Penulis
Kedua, lompatan harga rumah yang terlalu tinggi memicu resistensi psikologis bagi calon pembeli, yang memilih menunda eksekusi transaksi KPR.
Kemunduran pasar residensial turut mengubah lanskap struktur pembiayaan.
"Skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi instrumen utama pemilikan hunian berjangka panjang, namun pangsa penggunaannya merosot dari 87,7 persen pada triwulan I-2025 menjadi 71 persen pada kuartal ini," papar Robi.
Penurunan porsi KPR ini sejalan dengan jatuhnya angka penjualan pada kategori rumah tipe kecil yang umumnya berbasis pembiayaan bank.
Baca juga: IKN Siap Sambut Gelombang Eksodus ASN ke IKN, Ada Sekolah dan Rumah Sakit
Sementara itu, metode pembayaran tunai keras mengambil porsi 15 persen, disusul tunai bertahap sebesar 14 persen.
Untuk mengantisipasi pembatasan kualitas kredit calon konsumen serta bayang-bayang kenaikan suku bunga KPR, para pengembang kini mengubah strategi.
Fokus pembangunan dialihkan dari rumah tipe besar ke penyediaan tipe kecil dan menengah yang memiliki keterjangkauan harga lebih realistis bagi kantong konsumen lokal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang