Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) optimistis ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) tetap tumbuh positif, berada pada kisaran angka 6 persen.
Kepala BI Perwakilan Kaltim Budi Widihartanto mengungkapkan optimisme tersebut mengacu pada catatan Triwulan I-III Tahun 2024 yang berada di atas 5 persen.
Sejumlah indikator Lapangan Usaha (LU) utama mendorong munculnya optimisme tersebut. Seperti sektor pertambangan yang masih tumbuh cukup kuat pada akhir tahun 2024.
Bahkan, secara lebih dalam, beberapa indikator yang membuat pertumbuhan sektor pertambangan masih kuat di antaranya adalah permintaan batu bara global dan domestik yang masih relatif tinggi sepanjang tahun 2024.
Baca juga: BI Rekomendasikan Pemprov Kaltim Genjot Ekonomi Hijau dan Biru
Pertumbuhan sektor pertambangan semakin kuat pada akhir tahun seiring kebutuhan negara mitra dagang yang meningkat karena datangnya musim dingin.
"Kebutuhan energi otomatis juga meningkat," ujar Budi kepada Kompas.com, rabu (11/12/2024).
Sinyal optimisme juga datang dari sektor konstruksi yang menjadi salah satu sektor utama pertumbuhan ekonomi Kaltim.
Sepanjang tahun 2024, sektor konstruksi mengalami akelerasi seiring pelaksanaan pembangunan sejumlah proyek investasi pemerintah dan swasta di Kaltim, utamanya di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).
Di samping itu, sektor perdagangan yang juga menjadi salah satu penopang ekonomi Kaltim diperkirakan mengalami pertumbuhan yang cukup kuat tahun 2024.
Baca juga: Bawang Merah Ubah Status Deflasi Penyangga IKN Jadi Inflasi 0,1 Persen
Akselerasi pertumbuhan sektor perdagangan ditopang oleh pelaksanaan sejumlah festive event termasuk pelaksanaan rangkaian perayaan HUTke-79 RI dan pelaksanaan MTQ Nasional tahun 2024.
Sejumlah event tersebut mendorong peningkatan kunjungan ke wilayah Kaltim yang pada akhirnya turut mendorong aktivitas perdagangan.
"Ketiga sektor tersebut diprakirakan akan memberikan andil paling besar pada pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun 2024," imbuh Budi.
Optimisme tersebut diprakirakan masih akan berlanjut hingga tahun 2025. BI memprakirakan ekonomi Kaltim tahun mendatang akan tumbuh pada kisaran 5,80-6,40 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Pertumbuhan ekonomi Kaltim yang kuat tahun 2025, akan ditopang oleh positifnya perkiraan perkembangan sektor pertambangan, konstruksi, dan industri pengolahan sebagai sektor utama.
Tingginya permintaan batu bara negara mitra dagang seiring meningkatnya kebutuhan energi untuk keperluan industri menjadi pendorong utama akselerasi sektor pertambangan tahun mendatang.
Baca juga: Dampak IKN, Butuh Upaya Ekstra Kawal Inflasi di Kalimantan
Meski masih kuat, terdapat risiko moderasi yang membayangi pertumbuhan sektor pertambangan 2025, khususnya berkaitan dengan komitmen sejumlah negara untuk penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT).
LU konstruksi juga diprakirakan masih akan menopang ekonomi Kaltim sepanjang 2025 seiring masih berlanjutnya berbagai proyek investasi pemerintah dan swasta dalam jumlah besar.
Progress pembangunan IKN yang akan memasuki fase konstruksi tahap II juga diperkirakan akan mendorong pertumbuhan sektor konstruksi tahun 2025.
Selanjutnya, sektor industri pengolahan juga berpotensi mengalami perbaikan pertumbuhan seiring adanya implementasi B40 tahun 2025.
Ekonomi Kaltim yang masih didominasi oleh sektor ekstraktif perlu mendapat perhatian utama ke depan.
Kondisi ini akan memberikan tantangan yang cukup besar, khususnya dalam menghadapi kondisi ketidakpastian ekonomi global ke depan.
"Hal ini karena pertumbuhan sektor ekstraktif rentan terhadap sektor eksternal," cetus Budi.
Oleh karena itu, BI bersama beberapa pemangku kepentingan melakukan upaya awal untuk mendorong transformasi ekonomi Kaltim.
Urgensi diperlukannya transformasi ekonomi juga semakin tinggi didorong oleh beberapa faktor yakni kondisi geopolitik ekonomi dunia yang semakin dinamis, status Kaltim sebagai daerah superhub pendukung logistik IKN, dan komitmen Pemerintah Pusat dan Negara Dunia untuk mendukung Net Zero Emission (NZE).
Dalam beberapa waktu terakhir, BI bersama Pemerintah Daerah dan ISEI Samarinda, membuat kajian dan mendiseminasikan kajian tersebut dalam kegiatan seminar nasional.
Dalam hasil kajian tersebut terdapat beberapa rekomendasi yang didorong untuk menyukseskan agenda transformasi ekonomi Kaltim.
Baca juga: BI Optimistis Ekonomi Penyangga IKN, Balikpapan, PPU, dan Paser Tumbuh Positif
Di antaranya pengembangan infrastruktur pendukung untuk sektor pertanian dan industri pengolahan sebagai sektor potensial untuk diverisifikasi.
Kemudian rehabilitasi dan pengelolaan lahan bekas tambang untuk pertanian, peternakan, dan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Selanjutnya peningkatan keterampilan dan pengetahuan masyarakat lokal dalam mendorong pengembangan ekonomi lokal.
Pengembangan EBT, dan pembiayaan hijau, diversifikasi ekonomi melalui pengembangan wisata lahan bekas tambang, serta penguatan perdagangan dan logistik untuk mendukung sektor industri pengolahan.
Di samping itu, BI juga bersinergi dengan Pemerintah Daerah terus melakukan upaya untuk mendorong peningkatan kegiatan investasi, khususnya pada sektor ekonomi hijau dan EBT.
"Sinergi dan kolaborasi tersebut terus digaungkan melalui program Regional Investor Relation (RIRU), yang secara aktif melakukan promosi proyek investasi strategis wilayah Kaltim hingga ke mancanegara," pungkas Budi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya