Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deflasi Balikpapan dan PPU: Harga Turun Berkat Panen Raya, Tapi Waspada Ancaman Gelombang Laut

Kompas.com, 9 September 2025, 08:42 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com – Warga Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) bisa sedikit bernapas lega.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kedua wilayah ini kompak mengalami deflasi pada bulan Agustus 2025.

Kota Balikpapan mencatat deflasi 0,73 persen (mtm), sementara Kabupaten PPU mengalami deflasi 0,78 persen (mtm).

Baca juga: Ini Titik Krusial Batas Wilayah IKN dengan Balikpapan

Ini adalah kabar positif yang menunjukkan harga kebutuhan pokok dan jasa di kedua daerah tersebut cenderung menurun, jauh lebih rendah dari target inflasi nasional.

Namun, di balik angka deflasi yang menenangkan, ada "perang" pasokan dan harga yang perlu diwaspadai.

Angin Segar Deflasi

Penurunan harga di kedua daerah ini didorong oleh faktor-faktor yang sama melimpahnya pasokan, berikut rinciannya:

1. Transportasi

Di Balikpapan, kelompok ini menjadi penyumbang deflasi terbesar. Tarif angkutan udara turun drastis karena adanya promo diskon, penambahan rute, dan berakhirnya liburan sekolah.

2. Panen Raya

Baik di Balikpapan maupun PPU, harga komoditas pangan seperti tomat dan cabai rawit anjlok.

Baca juga: BI Rate Turun, Sektor Properti dan Otomotif Balikpapan Kian Menggeliat

Hal ini disebabkan oleh masuknya periode panen raya di daerah-daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi, yang membuat pasokan melimpah di tengah permintaan yang stabil.

3. Faktor Lokal

Di Balikpapan, deflasi juga didukung oleh penurunan biaya Sekolah Menengah Pertama (SMP) berkat subsidi pemerintah. Di PPU, harga semangka, sawi hijau, dan kacang panjang juga turun karena panen lokal.

Cuaca dan Gelombang Laut

Meskipun deflasi terjadi, tidak semua harga turun. Sejumlah komoditas justru mengalami kenaikan harga yang bisa menjadi ancaman inflasi pada masa depan.

Cuaca yang tidak menentu di daerah sentra produksi (Jawa dan Sulawesi) memicu kelangkaan bawang merah, ketimun, dan kacang panjang. Tanaman yang rentan penyakit membuat produksi menurun dan harga naik.

Baca juga: Jepang Garap Rancangan Penyatuan IKN, Balikpapan, dan Samarinda

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau