Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konsultan Asing: IKN Berhasil jika Ekosistem Lingkungan-Ekonomi Hidup

Kompas.com, 24 Januari 2026, 05:30 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) telah bermutasi menjadi salah satu katalisator yang merombak peta jalan industri realestat Indonesia.

Di tengah perdebatan mengenai kecepatan pemindahan basis administratif, para pelaku pasar mulai melihat IKN melalui lensa ekonomi yang lebih fundamental, yakni properti sebagai derived demand atau permintaan turunan dari mobilitas manusia dan aktivitas ekonomi.

Country Director Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menegaskan bahwa titik balik IKN telah terlampaui.

Baca juga: Tiga Karya Jadi Finalis Sayembara Pusat Kebudayaan Nusantara di IKN

Baginya, proses ini adalah sebuah perjalanan satu arah yang tidak memiliki opsi untuk kembali point of no return.

Namun, keberhasilan IKN dalam jangka panjang sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengelola transisi populasi dan menciptakan ekosistem yang hidup.

"Properti itu sangat sederhana, ini tentang pergerakan. Properti adalah derived demand. Jika pemerintah mampu membawa orang ke sana, maka permintaannya akan ada. IKN adalah permainan jangka panjang, bukan sekadar proyek jangka pendek," ujar Willson menjawab Kompas.com, Jumat (23/1/2026).

IKN dan Teori Permintaan Turunan

Dalam perspektif akademik, realestat tidak berdiri sendiri. Ia hadir karena adanya kebutuhan akan ruang untuk mendukung aktivitas lain.

Willson menjelaskan, kehadiran manufaktur, pusat riset, hingga sektor jasa akan memicu permintaan turunan berupa hunian (housing), pusat komersial (retail), hingga fasilitas akomodasi (hotel).

Baca juga: Gibran Dorong ASN Setwapres Segera Berkantor di IKN

Strategi pemerintah dalam memberikan insentif fiskal, seperti pembebasan pajak (tax holiday), dinilai sebagai langkah awal yang krusial untuk menarik jangkar investasi.

Namun, Willson mengingatkan, tantangan utama adalah menciptakan alasan bagi masyarakat untuk berpindah secara permanen.

Tanpa adanya "massa kritis" penduduk, infrastruktur megah yang dibangun berisiko kehilangan signifikansi ekonominya.

Navigasi Pengembang: Akuisisi Lahan dan Visi 5 Tahun

Bagi para pengembang, IKN menawarkan lanskap peluang sekaligus risiko yang memerlukan presisi.

Willson mencatat bahwa pengembang yang cerdik tidak menunggu permintaan memuncak untuk bertindak.

Sebaliknya, mereka bergerak dalam siklus akuisisi lahan jauh sebelum sektor tersebut mencapai titik jenuh.

Baca juga: Guru Besar Undip: Tanpa Kultur Merawat, Forest City IKN Bisa Bubar

"Sebagai pengembang, Anda tidak hanya melihat saat ini. Anda mengakuisisi lahan terlebih dahulu ketika sektor tersebut mulai menunjukkan potensi permintaan. Kita bisa merencanakan proyeksi lima tahun ke depan," tambah Willson.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau