Penulis
Karakteristik IKN yang dibangun dari lahan mentah dinilai memiliki kesamaan struktural dengan proses pembangunan Kota Mandiri Sejong di Korea Selatan yang sukses menerapkan efisiensi energi dan jaringan intermoda berbasis digital.
Baca juga: Otorita Gandeng Empat Kampus, IKN Jadi Laboratorium Hidup
Director MoLIT, Choi Jung-won, menjelaskan, SCCC diproyeksikan sebagai platform kerja sama bilateral jangka panjang, bukan sekadar proyek pengadaan fasilitas sesaat.
Menurutnya, Korea juga membangun sebuah kota baru yang menjadikannya sebagai sebuah kota pintar, yaitu Sejong.
"Maka dari itu, Nusantara dapat memiliki kesempatan tersebut juga, melalui kolaborasi teknologi smart city yang kita miliki. Saya berharap SCCC ini dapat berjalan serta menjadi momentum perkembangan kerja sama ke depan,” tutur Choi Jung-won.
Tantangan riil dari adopsi teknologi kota pintar berskala makro ini terletak pada interoperabilitas sistem.
Perangkat lunak dan protokol bangunan yang dikembangkan oleh Korea Selatan harus mampu melebur secara fleksibel dengan infrastruktur jaringan telekomunikasi domestik yang sedang dibangun oleh kementerian teknis Indonesia.
Baca juga: Greater Nusantara Dirancang Jadi Superhub Ekonomi di Luar Jawa
Risiko kegagalan integrasi data harian dapat memicu pembengkakan biaya perawatan utilitas pascakonstruksi.
Otorita IKN menjadwalkan masa konstruksi gedung SCCC berjalan selama sepuluh bulan dengan target rampung total pada akhir tahun 2027.
Keberhasilan pusat kerja sama ini nantinya akan diuji dari sejauh mana laboratorium tersebut mampu melahirkan inovasi digital yang mandiri serta dapat diadopsi oleh ekosistem pendidikan dan pelaku usaha rintisan lokal di dalam delineasi wilayah Nusantara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang