Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kereta Tanpa Rel dan Taksi Terbang IKN Tinggal Mimpi, Basuki: Tak Urgent

Kompas.com, 4 November 2025, 09:32 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Mimpi Ibu Kota Nusantara (IKN) punya sarana transportasi canggih seperti kota-kota maju di China, macam Shenzhen, Hangzhoi, Chongqing, dan Shanghai, pupus sudah.

Hal ini menyusul penegasan Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, bahwa program autonomous rail transit atau kereta otonom tanpa rel dan sky taxi atau taksi terbang yang diwacanakan menjadi bagian dari ekosistem transporrasi berkelanjutan tidak memiliki urgensi.

Basuki menyatakan bahwa fokus pembangunan saat ini adalah pada hal-hal yang lebih penting, yaitu pembangunan kantor, hunian, dan konsep Smart Forest City.

Baca juga: Uji Terbang Sky Taxi IKN Buatan Hyundai Sukses, Take Off dan Landing Mulus

"Mobil saja belum ada, mau naik taksi terbang. Jadi belum urgent sekarang, menurut saya. Dan itu teknologinya pasti nanti 'kan masih berkembang terus. Nanti teknologinya pasti lebih baik dari pada temuan teknologi yang sekarang," ujar Basuki menjawab Kompas.com.

Ia memberi sinyal bahwa moda canggih ini mungkin baru akan relevan pada tahun 2040 atau 2045 sebagai ultimate goal IKN.

Untuk jangka pendek, prioritas akan dialihkan pada pengembangan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) darat, terutama bus publik EV, yang akan mulai digunakan di IKN pada tahun 2026.

Purwarupa Hyundai Sky Taxi. Sky taxi atau taksi terbang merupakan Urban Air Mobility-Advances Air Mobility (UAM-AAM) sebagai bagian Dari mobilitas cerdasKOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Purwarupa Hyundai Sky Taxi. Sky taxi atau taksi terbang merupakan Urban Air Mobility-Advances Air Mobility (UAM-AAM) sebagai bagian Dari mobilitas cerdas
Moda Transportasi Canggih yang Sudah Uji Coba (PoC)

Meskipun secara operasional belum menjadi prioritas utama, baik Kereta Otonom maupun Taksi Terbang telah menjalani tahap Proof-of-Concept (PoC), sekaligus menunjukkan komitmen awal terhadap teknologi futuristik di IKN.

Berikut spesifikasi teknis kedua moda transportasi tersebut:

Kereta Otonom Tanpa Rel atau Autonomous Rail Transit (ART)

Kereta Otonom adalah transportasi massal berbasis listrik yang didukung teknologi otonom.

  • Pabrikan (PoC IKN): CRRC Qingdao Sifang (China)
  • Jenis Kendaraan: Trem Otonom Terpadu/Kereta Otonom Tanpa Rel 
  • Teknologi Utama: Otonom, Navigasi Otonom, V2X (Vehicle-to-Everything), Sensor Lidar (panduan marka virtual) 
  • Kapasitas Penumpang: 300 orang (3 gerbong) hingga 500 orang (5 gerbong) 
  • Kecepatan Maksimum: 70 km/jam 
  • Jarak Tempuh (Sekali Cas): 70 km (dengan baterai Lithium-Titanate)

Baca juga: Pelajaran Berharga dari Kegagalan Kereta Tanpa Rel China di IKN

Sempat diuji coba pada Agustus 2024 dan digunakan saat HUT ke-79 RI, namun berdasarkan evaluasi PoC pada November 2024, trem ini memerlukan pengemudi dan dianggap belum optimal beroperasi otonom penuh, sehingga berencana dikembalikan ke China. 

Namun, kelebihan armada ini adalah biaya investasi lebih efisien (tidak memerlukan rel konvensional), ramah lingkungan (listrik), dan berkapasitas besar. 

Taksi Terbang (Sky Taxi)

Taksi Terbang merupakan bagian dari pengembangan Urban Air Mobility (UAM) di IKN.

  • Model (PoC IKN): Optionally Piloted Personal Air Vehicle (OPPAV) - HL016X 
  • Pabrikan/Pengembang: Hyundai Motors Company (HMC) dan Korea Aerospace Research Institute (KARI) |
  • Kapasita: 5 orang 
  • Uji Terbang (PoC): Dilakukan di Bandara APT Pranoto, Samarinda (Juli 2024)
  • Ketinggian Uji Coba: 50 - 80 meter 
  • Kecepatan Uji Coba: 50 km/jam

Uji terbang HL016X dilakukan pada 1 Juli 2024 di Bandara APT Pranoto, Samarinda, pada pagi waktu setempat.

Sky taxi ini mampu terbang dan mendarat mulus tanpa distraksi membentuk rute angka 8.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau