Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Petani Brenjonk Andalkan Drone Tembus Ritel Premium, Cetak Omzet Rp 1,8 Miliar

Kompas.com, 23 Mei 2026, 23:43 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Stigma mengenai pertanian tradisional yang identik dengan kerja fisik berat, efisiensi rendah, dan minim kepastian pendapatan menjadi penyebab utama enggannya generasi muda turun ke sawah.

Namun, di perkampungan lereng Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Komunitas Organik Brenjonk membalikkan narasi tersebut.

Baca juga: Kantongi Omzet Miliaran Tanpa Utang Bank, Desa Ketapanrame Mandiri Lewat Saham Rakyat

Di bawah koordinasi Slamet, kawasan ini mentransformasi lahan pertanian menjadi sentra produksi pangan modern berbasis teknologi dirgantara tanpa awak (drone) dan standardisasi mutu yang ketat.

Langkah digitalisasi dan sertifikasi ini mengubah pertanian organik dari sekadar gerakan lingkungan menjadi industri hulu yang memiliki kepastian pasar komersial (captive market).

Integrasi teknologi ini mampu memotong biaya operasional harian secara signifikan, sekaligus menarik minat angkatan kerja muda untuk kembali mengelola aset agraria daerah.

Drone dan Efisiensi Struktur Biaya

Slamet bercerita, sebelum pemanfaatan teknologi diterapkan, proses penyemprotan pupuk organik cair dan pestisida alami pada lahan berundak memerlukan waktu dan tenaga kerja yang besar.

Dengan metode manual, satu hektar lahan membutuhkan waktu pengerjaan hingga seharian penuh dengan risiko persebaran nutrisi tanaman yang tidak merata.

Pengenalan drone penyemprot (sprayer drone) pun mengubah total manajemen perawatan tanaman di Brenjonk.

Dengan teknologi pemetaan udara, satu hektar lahan pertanian kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 15 hingga 20 menit.

Baca juga: BI Balikpapan Saring UMKM Masuk Pasar Digital agar Tak Jadi Penonton di IKN

Akurasi semprotan yang konsisten ini meminimalisasi pemborosan cairan organik, menjaga kadar kelembapan tanah, serta melindungi kesehatan tanaman secara simultan.

Slamet menjelaskan, modernisasi alat mesin pertanian ini berdampak langsung pada penurunan biaya produksi harian korporasi tani.

Dia menambahkan, teknologi drone bukan untuk pamer, tetapi untuk menjawab kelangkaan tenaga kerja di desa dan memotong biaya operasional secara riil.

"Efisiensi waktu dan tenaga kerja ini memangkas pengeluaran hulu hingga 40 persen dibandingkan metode konvensional," kata Slamet, saat Capacity Building bagi media yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan, Jumat (22/5/2026).

Melalui efisiensi biaya yang masif dan produktivitas yang stabil, investasi pengadaan teknologi pertanian ini mampu mencapai titik impas atau Break-Even Point (BEP) pada tahun ketiga masa operasional.

Indikator ini membuktikan bahwa mekanisasi pertanian modern skala perdesaan memiliki kelayakan investasi yang tinggi dan dapat direplikasi oleh klaster tani lainnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau