Penulis
Komunitas Brenjonk saat ini mengelola total luas lahan kelolaan terintegrasi mencapai lebih dari 146 hektar, dengan variasi komoditas pangan yang mencakup 35 jenis sayuran organik, beras merah, beras hitam, hingga tanaman herbal.
Untuk keluar dari ketergantungan pada tengkulak tradisional yang kerap mempermainkan harga, Brenjonk menempuh jalur standardisasi hukum melalui perolehan Sertifikat Organik dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS).
Sertifikasi resmi ini menjadi tiket masuk bagi produk Brenjonk ke jaringan ritel modern dan pasar premium nasional.
Baca juga: Merajut Nusantara Lewat Wastra, Upaya BI Mengawinkan 2 Pakem Berbeda
Komunitas ini telah mengunci kontrak pasokan tetap (captive market) dengan sejumlah jaringan supermarket besar seperti Superindo, Papaya Fresh Gallery, dan Ranch Market.
Selain pasar retail, pasokan sayur premium Brenjonk didistribusikan langsung secara rutin untuk memenuhi standar dapur hotel berbintang dan restoran kelas atas di wilayah Surabaya, Malang, dan sekitarnya.
Arus distribusi yang stabil ke pasar premium ini mengamankan omzet kelompok tani pada angka yang kompetitif, berkisar antara Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulan, atau mencapai lebih dari Rp 1,8 miliar per tahun.
Kepastian harga jual di atas rata-rata pasar konvensional ini memberikan stabilitas pendapatan bagi para petani anggota komunitas.
Sayuran organik yang didistribusikan Secara komersial ke supermarket-supermarket NasionalTransformasi Brenjonk dipercepat oleh intervensi program penguatan kapasitas dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur.
Melalui program pembinaan klaster ketahanan pangan, Bank Indonesia (BI) tidak sekadar memberikan bantuan prasarana fisik, melainkan memfasilitasi pelaksanaan business matching keuangan, pelatihan akuntansi pertanian terdigitalisasi, hingga penguatan akses pasar hulu-hilir.
Baca juga: Goresan Malam Sang Penyintas Kanker, Menduniakan Batik Kalimantan
Keterlibatan BI berfungsi sebagai katalisator yang menaikkan status kelompok tani menjadi lembaga usaha mikro yang layak menerima pembiayaan perbankan formal (bankable).
Dampak paling signifikan dari ekosistem tani modern dan menguntungkan ini adalah keberhasilan program regenerasi profesi.
Saat mayoritas desa di Indonesia kehilangan tenaga kerja muda, Komunitas Brenjonk mencatat bahwa 20 persen dari total 106 petani pengelola saat ini merupakan anak-anak muda berusia di bawah 35 tahun.
Para petani muda ini tidak lagi bertugas mencangkul secara manual, melainkan berperan sebagai operator teknologi: menerbangkan drone, mengelola aplikasi manajemen air, memantau data analitik pasar, hingga menangani sistem logistik digital ke supermarket.
Pertanian organik berbasis teknologi di Desa Penanggungan ini memberikan cetak biru berharga bagi ketahanan pangan nasional.
Keberhasilan Slamet dan Komunitas Brenjonk membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang konsisten, standardisasi sertifikasi, dukungan instrumen moneter seperti BI, serta pemanfaatan teknologi tepat guna, sektor pertanian mampu bertransformasi menjadi lapangan kerja modern yang terhormat, kompetitif, dan berkelanjutan bagi generasi masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang