Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mangrove Center, Garda Terdepan Penyelamatan Pesisir Penyangga IKN

Kompas.com, 19 Februari 2025, 21:23 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Mangrove Center Graha Indah Balikpapan, Kalimantan Timur, bukan sekadar tempat penangkaran mangrove biasa.

Lebih dari itu, tempat yang dirintis sejak 2001 ini telah mewujud menjadi pusat edukasi, penelitian, dan aksi nyata dalam upaya penyelamatan ekosistem pesisir.

Dengan peran strategisnya, Mangrove Center turut berkontribusi merealisasikan visi Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai Smart Forest City.

Pasalnya, pesisir Balikpapan merupakan jalur utama logistik material konstruksi yang diangkut menuju IKN.

Baca juga: 25.000 Hektar Lahan Butuh Reforestasi, OIKN Ajak Swasta Berpartisipasi

Perintis sekaligus Pengelola Mangrove Center Graha Indah Agus Bei mengungkapkan, kendati hingga hari ini belum sekalipun pihak Otorita IKN mengajaknya bekerja sama membangun ekosistem pesisir dengan mangrove, namun upaya pelestarian terus dilakukan.

"Tak pernah henti saya berupaya melestarikan lingkungan dan ekosistem pesisir Balikpapan dengan mangrove. Bahkan, saya telah banyak menciptakan metode-metode baru penanaman mangrove," ungkap Agus menjawab Kompas.com, Selasa (19/2/2025).

Salah satu jenis mangrove, Rhizophora ApiculataKOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Salah satu jenis mangrove, Rhizophora Apiculata
Hal ini karena tidak semua lahan pesisir cocok untuk metode penanaman mangrove yang umum.

Agus melakukan observasi yang cermat terhadap kondisi substrat, gelombang, dan faktor lingkungan lainnya sebelum menentukan metode yang tepat.

Langkah ini penting untuk memastikan mangrove yang ditanam dapat tumbuh dan bertahan hidup dengan baik.

Baca juga: Anggaran Lingkungan Hidup Cuma Rp 4,8 Miliar, Otorita IKN Andalkan CSR

"Kita harus pahami, mangrove ini sejatinya adalah tumbuhan yang hidupnya bergantung pada pasang dan surut. Akan tetapi, air pasang dan surut tersebut tidak semua lahan bisa menerima," jelas Agus.

Mangrove Center seluas 150 hektar ini memiliki berbagai jenis mangrove yang ditanam, disesuaikan dengan kondisi lahan dan cuaca.

Agus juga berinovasi dengan menanam jenis Rhizophora sebagai perangkap sedimen, yang kemudian akan diikuti oleh jenis-jenis mangrove lainnya secara alami.

"Secara alamiah seperti itu. Akan tetapi, ketika ini sudah mulai rusak, tentu harus punya inovasi kenapa saya tanam adalah Rhizophora, punya alasan," jelas Agus.

Inovasi untuk lahan yang Terabrasi

Mangrove Center tidak hanya fokus pada penanaman di habitat asli mangrove, tetapi juga berupaya merehabilitasi wilayah pesisir yang telah terabrasi.

Agus mengembangkan metode inovatif, seperti penggunaan brick water, buis pot, dan kantong lumpur, untuk menciptakan kondisi yang aman bagi pertumbuhan mangrove di lahan-lahan yang sulit.

Baca juga: TPST Modern dan Futuristik di IKN, Sulap Sampah Jadi Energi

"Ketika pesisirnya hilang, satu hal yang dipikirkan adalah membuat seawall. Tapi membuat seawall kan tidak mudah, mahal sekali," imbuh Agus.

Oleh karena itu, kehadiran Mangrove Center berkontribusi signifikan dalam upaya memitigasi perubahan iklim.

Melalui penelitian dan praktik, Agus menghitung bahwa satu hektar mangrove dapat menyerap hingga 45 ton karbon per tahun.

Dengan total luas 150 hektar, Mangrove Center telah berkontribusi dalam penyerapan 6.000 ton karbon.

"Inilah sumbangsih kami kepada dunia," kata Agus.

Mangrove Center Graha Indah, Balikpapan, Kalimantan TimurKOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Mangrove Center Graha Indah, Balikpapan, Kalimantan Timur
Terbuka untuk kerja sama

Mangrove Center terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Otorita IKN.

Agus menyadari, Balikpapan sebagai penyangga IKN memiliki potensi besar dalam pengembangan ekowisata mangrove.

"Saya aware sekali dan terbuka, meski selama ini saya belum pernah ada diundang untuk diskusi tentang itu," ungkap Agus.

Baca juga: Taman Safari Hadir di IKN, Pembangunan Dimulai Akhir 2025

Agus menekankan, Mangrove Center tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga merawatnya dengan sungguh-sungguh.

Dia memiliki komitmen untuk memastikan mangrove yang ditanam dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, sehingga memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

"Menanam mangrove itu pasti semua orang bisa, tetapi untuk bisa bertahan hidup, itu yang harus kita sepakati bersama-sama," pungkas Agus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau