Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 18 Oktober 2024, 12:10 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Dua hari lagi, Joko Widodo (Jokowi) secara resmi akan menanggalkan jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Selama satu dekade pemerintahannya 2014-2024, Jokowi dianggap telah mengukir sejarah baru melalui pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di antara sejumlah paket pembangunan IKN dengan konsep smart forest city, ada tiga proyek yang menonjol dan mendukung keberlanjutan.

Baca juga: Ini Potensi Opsen Pajak yang Bisa Dipungut di IKN

Pertama adalah Miniatur Hutan Hujan Tropis yang merupakan laboratorium hidup atau living lab dalam melahirkan dan mengembangkan inovasi-inovasi untuk melakukan reforestasi pada berbagai area yang dilindungi di Nusantara.

Kemudian pada Bulan Juni 2024 lalu, Jokowi juga meresmikan Persemaian Mentawir yang digagas oleh Kementerian LHK.

Persemaian ini merupakan langkah penting dalam upaya pemerintah melakukan rehabilitasi hutan dan penanaman kembali di wilayah IKN.

Ketiga, IKN juga memiliki kawasan Wanagama Nusantara yang berada di Zona Rimba Kota B, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).

Jokowi hadir mencanangkan dan menandatangani kayu ulin sebagai bentuk dukungan simbolis dalam rangka mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan di Kalimantan.

IKN sendiri dirancang sebagai kota hijau dan berkelanjutan. Berbagai kajian awal, kerja sama, dan groundbreaking telah dilaksanakan.

"IKN adalah kota hijau layak huni (liveable) dan loveable, sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs)," ujar Jokowi.

Baca juga: Penjualan Kendaraan Bermotor Kaltim Melesat 100 Persen Sejak Ada IKN

Dia juga menegaskan dalam berbagai kesempatan bahwa SDGs harus menjadi fokus pembangunan nasional, termasuk IKN.

Dalam pidato pembukanya pada Joint Leaders’ Session of High Level Forum on Multi Stakeholders Partnership (HLF MSP) dan Indonesia–Africa Forum (IAF) Ke-2 Tahun 2024, Jokowi mengatakan, pencapaian target SDGs harus tetap menjadi fokus utama.

"Pembangunan regional, dan nasional harus diselaraskan dengan prioritas pembangunan global. Termasuk agenda 2063 Afrika dan didukung kemitraan multipihak," ucapnya.

Salah satu strateginya adalah pelaksanaan Pembahasan Konsep Awal Evaluasi Sukarela di Tingkat Lokal atau Voluntary Local Review (VLR) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) IKN Tahun 2024.

Melalui VLR ini, diharapkan kita dapat mengukur kontribusi pembangunan IKN yang didasarkan pada 17 goals SDGs.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau