Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sekali Lagi, Universitas Top Dunia yang Masuk di IKN Tidak Bangun Kampus

Kompas.com, 20 Maret 2024, 12:00 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Sejumlah universitas top dunia macam Standford University, Leiden University, Delft University, dan Erasmus University dikabarkan masuk ke Ibu Kota Nusantara (IKN).

Namun, kampus-kampus yang telah membidani kelahiran tokoh-tokoh hebat, dan riset dan jurnal-jurnal berpengaruh tersebut bukanlah membangun kampus untuk kegiatan perkuliahan.

Nama-nama besar itu diketahui berencana membangun pusat riset dan laboratorium tesis. Sekali lagi, bukan kampus.

Hal ini, seperti diakui Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Bambang Susantono, bahwa untuk membangun suatu universitas, memang ada sejumlah ketentuan yang harus dipenuhi.

Terutama harus mempersiapkan kurikulum hingga jumlah populasi mahasiswanya.

Baca juga: Bukan Kampus, Stanford Bangun Pusat Riset di IKN

"Ada beberapa kelengkapan yang harus disiapkan, laboratoriumnya, dan segala macam. Jadi, ya kita mulai dengan pusat riset. Pusat riset itu menampung researcher," ungkap Bambang, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPR RI di Jakarta, Senin (18/3/2024).

Oleh karena itu, lanjut Bambang, Standford University hanya akan membuka pusat riset di IKN.

Namun demikian, pusat riset tersebut merupakan bentuk awal dari pendirian kampus oleh Stanford University yang mungkin saja bisa mulai dibangun dalam dua atau tiga tahun mendatang.

"Pusat riset ini adalah bentuk awal dari satu kampus yang mungkin setelah 2-3 tahun dengan melihat kondisi yang ada akan dikembangkan lebih lanjut," ujar Bambang.

Baca juga: Pembangunan Gedung DPR di IKN Baru Dimulai Tahun Depan

Adapun Stanford University dan OIKN telah melaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pembangunan pusat riset pada tahun 2023.

Pusat riset ini akan dibuka oleh Stanford Doerr School of Sustainability, yang ada di bawah naungan Stanford University.

Pemerintah telah menyediakan lahan seluas tiga hektar untuk pembangunan pusat riset Stanford tersebut yang akan berlokasi di kawasan inti IKN dan pembangunannya dilakukan oleh alumni Stanford.

Sementara Leiden, Delft, dan Erasmus (LDE) University beraliansi untuk mengembangkan laboratorium tesis.

Baca juga: Tahun 2024, Otorita IKN Dapat Kucuran Anggaran Rp 434 Miliar

Rencana tiga kampus ini tertuang dalam penandatanganan MoU yang dilakukan di Kantor OIKN, Jakarta, Senin (18/07/2024), oleh Kepala Otorita IKN Bambang Susantono, dan dekan LDE Profesor Wim van den Doel.

MoU tersebut dilakukan kurang dari enam bulan sebelum Indonesia berencana untuk meresmikan bagian tengah IKN melalui peringatan Hari Kemerdekaan ke-79 pada tanggal 17 Agustus 2024.

Universitas LDE akan menjadi mitra pengetahuan Otoritas IKN, dalam bidang perencanaan perkotaan terintegrasi, pengembangan kota cerdas, pengelolaan air dan limbah yang berkelanjutan.

Kemudian sistem transportasi pintar, komunitas yang tangguh dan inklusif, mitigasi iklim, serta keanekaragaman hayati perkotaan dan kebun botani.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau