Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menetap di Tengah Hutan demi Janji Peradaban, Dedikasi Basuki buat IKN

Kompas.com, 15 Januari 2026, 11:30 WIB
Add on Google
Aisyah Sekar Ayu Maharani,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

NUSANTARA, KOMPAS.com - Di hamparan tanah seluas 262.000 hektar yang membelah keheningan hutan Kalimantan Timur, sebuah peradaban baru sedang dirakit pilar demi pilar.

Di balik deru mesin dan megahnya struktur beton yang kini menjulang, terselip satu nama yang menjadi personifikasi dari ketangguhan dan visi pembangunan Indonesia masa depan: Mochamad Basuki Hadimuljono.

Baca juga: Menteri PU Endorse IKN, Investor Jangan Ragu Masuk

Sebagai Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN), pria kelahiran Surakarta, 5 November 1954 ini bukan sekadar birokrat yang menduduki jabatan strategis; ia adalah seorang dirigen yang sedang mengorkestrasi transisi historis pusat pemerintahan Indonesia.

Perjalanan Basuki menuju puncak kepemimpinan di IKN merupakan sebuah narasi panjang tentang ketekunan yang bersahaja.

Lulusan UGM

Lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menempa intelektualitasnya hingga meraih gelar master dan doktoral di Colorado State University, Amerika Serikat.

Namun, di balik kecemerlangan akademisnya, tersimpan kisah humanis yang menggugah.

Basuki pernah menceritakan bagaimana ia berjibaku menaklukkan keterbatasan bahasa saat menempuh studi di negeri Paman Sam.

Dengan cara yang sangat membumi, ia belajar kosa kata Bahasa Inggris melalui kemasan sampo di kamar mandi, sebuah fragmen hidup yang menunjukkan bahwa kebesaran seringkali dimulai dari ketelitian pada hal-hal kecil.

Baca juga: Apa yang Dikoreksi Prabowo Saat Kunjungan Perdana di IKN?

"Setiap duduk nongkrong di kamar mandi itu saya baca apa itu yang namanya sampo, luxury shampoo, opo iki, mana adjective-nya, mana verb-nya," kenang Basuki dengan dialek khasnya yang jenaka namun penuh makna dalam sebuah acara ESG Lecture.

Filosofi "belajar dari sampo" ini kemudian bertransformasi menjadi ketelitian luar biasa dalam mengelola anggaran dan desain infrastruktur raksasa di tanah air.

Dedikasi Basuki selama lebih dari tiga dekade di Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah membentuk karakternya menjadi sosok yang "lapangan banget".

Panglima Infrastruktur

Sejak dilantik sebagai Menteri PUPR pada tahun 2014 oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo, ia dikenal sebagai panglima infrastruktur yang tak segan berlumur debu demi memastikan jalan, bendungan, dan perumahan rakyat terbangun dengan presisi.

Baca juga: Kunjungan Presiden Prabowo Pertegas Keberlanjutan Pembangunan IKN

Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, mandat tersebut mengalami eskalasi. Basuki dilantik sebagai Kepala Otorita IKN definitif pada 5 November 2024, sebuah tanggung jawab yang menempatkannya sebagai ujung tombak dalam merealisasikan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025.

Bagi Basuki, IKN bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan sebuah komitmen konstitusional yang sakral.

Ia mencermati bahwa Presiden Prabowo telah mengikatkan diri secara politis dan hukum untuk menjadikan IKN sebagai wajah Indonesia di mata dunia.

Baca juga: Kunjungi IKN, Wamendagri Bima Arya Minum Air Langsung dari Keran

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau