Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Nusantara, di bawah langit Kalimantan Timur (Kaltim) yang mulai menata diri sebagai Ibu Kota masa depan, pagi itu menyajikan kehangatan yang berbeda.
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), Basuki Hadimuljono, terlihat menikmati momen sunyi di Sentra Massa.
Bukan dengan Arabika yang mainstream atau Robusta yang keras, melainkan dengan Liberika, kopi lokal beraroma nangka yang khas, lembut, dan berbeda.
Baca juga: Otorita Gelar Sayembara Desain Nusantara Cultural Center IKN
Secangkir Liberika Sepaku Trans itu bukan sekadar minuman; ia adalah simbol dari ketangguhan hayati lokal yang menolak untuk tenggelam di antara dominasi pasar.
Inilah soft medium yang coba diangkat, sekaligus menegaskan komitmen untuk mengembangkan sumber daya lokal sebagai fondasi ekonomi berkelanjutan.
“Liberika ini sangat soft medium. Mengangkat pamor liberika dari pasar yang didominasi Arabika dan Robusta. Ini event pertama kali dan menjadi langkah mengembangkan sumber daya lokal,” ujar Basuki, menunjuk pada gelaran perdana Nusantara Liberica Coffee Exhibition di Sentra Massa (9/8/2025).
Di balik secangkir Liberika beraroma nangka itu, tersembunyi sebuah narasi besar tentang UMKM Kaltim, kisah tentang daya juang, inovasi, dan mimpi ekspor yang kini siap diwujudkan di Titik Nol.
Kisah kopi Liberika adalah metafora sempurna bagi UMKM Kaltim yang tangguh, tahan banting, dan berdaya juang di tengah tantangan tak terduga.
Kepada Kompas.com, Slamet Prayogo yang karib disapa Yoga, berbagi pengalaman berharganya.
Dia adalah petani Liberika dari Samarinda yang telah berdiskusi dengan petani lokal sejak enam tahun lalu dan memulai budidaya di kebunnya dua tahun terakhir.
Kebunnya, yang kini menjadi pusat pelatihan Agroforestry Liberika Lok Bahu, membuktikan satu hal; Liberika adalah "tanaman bandel".
“Liberika ini tanaman yang bandel, ditanam di mana saja bisa tumbuh. Ini sudah saya buktikan. Tahun 2021 lalu saya menanam di 0 mdpl, di Kutai Kartanegara, Muara Badak, dan dia tumbuh subur, bisa dipanen,” jelas Yoga.
Baca juga: Proyek Jumbo Swasta di IKN Dimulai Maret 2026, Ada Pakuwon dan Vasanta
Ia merujuk pada kemampuan Liberika yang dapat tumbuh subur bahkan di lahan gambut dan dataran rendah.
Ketangguhan ini diamini oleh Ketua Komunitas Petani Kopi Liberica Sepaku, Sugiman. Baginya, Liberika adalah warisan leluhur yang telah ada sejak 1981, tetapi sempat dilupakan.
Kopi ini bukan sekadar tanaman yang tahan segala medan dan cuaca, tetapi juga anti penyakit gambir.
Sugiman menjadi tambah bersemangat untuk membangun jenama sendiri tanpa bersaing di pasar Arabika atau Robusta yang sudah jenuh.
Baik Yoga maupun Sugiman ingin Liberika, dengan cita rasa uniknya yang berada di antara Arabika (asam) dan Robusta (keras), menjadi ikon baru.
Janji mutiara hitam ini bukan isapan jempol. Saat Basuki dan Sugiman menanam 1.010 bibit Liberika pada Jumat (10/10/2025), membuka fakta yang mencengangkan, bahwa ada permintaan ekspor global dengan niai fantastis terhadap Liberika.
“Kami kemarin dari Qatar diminta 20 kontainer. Namun, kami belum ada, dan tak mampu mencukupi. Produksi kami baru 5,1 ton per tahun dari area seluas 17 hektar,” ungkap Sugiman.
Baca juga: BUMN Tower Ghosting IKN, Pencakar Langit 778 Meter Tinggal Kenangan
Permintaan 20 kontainer yang setara dengan ratusan kali lipat dari total produksi tahunan Kaltim ini adalah bukti bahwa citra dan rasa Liberika dicari pasar internasional.
Bahkan, secara mengejutkan, Sugiman berani mengeklaim potensi ekonomi Liberika, jauh lebih besar dibanding sawit.
"Setelah kami kalkulasi. Lebih menguntungkan daripada sawit," ungkapnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Liberika memiliki nilai ekonomi dan keberlanjutan yang jauh melampaui komoditas andalan Kalimantan lainnya.
Untuk mengejar ketertinggalan suplai ini, Otorita IKN dan komunitas mencanangkan gerakan masif wajib tanam 10 pohon bagi setiap anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Dasawisma.
Ini adalah gerakan ekonomi rakyat dari hulu, didukung penuh oleh Bank Indonesia (BI) untuk menggerakkan sektor ekonomi riil di IKN dan sekitarnya.
Kisah petani melalui kebangkitan Liberika yang menjanjikan harapan, hanyalah satu sisi dari permadani besar UMKM Kaltim.
Baca juga: IKN Kejar Tayang, 20.000 Pekerja Konstruksi Dikerahkan Bangun Tahap II
Tantangan utama saat ini adalah memastikan 430.000 unit usaha UMKM Kaltim tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tetapi juga berdaya saing secara kualitas dan legalitas agar dapat menjadi bagian dari rantai pasok dengan standar tinggi.
Data dari BI Perwakilan Kaltim menunjukkan tren dan tantangan yang harus dihadapi UMKM. Di ataranta adalah tentang literasi keuangan.
Kepala BI Perwakilan Kaltim Budi Widihartanto mengungkapkan, literasi keuangan UMKM Kaltim masih perlu ditingkatkan karena baru mencapai 58,27 persen.
"Meskipun demikian, program Business Matching Pembiayaan serta Edukasi dan Literasi Keuangan UMKM (BIMA ETAM) dari BI Kaltim telah efektif menjembatani pembiayaan produktif, menyalurkan Rp 11,856 miliar kepada 160 UMKM," tutur Budi kepada Kompas.com, Kamis (30/10/2025).
Angka ini membuktikan bahwa perjodohan bisnis dan edukasi adalah kunci untuk mengatasi kesulitan akses pembiayaan formal yang perlu ditingkatkan di daerah.
Baca juga: Mengintip Desain dan Fasilitas Kompleks DPR/MPR di IKN Senilai Rp 8,5 Triliun
Oleh karena itu, Pemerintah dan BI fokus pada tiga langkah untuk memastikan UMKM naik kelas dan masuk rantai pasok IKN, yakni edukasi, pendampingan, dan integrasi digital.
Pada matriks legalitas cepat, BI mengedukasi dan mendampingi melalui Sistem Online Single Submission-Risk Based Approach (OSS-RBA) yang mempermudah pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), membuka akses legalitas dan fasilitas pembiayaan.
Hasilnya, hingga 2024, sekitar 8.363 UMKM yang dominasi pangan dan minuman sudah tersertifikasi halal.
Badan Standardisasi Nasional (BSN) juga aktif mendorong penerapan SNI melalui program Bootcamp SNI Bina UMK.
Sementara untuk membantu mempercepat ekspansii pasar, BI terus menggencarkan dan mempercepat adopsi digital melalui Merchant QRIS.
Baca juga: Momen Bersejarah, Salat Idul Fitri 2026 Digelar di Masjid Negara IKN
Di Kaltim Merchant QRIS bertambah pesat, naik 36 persen secara tahunan atau year on year, menjadi 715.038 merchant pada Kuartal II/2025.
Di sisi lain, meskipun 48 persen UMKM sudah aktif berjualan daring di e-commerce dan media sosial, namun hanya 30 persen saja yang menerapkan pembukuan digital.
"Percepatan adopts digital ini yang terus kami dorong," cetus Budi.
Selain itu, BI Kaltim juga mendorong program Go Global, di mana produk unggulan seperti kerajinan tenun dan pangan olahan tertentu sudah mulai merambah pasar kawasan ASEAN dan Asia Timur.
Program pelatihan yang paling efektif adalah yang berbasis kebutuhan spesifik seperti Pelatihan Pengembangan Kewirausahaan Terpadu yang mencakup digital marketing, manajemen, dan desain kemasan.
Pembangunan IKN yang demikian masif, diakui atau tidak membawa peluang sekaligus tantangan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah tekanan inflasi dan kenaikan biaya hidup.
Oleh karena itu, Budi menekankan pentingnya strategi bagi UMKM untuk tidak tergeser oleh produk luar.
Strategi utama agar tidak kalah saing adalah menjaga kualitas sekaligus menonjolkan keunikan produk lokal.
Baca juga: Momen Bersejarah, Salat Idul Fitri 2026 Digelar di Masjid Negara IKN
UMKM wajib memenuhi standar mutu dan legalitas (NIB, Halal, SNI), melakukan quality check yang ketat, mengembangkan produk dengan daya saing tinggi dan nilai jual berbeda, seperti aroma nangka khas Liberika Sepaku.
Selain QRIS, BI melakukan langkah konkret agar UMKM terlibat langsung dalam ekosistem IKN, misalnya pendampingan dan kurasi produk agar sesuai dengan selera pasar.
"Melibatkan UMKM dalam pameran promosi besar seperti Kaltim Paradise agar produk lokal dikenal luas dan berpeluang masuk pasar secara komersial," tuntas Budi.
Kisah kopi Liberika dan kebangkitan UMKM Kaltim adalah kisah tentang harapan. Harapan yang ditanamkan melalui biji kopi "bandel" yang tumbuh subur di lahan gambut, dan harapan yang dibangun melalui edukasi digital, legalitas NIB, dan akses pembiayaan BIMA ETAM.
Dari secangkir Liberika beraroma nangka di Sentra Massa, hingga ambisi Go Global para pengusaha lokal, IKN tidak hanya sedang membangun infrastruktur beton, tetapi juga ekonomi kerakyatan yang tangguh, berdaya saing, dan berakar kuat pada warisan lokalnya.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Safitri, menegaskan asa itu, “Saya harap di tahun depan, komunitas Liberika ini nantinya bisa menjadi pemasok oleh-oleh kopi khas Nusantara.”
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang