Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BI Balikpapan Perkuat Ekonomi Syariah di Penyangga IKN via PESAN 2026

Kompas.com, 9 Mei 2026, 13:28 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan hanya magnet bagi investasi infrastruktur masif, tetapi juga menjadi panggung pembuktian bagi model ekonomi baru yang lebih inklusif.

Di wilayah penyangga seperti Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser, instrumen keuangan syariah kini diposisikan sebagai tulang punggung baru untuk menjaga stabilitas ekonomi kawasan.

Baca juga: Inflasi Kaltim Melandai, tapi Transportasi dan Energi Masih Menghantui

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan menggelar secara resmi Pekan Ekonomi Syariah Nusantara (PESAN) 2026.

Acara yang akan berlangsung pada 27–28 Juni 2026 di Pentacity Mall ini merupakan bagian dari rantai pasok strategi nasional menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Injeksi Kemandirian di Koridor Penyangga

Fokus utama PESAN kali ini adalah aksi nyata penguatan halal value chain.

Bank Indonesia menyoroti kemandirian ekonomi pesantren dan UMKM halal merupakan kunci agar daerah penyangga IKN tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dalam ekosistem ibu kota baru.

Data menunjukkan bahwa potensi ekonomi syariah Indonesia terus merangkak naik, dengan pangsa pasar sektor ekonomi halal yang kini mencapai lebih dari 20 persen dari total PDB nasional.

Baca juga: BI Balikpapan Siapkan Uang Tunai Rp 2 Triliun untuk Lebaran, Melesat 11 Persen

Di level lokal, penguatan ini dilakukan melalui sertifikasi halal massal dan pendampingan ekspor produk lokal.

Deputi Direktur yang juga Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menekankan bahwa efektivitas ekonomi syariah terletak pada sinergi aset finansial dan sosial.

Menurutnya, PESAN 2026 menjadi momentum strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah yang berkelanjutan di wilayah Balikpapan dan sekitarnya.

"Kami tidak hanya bicara soal perdagangan, tetapi juga penguatan sektor keuangan sosial seperti zakat dan wakaf produktif yang akan menjadi katalisator penting bagi daya saing kawasan dalam mendukung IKN," ujar Robi, dikutip Kompas.com, Sabtu (9/5/2026).

Instrumen Keuangan Masa Depan

Salah satu terobosan yang menarik perhatian adalah inisiatif lelang wakaf produktif.

Berbeda dengan wakaf konvensional yang bersifat statis, wakaf produktif dikelola untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi yang hasilnya disalurkan untuk kepentingan publik.

Inovasi ini diharapkan mampu menutup celah pembiayaan pada sektor-sektor produktif yang belum terjangkau oleh perbankan komersial.

Langkah ini mempertegas peran Bank Indonesia sebagai regulator yang juga berfungsi sebagai akselerator ekosistem.

Baca juga: Inflasi Kaltim Melandai, tapi Transportasi dan Energi Masih Menghantui

Robi menuturkan, dengan melibatkan 53 kawasan strategis dan menggandeng akademisi serta komunitas pesantren, PESAN 2026 mencoba menyusun profil ekonomi syariah yang lebih modern dan melek digital.

Meski potensinya besar, tantangan literasi keuangan syariah masih membayangi. Berdasarkan survei nasional, indeks literasi ekonomi syariah Indonesia berada di angka 28,01 persen pada tahun lalu.

"Angka ini menunjukkan masih ada ruang lebar untuk edukasi, terutama dalam pemanfaatan teknologi finansial syariah di kalangan pelaku usaha mikro di Penajam Paser Utara dan Paser," imbuh Robi.

Melalui workshop branding dan kemasan produk, BI berusaha menghapus stigma bahwa produk syariah hanya unggul di aspek religiusitas namun lemah di kualitas visual dan pemasaran.

"Targetnya produk lokal Kalimantan Timur harus mampu menembus pasar internasional melalui jalur ekspor halal," tuntas Robi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau