Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Langit di atas Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, kini tak lagi sepi.
Deru mesin pesawat jet pribadi (private jet) kian intens menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Nusantara pasca kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2026.
Mereka membawa para investor dalam dan luar negeri, serta para pejabat tinggi negara yang ingin melihat kemajuan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Fenomena ini bukan sekadar aktivitas aviasi biasa, melainkan indikator kuat bahwa urat nadi logistik dan mobilitas IKN, ini telah berfungsi secara faktual.
Baca juga: Kapan Bandara Internasional Nusantara IKN Resmi Dibuka untuk Umum?
Transformasi infrastruktur udara yang awalnya dirancang sebagai bandara VVIP menjadi bandara internasional merupakan langkah strategis untuk menjawab tuntutan investasi global.
Kendati status perubahan menjadi bandara umum, belum secara resmi ditandatangani Presiden Prabowo Subianto, intensitas pendaratan jet pribadi belakangan ini menjadi sinyalmen positif bagi para investor mengenai kesiapan operasional gerbang udara utama IKN tersebut.
Ruang meeting VVIP Bandara Internasional Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN) Pembangunan bandara ini berlandaskan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 31 Tahun 2023 tentang Percepatan Pembangunan dan Pengoperasian Bandar Udara VVIP di Ibu Kota Nusantara.
Regulasi ini menjadi payung hukum utama yang mengintegrasikan koordinasi antara Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum (sebelumnya PUPR), hingga Otorita IKN.
Baca juga: Ujung Penantian Subarianto, Menang Lawan Mafia Lewat Reforma Agraria
Statusnya yang kini bergeser menjadi bandara internasional bertujuan untuk memastikan keberlanjutan ekonomi (economic sustainability), di mana bandara tidak hanya melayani tamu negara, tetapi juga mobilitas bisnis dan logistik internasional yang menjadi tulang punggung pertumbuhan kawasan.
Secara teknis, Bandara Internasional Nusantara yang menempati area HPL Badan Bank Tanah seluas 621 hektar, dibangun dengan spesifikasi kelas dunia untuk mengakomodasi trafik pesawat berbadan lebar.
Di sisi udara (airside), bandara ini memiliki panjang landasan pacu 3.000 meter. Dimensi ini lebih panjang ketimbang Bandara Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (SAMS) atau pun Bandara Aji Pangeran Temenggung Pranoto.
Baca juga: Skema Baru Reforma Agraria Hak Pakai Resmi Dimulai di Penyangga IKN
Sementara lebar landasan pacu dirancang 45 meter dengan kapasitas apron mampu menampung berbagai jenis pesawat, mulai dari jet korporat hingga pesawat komersial berbadan lebar (wide body) secara simultan macam seri Boeing 777 dan Airbus A380.
Sedangkan sistem taxiway dibuat presisi untuk menjamin efisiensi pergerakan pesawat dari landasan ke terminal.
Plt Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam AlwanFasilitas eksklusif untuk tamu negara dan diplomatik dengan sistem keamanan tingkat tinggi juga tersedia.
Lobby dan check in counter atau area publik yang luas, dilengkapi dengan sistem pemrosesan penumpang digital untuk efisiensi waktu.
Terdapat tuang tunggu dan lounge, untuk refleksi dan bisnis yang nyaman bagi para pemangku kepentingan.
Saat ini, pengembangan Bandara Internasional Nusantara memasuki tahapan lanjutan, yakni pelelangan untuk fasilitas esensial lainnya, termasuk gedung perkantoran, fasilitas karantina, dan keimigrasian guna melengkapi fungsi Customs, Immigration, and Quarantine (CIQ).
Baca juga: Balikpapan-IKN Cuma 60 Menit! Tol Pulau Balang-Sp Itci Beroperasi 2027
Besarnya skala proyek ini tecermin dari alokasi anggaran yang signifikan untuk menjamin kualitas infrastruktur jangka panjang.
Plt Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam Alwan, mengungkapkan, investasi sisi udara mencapai angka Rp 4,2 triliun, difokuskan pada konstruksi runway, taxiway, apron, dan sistem navigasi udara.
Sementara investasi sisi darat diialokasikan sebesar Rp 800 miliar untuk pembangunan gedung terminal, akses jalan, dan infrastruktur penunjang lainnya.
Adapun biaya untuk menjaga standar layanan dan keamanan internasional, biaya operasional bandara diproyeksikan sebesar Rp 9 miliar per tahun.
Ruang tunggu Bandara VVIP IKNImam menegaskan, keberhasilan pendaratan jet pribadi berulang kali merupakan hasil dari pengujian sistem yang presisi.
"Bandara Internasional Nusantara telah menunjukkan performa yang sangat stabil. Fakta bahwa sejumlah jet pribadi telah mendarat dengan mulus berkali-kali di sini membuktikan bahwa kesiapan operasional, mulai dari sisi udara hingga navigasi, sudah berada pada level yang diharapkan," terang Imam.
Imam melanjutkan, kehadiran jet pribadi ini mencerminkan kepercayaan diri pasar. Aksesibilitas udara yang mumpuni adalah syarat mutlak bagi sebuah ibu kota baru untuk dapat bersaing di level global.
Baca juga: Eksplorasi Harta Karun Migas Dekat IKN Gunakan Skema HPL
Bandara ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pintu masuk bagi pejabat, tetapi bertransformasi menjadi hub logistik yang akan mempercepat distribusi barang dan jasa di Kalimantan Timur.
"Tantangan ke depan bagi kami adalah menjaga konsistensi layanan di tengah meningkatnya minat kunjungan ke IKN Tahap II," cetus Imam.
Dengan koordinasi yang kuat antara kementerian terkait dan Badan Bank Tanah selaku penyedia lahan, Bandara Internasional Nusantara diprediksi akan menjadi salah satu bandara paling strategis di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang