Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com – Pelemahan daya beli masyarakat, yang dipicu oleh berbagai faktor ekonomi dan kebijakan efisiensi, memberikan pukulan telak bagi sektor ritel, terutama pusat perbelanjaan (mal) di Kalimantan Timur (Kaltim).
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Kaltim mengakui adanya perubahan signifikan dalam pola konsumsi, di mana belanja untuk produk non-makanan dan minuman (non-F&B) mengalami penurunan, sementara sektor kuliner justru menunjukkan tren positif.
Pada periode Kuartal I Tahun 2025, sektor ritel di Kaltim menunjukkan penurunan sekitar dua persen pada belanja barang non-F&B, seperti fesyen, tas, sepatu, dan aksesoris, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: Karena IKN, Okupansi Mal Terbesar di Kalimantan Timur Tembus 80 Persen
Ketua APPBI Kaltim Aris Adriyanto mengungkapkan, konsumen kini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang, yang tercermin dari perubahan kebiasaan membeli pakaian, sebelumnya lima pasang menjadi hanya satu atau dua pasang.
Sebaliknya, sektor makanan dan minuman (F&B) justru menjadi primadona, mencatatkan lonjakan transaksi hingga 25 persen.
"Daya tarik mal sebagai destinasi kuliner keluarga dan harga F&B yang kompetitif menjadi pendorong utama tren ini," ujar Aris menjawab Kompas.com, Rabu (16/4/2025).
Pergeseran ini secara langsung mengubah lanskap tenant di mal-mal Kaltim. Jika sebelumnya perbandingan tenant non-F&B dan F&B adalah 75:25, kini komposisinya berbalik, dengan F&B mendominasi hingga 45-50 persen.
Sementara itu, tenant yang bergerak di bidang fesyen, sepatu, dan aksesori mengalami penurunan proporsi.
"Fenomena ini sejalan dengan tren nasional di kota-kota besar seperti Jakarta, mengindikasikan perubahan perilaku konsumen secara luas," imbuh Aris.
Meskipun belanja non-F&B menurun, jumlah kunjungan ke mal-mal di Kaltim secara keseluruhan justru mengalami peningkatan, meskipun distribusinya tidak merata.
Mal-mal besar di Balikpapan dan Samarinda, seperti E-Walk dan Big Mall, menjadi magnet bagi warga yang tidak mudik, berkat keragaman tenant yang mereka tawarkan.
Plaza Balikpapan juga mencatatkan lonjakan kunjungan signifikan pasca-Lebaran 2025, terutama karena adanya acara-acara menarik seperti magic show yang berhasil menarik perhatian keluarga.
Baca juga: Mengenal Nusantara Duty Free, Mal yang Dibangun Aguan di IKN
Data menunjukkan kunjungan harian di Plaza Balikpapan mencapai 16.000-18.000 orang pada hari kerja dan melonjak menjadi 33.000-42.000 pengunjung pada akhir pekan.
Sementara E-Walk dan Big Mall bahkan mencatatkan angka kunjungan yang lebih tinggi yakni sekitar dua kali lipatnya.
Event menjadi senjata ampuh bagi pengelola mal untuk menarik dan mempertahankan pengunjung.
Program belanja atau shopping program dengan berbagai gimmick kreatif, seperti hadiah bulanan atau acara tematik musiman (Ramadhan, Lebaran, Natal), terbukti efektif mendorong konsumen untuk kembali berbelanja.
Kesuksesan Balikpapan Great Sale 2025 yang mencatatkan transaksi melebihi target Rp 4 miliar menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Balikpapan masih cukup kuat jika diiming-imingi penawaran menarik.
Pelemahan daya beli yang dihadapi mal-mal di Kaltim tidak hanya dipengaruhi faktor lokal, tetapi juga ketidakpastian ekonomi global.
Untuk mengatasi tantangan ini, pengelola mal harus memutar otak menerapkan sejumlah strategi adaptif:
1. Menggenjot Kreativitas Event dan Program Belanja:
Mal tidak hanya mengandalkan diskon semata, tetapi juga menciptakan pengalaman berbelanja yang unik melalui acara keluarga dan hadiah-hadiah menarik yang dirancang secara musiman dan bulanan.
2. Memperkuat Sektor F&B dan Merangkul UMKM:
Mengikuti tren dominasi sektor kuliner, mal mengalokasikan lebih banyak ruang untuk tenant F&B.
Selain itu, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal juga mendapat perhatian khusus, terutama dalam event-event musiman bekerja sama dengan berbagai pembina.
3. Beradaptasi dengan Selera Konsumen:
Pengelola mal menyadari bahwa konsumen Kaltim memiliki perhatian tinggi terhadap fesyen dan tren terkini.
Oleh karena itu, mereka mendorong peritel seperti Matahari untuk terus memperbarui koleksi dan memanfaatkan media sosial secara gencar untuk promosi.
4. Pengembangan Konsep Mal Baru:
Pengembang seperti APL berencana membangun mal baru dengan konsep middle-up, menargetkan segmen menengah ke atas dengan menghadirkan merek-merek internasional ternama.
Langkah ini diharapkan dapat menarik konsumen dengan daya beli yang lebih stabil, didukung oleh pertumbuhan populasi Balikpapan dan proyek IKN.
Peluang di Tengah Tantangan: IKN dan Potensi Konsumsi
Meskipun tantangan pelemahan daya beli nyata, Kaltim, khususnya Balikpapan, tetap menunjukkan potensi konsumsi yang menjanjikan.
Aris mengatakan, kehadiran proyek Ibu Kota Nusantara (IKN), pertumbuhan populasi, dan kepercayaan merek-merek besar menjadi faktor pendorong optimisme.
"Namun, pengelola mal juga menyadari adanya tantangan seperti defisit operasional dan persaingan antar-mal," kata Aris.
Untuk mal-mal yang kurang diminati, upaya ekstra dalam meningkatkan akses, menjauhkan diri dari kesan pasar tradisional, dan menggencarkan event menjadi kunci untuk menarik kembali pengunjung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang