Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Para Crazy Rich yang Dipanggil Prabowo Ternyata Ikut Bangun IKN

Kompas.com, 8 Maret 2025, 12:01 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Para konglomerat beraset triliunan rupiah dipanggil Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/3/2025).

Ternyata, enam di antara delapan crazy rich Indonesia yang dipanggil itu ikut membangun Ibu Kota Nusantara (IKN).

Mereka adalah Sugianto Kusuma alias Aguan, Anthony Salim, Dato Sri Tahir, Franky Oesman Widjaja, Boy Garibaldi Thohir, dan Prajogo Pangestu.

Mereka tergabung dalam Konsorsium Nusantara yang secara resmi melakukan peletakan batu pertama proyek investasi pada Kamis (21/9/2023).

Nilai investasi konsorsium tersebut mencapai Rp 20 triliun untuk membangun mixed use project dan berbagai fasilitas lainnya.

Baca juga: Meleset dari Target, Masjid Negara IKN Tak Bisa Digunakan Salat Idulfitri

Rinciannya, Aguan dan Anthony Salim telah membangun dan mengoperasikan Hotel jenama Swissotel Nusantara, dan sedang membangun pusat perbelanjaan yang konstruksinya telah dimulai tahun lalu dengan nama Nusantara Duty Free, serta fasilitas lainnya.

Kemudian, Dato Sri Tahir telah mengoperasikan Mayapada Nusantara Hospital dengan luas area 1,1 hektar, dan biaya konstruksi Rp 500 miliar.

Mayapada Nusantara Hospital dikelola Apollo Hospital asal India yang diresmikan pada 11 Oktober 2024.

Berikutnya, Boy Garibaldi Thohir yang akan membangun Taman Safari Nusantara dengan luas area 225 hektar.

Sementara itu, crazy rich lainnya masih melakukan studi kelayakan atau feasibility study untuk merealisasikan proyek-proyek mereka di IKN.

Baca juga: Kantor Gibran di IKN Tembus 39,6 Persen, Usung Konsep Rumah Dayak

Hingga saat ini, menurut Plt Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Otorita IKN Danis Hidayat Sumadilaga, pembangunan IKN Tahap I periode 2022-2024 telah mencapai angka 99 persen. 

"Hampir selesai untuk Tahap I. Dan sekarang tengah memasuki pembangunan tahap II periode 2025-2029," ujar Danis kepada Kompas.com, Jumat (7/3/2025).

Danis mengatakan, pada proyek-proyek yang masih berjalan periode konstruksi Tahap I tahun  2022-2024 diberlakukan sistem piket bagi para pekerja konstruksi.

Hal ini mengingat Maret merupakan bulan suci bagi umat Islam untuk menjalankan ibadah Ramadhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau