Penulis
Sama dengan Kota Balikpapan, IHK Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada bulan September 2024 juga mengalami inflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan, setelah mengalami deflasi tiga bulan berturut-turut dari Juni hingga Agustus 2024.
Sementara secara tahunan, inflasi IHK Kabupaten PPU adalah sebesar 1,73 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (1,84 persen) dan inflasi gabungan empat Kota di Provinsi Kalimantan Timur (2,16 persen).
Baca juga: Balikpapan Fest 2024 Digelar, Bidik 20.000 Pengunjung dan Revenue Rp 4 Miliar
Penyumbang terbesar inflasi bulanan di Kabupaten PPU terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil sebesar 0,23 persen.
Berdasarkan komoditas, penyumbang inflasi tertingginya yaitu ikan layang, kacang panjang, bayam, jagung manis, dan jeruk.
Kenaikan harga ikan layang dikarenakan pasokan yang menurun akibat cuaca dan angin yang kencang sehingga membatasi aktivitas nelayan.
Untuk komoditas kacang panjang dan bayam terdapat kenaikan harga disebakan oleh pasokan yang menurun akibat curah hujan yang tinggi sehingga menurunkan produksi.
Adapun kenaikan harga pada jagung manis dan jeruk dikarenakan adanya kenaikan harga dari distributor.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi menuturkan, tingkat inflasi yang berada dalam level yang terjaga tersebut tidak terlepas dari sinergi yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Balikpapan, Kabupaten PPU, dan Kabupaten Paser.
Baca juga: Rabu Ini, Iriana Jokowi Sosialisasikan Moderasi Beragama Sejak Dini di Balikpapan
"Sinergi ini mendorong berbagai bauran kebijakan termasuk sinergi dengan berbagai instansi, termasuk Bank Indonesia," ujar Robi, Kamis (3/10/2024).
Kembalinya IHK Kota Balikpapan dan Kabupaten PPU ke level inflasi yang terjaga tersebut menjawab adanya kekhawatiran mengenai penurunan daya beli masyarakat.
Hal ini selaras dengan hasil survei Konsumen di Kota Balikpapan yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan pada September 2024, level keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini mengalami peningkatan dibandingkan bulan Agustus 2024.
"Peningkatan tersebut didorong oleh penguatan optimisme konsumen terhadap penghasilan saat ini dan ketersediaan lapangan kerja," tuntas Robi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang