Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dinilai lebih dari sekadar narasi pemindahan pusat administrasi dari satu titik koordinat ke titik lainnya.
Di mata komunitas intelektual dan praktisi infrastruktur global, IKN adalah sebuah anomali positif, eksperimen skala besar yang menguji batas antara impian keberlanjutan dan realitas teknis.
Istilah "proyek ambisius" disematkan pada IKN oleh pakar kebijakan publik dari University of Maryland, Prof. Thomas C. Hilde, Ph.D.
Namun, di balik kata tersebut, terdapat pengakuan terhadap keberanian Indonesia dalam mendefinisikan ulang konsep kota masa depan.
Tom, sapaan akrabnya, beserta delegasi periset lainnya dari School of Public Policy, University of Maryland, berkunjung ke IKN pada Kamis (8/1/2026).
Baca juga: Apa Ibu Kota Indonesia, Jakarta atau IKN?
Sebagai institusi yang berbasis di dekat jantung kebijakan publik dunia, Washington D.C., pandangan mereka memberikan bobot intelektual tersendiri terhadap progres pembangunan IKN, di Kalimantan Timur ini.
Tom menegaskan bahwa predikat "ambisius" yang melekat pada IKN adalah sebuah keniscayaan yang bernada optimistis.
"IKN merupakan proyek ambisius yang luar biasa. Ambisi ini sangat dibutuhkan untuk menciptakan masa depan yang hijau. Semoga IKN akan terus menjadi percontohan di dunia," ungkap Tom, sapaan akrabnya, dalam diskusi strategis tersebut.
Baca juga: Otorita IKN Gusur 39 Lapak Besi Tua dan 18 Lapo Tuak Ilegal
Menurut pandangan akademik ini, ambisi bukan berarti ketidakmungkinan, melainkan keberanian untuk keluar dari status quo pembangunan kota konvensional.
Jika akademisi melihat dari sudut pandang kebijakan dan keberlanjutan, praktisi infrastruktur melihatnya dari sisi skala dan kompleksitas teknis.
Sebagaimana disampaikan oleh Direktur United States Trade and Development Agency (USTDA) 2022-2025, Enoh T Ebong, sebelumnya.
Ebong yang saat ini merupakan President of the Global Development Department at the Center for Strategic and International Studies (CSIS) memberikan testimoni yang cukup mengejutkan bagi dunia internasional.
Baca juga: Membedah Kesiapan Bandara Nusantara IKN untuk Penerbangan Komersial
Dalam forum Business and Investment Roundtable di Los Angeles (2/5/2024), Ebong menyatakan bahwa selama dua dekade kariernya di bidang infrastruktur global, ia belum pernah menyaksikan proyek semasif IKN.
"Pembangunan IKN merupakan pekerjaan yang luar biasa yang belum pernah saya lihat sebelumnya selama 20 tahun karier saya. IKN dapat melakukannya dengan kerja dan dedikasi yang baik," ujar Ebong.
Senada dengan hal tersebut, Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN 2022-2025, Prof Mohammed Ali Berawi, memandang IKN sebagai "kesempatan langka" bagi peradaban modern untuk membangun kota dari nol (greenfield) dengan standar terbaik dunia.
Baca juga: Menetap di Tengah Hutan demi Janji Peradaban, Dedikasi Basuki buat IKN