Brutalis arsitektur, namun jelas karya ini merupakan hasil keputusan politik seorang presiden.

Di sisi lain, kritik atas karya dapat ditinjau dari pencapaian kualitas teknis (baca: value engineering) Istana Garuda di IKN.

Baca juga: Uji Terbang Sky Taxi IKN Buatan Hyundai Sukses, Take Off dan Landing Mulus

Misalnya dengan menakar pencapaian teknologi, sistem kontruksi, performa gedung, efektivitas/efisiensi biaya bangun, atau ketanggapan bangunan atas pencapaian low carbon emission.

Mungkin hal tersebut bisa dilakukan setelah bangunan ini paripurna terbangun sebagai tanggung jawab evaluasi bangunan.

Sebagai penutup, Istana Garuda di daerah Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur ini dibangun di atas lahan 100 hektare.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau