Penulis
NUSANTARA, KOMPAS.com - Stigma mengenai pertanian tradisional yang identik dengan kerja fisik berat, efisiensi rendah, dan minim kepastian pendapatan menjadi penyebab utama enggannya generasi muda turun ke sawah.
Namun, di perkampungan lereng Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Komunitas Organik Brenjonk membalikkan narasi tersebut.
Baca juga: Kantongi Omzet Miliaran Tanpa Utang Bank, Desa Ketapanrame Mandiri Lewat Saham Rakyat
Di bawah koordinasi Slamet, kawasan ini mentransformasi lahan pertanian menjadi sentra produksi pangan modern berbasis teknologi dirgantara tanpa awak (drone) dan standardisasi mutu yang ketat.
Langkah digitalisasi dan sertifikasi ini mengubah pertanian organik dari sekadar gerakan lingkungan menjadi industri hulu yang memiliki kepastian pasar komersial (captive market).
Integrasi teknologi ini mampu memotong biaya operasional harian secara signifikan, sekaligus menarik minat angkatan kerja muda untuk kembali mengelola aset agraria daerah.
Slamet bercerita, sebelum pemanfaatan teknologi diterapkan, proses penyemprotan pupuk organik cair dan pestisida alami pada lahan berundak memerlukan waktu dan tenaga kerja yang besar.
Dengan metode manual, satu hektar lahan membutuhkan waktu pengerjaan hingga seharian penuh dengan risiko persebaran nutrisi tanaman yang tidak merata.
Pengenalan drone penyemprot (sprayer drone) pun mengubah total manajemen perawatan tanaman di Brenjonk.
Dengan teknologi pemetaan udara, satu hektar lahan pertanian kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 15 hingga 20 menit.
Baca juga: BI Balikpapan Saring UMKM Masuk Pasar Digital agar Tak Jadi Penonton di IKN
Akurasi semprotan yang konsisten ini meminimalisasi pemborosan cairan organik, menjaga kadar kelembapan tanah, serta melindungi kesehatan tanaman secara simultan.
Slamet menjelaskan, modernisasi alat mesin pertanian ini berdampak langsung pada penurunan biaya produksi harian korporasi tani.
Dia menambahkan, teknologi drone bukan untuk pamer, tetapi untuk menjawab kelangkaan tenaga kerja di desa dan memotong biaya operasional secara riil.
"Efisiensi waktu dan tenaga kerja ini memangkas pengeluaran hulu hingga 40 persen dibandingkan metode konvensional," kata Slamet, saat Capacity Building bagi media yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan, Jumat (22/5/2026).
Melalui efisiensi biaya yang masif dan produktivitas yang stabil, investasi pengadaan teknologi pertanian ini mampu mencapai titik impas atau Break-Even Point (BEP) pada tahun ketiga masa operasional.
Indikator ini membuktikan bahwa mekanisasi pertanian modern skala perdesaan memiliki kelayakan investasi yang tinggi dan dapat direplikasi oleh klaster tani lainnya.