Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Istana Wakil Presiden di IKN Dilengkapi Kolam Renang 50 Meter

Kompas.com, 30 Januari 2026, 20:06 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Teka-teki mengenai kapan Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka akan mulai berkantor di Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai menemukan titik terang.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, memberikan sinyal kuat bahwa perpindahan tersebut dijadwalkan berlangsung pada tahun ini, menyusul progres fisik Istana Wakil Presiden yang telah melewati proses Provisional Hand Over (PHO).

Baca juga: IKN Bakal Punya Concert Hall Kelas Dunia, Mulai Dibangun 2027

Kehadiran Gibran di IKN bukan sekadar perpindahan administratif, melainkan simbol dimulainya babak baru pemerintahan di jantung Kalimantan.

Istana Wakil Presiden yang akan ditempatinya pun mencuri perhatian publik, bukan hanya karena kemegahannya, tetapi juga karena fasilitas eksklusif yang ada di dalamnya.

Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN) mengadopsi langgam arsitektural Huma Betang Umai. Istana ini dilengkapi kolam renang 50 meterKOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN) mengadopsi langgam arsitektural Huma Betang Umai. Istana ini dilengkapi kolam renang 50 meter
Fasilitas Kolam Renang 

Basuki mengungkapkan progres fisik Istana Wakil Presiden sudah mencapai 100 persen. Saat ini, fokus utama beralih pada pengadaan furnitur dan interior.

Baca juga: Cerlang Nusantara Karya Yori Antar Juara Sayembara Desain Pusat Kebudayaan IKN

"Progres fisiknya sudah selesai, tinggal furnitur. Kalau furnitur Istana Presiden dan Istana Wakil Presiden itu tanggung jawab Sekretariat Negara," ujar Basuki menjawab Kompas.com, Jumat (30/1/2026).

Menariknya, Basuki membocorkan salah satu fasilitas yang ada di dalam kediaman resmi Wapres tersebut, yakni kolam renang berukuran olimpiade sepanjang 50 meter.

Ia menyebutkan bahwa Gibran telah meninjau langsung dan merasa cocok dengan desain bangunan yang menyertakan fasilitas relaksasi khusus.

"Enggak ada catatan khusus dari Mas Gibran (terkait Istana Wapres). Beliau sudah merasa cocok, ada kolam renang olympic size di dalam. Ibu (Selvi Ananda) kemarin juga sudah ke sini melihat," tambahnya.

Baca juga: Komisi VI DPR: Pembangunan IKN Tahap II Harus Diawasi secara Ketat

Meski sempat berseloroh mengenai ukurannya, Basuki memastikan fasilitas tersebut dirancang secara proporsional untuk menunjang aktivitas Wapres.

Kesiapan berkantor di IKN juga dibuktikan dengan mulai bergeraknya tim pendukung. Sebanyak 50 orang staf Wapres dilaporkan telah berada di IKN untuk melakukan persiapan teknis, mulai dari survei furnitur hingga penataan ruang kerja di ASN Tower 1.

Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN) didominasi kayu ulin pada fasad, struktur, dan elemen dekoratif dikombinasikan dengan kayu jati.KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara (IKN) didominasi kayu ulin pada fasad, struktur, dan elemen dekoratif dikombinasikan dengan kayu jati.
Filosofi "Huma Betang Umai": Arsitektur yang Bernafas

Di balik kemegahan dan fasilitas modernnya, Istana Wakil Presiden mengusung filosofi desain yang sangat mendalam karya SHAU Architects, yang bertajuk "Huma Betang Umai".

Desain ini memenangkan kompetisi arsitektur karena keberhasilannya menerjemahkan identitas lokal Kalimantan ke dalam narasi global.

Baca juga: Ternyata, Investor Asing yang Resmi Masuk IKN Baru Satu, Siapa Dia?

Huma Betang (Rumah Panjang) merupakan simbol kebersamaan, kesetaraan, dan gotong royong masyarakat Dayak.

Sementara "Umai" berarti Ibu, yang melambangkan pengayoman dan kasih sayang. Filosofi ini menempatkan Istana Wapres sebagai "Rumah Ibu" yang inklusif, tempat di mana kebijakan negara dirumuskan dengan semangat kekeluargaan dan keramahan terhadap alam.

Secara teknis, desain ini mengadopsi prinsip arsitektur tropis modern. Bangunannya dirancang memiliki rongga dan sirkulasi udara alami yang masif, meminimalkan penggunaan energi, serta sangat menghargai topografi lahan asli. Ini selaras dengan visi IKN sebagai Smart Forest City.

Kediaman Wakil Presiden di Kompleks Istana Wakil Presiden, Ibu Kota Nusantara (IKN)KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Kediaman Wakil Presiden di Kompleks Istana Wakil Presiden, Ibu Kota Nusantara (IKN)
Target 2028: Tuntasnya Ekosistem Pemerintahan

Tak hanya Istana Wapres, Basuki juga memberikan update mengenai pembangunan fasilitas pendukung kebudayaan dan religi.

Masjid Negara IKN diproyeksikan sudah bisa digunakan untuk salat Tarawih dan Idul Fitri pada  tahun ini, meskipun pengadaan interiornya masih terus digenjot.

Baca juga: Akhirnya, Raksasa Properti Dubai Resmi Investasi Rp 4 Triliun di IKN

Terkait target jangka panjang, Basuki menegaskan optimisme pemerintah untuk menuntaskan seluruh infrastruktur utama ekosistem pemerintahan, termasuk lembaga yudikatif dan legislatif, pada tahun 2028.

"Harus optimistis tuntas 2028. Pembangunan IKN saat ini secara umum sudah berjalan baik, jalan akses hingga sumbu kebangsaan sudah selesai 100 persen. Sekarang kita masuk ke Batch 2 untuk melengkapi fasilitas hunian dan perkantoran lainnya," pungkas Basuki.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau