Namun, rencana penggunaan taksi terbang untuk jangka pendek dan menengah dipastikan tidak menjadi prioritas dan belum akan dilanjutkan, meski uji coba teknis berjalan mulus.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, memberikan pernyataan yang lugas dan menohok mengenai penundaan ini.
Bagi Basuki, kebijakan transportasi di IKN harus didasarkan pada kebutuhan riil, bukan sekadar daya tarik teknologi.
Baca juga: Kereta Tanpa Rel dan Taksi Terbang IKN Tinggal Mimpi, Basuki: Tak Urgent
"Mobil saja belum ada, mau naik taksi terbang. Jadi belum urgent sekarang, menurut saya," kata Basuki menjawab pertanyaan Kompas.com.
Saat ini, IKN baru menampung sekitar 7.000 pekerja konstruksi, sementara populasi end-user macam ASN, penduduk, dan profesional belum memadai untuk menjamin kelayakan ekonomi dan operasional moda transportasi semahal taksi terbang.
Oleh karena itu, Otorita IKN memprioritaskan penyelesaian infrastruktur dasar terlebih dahulu seperti jalan, air, listrik, dan kantor Lembaga Negara serta penyediaan kendaraan listrik darat (EV Bus) sebagai solusi mobilitas yang paling mendesak dan efisien.
Pembatalan ini semakin menarik karena uji coba teknologi taksi terbang di IKN, yang melibatkan kendaraan nirawak, secara teknis telah dilaksanakan.
POC sebelumnya berhasil menarik perhatian, memperlihatkan potensi vertical mobility di atas kawasan IKN.
Meskipun sukses terbang, teknologi yang ada saat ini, termasuk pada Kereta Otonom Tanpa Rel (ART) yang juga diretur ke China, menunjukkan bahwa sistem otonom (nirawak) belum sepenuhnya matang dan sering memerlukan intervensi manual.
Otorita IKN memandang bahwa teknologi canggih ini akan terus berkembang pesat.
Basuki memproyeksikan penerapan moda transportasi masa depan yang benar-benar matang baru akan dilakukan pada fase 2040 hingga 2045, di mana inovasi teknologi diprediksi akan jauh lebih efisien dan andal.
Alih-alih menunggu taksi terbang, Otorita IKN mengalihkan seluruh sumber daya dan fokus pada solusi transportasi hijau darat yang lebih realistis untuk fase awal 2026
Bus Listrik akan menjadi tulang punggung transportasi publik dalam waktu dekat, sejalan dengan komitmen IKN sebagai kota yang mengedepankan Net Zero Emission.
Selain itu, pembangunan jalur pedestrian dan sepeda yang masif juga menjadi prioritas untuk mendukung mobilitas mikro yang berkelanjutan, meminimalkan kebutuhan akan kendaraan pribadi yang padat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.