Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mendaulatkan Bahasa, Menyiapkan IKN Jadi Pusat Budaya Dunia

Kompas.com, 25 Oktober 2025, 21:58 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) sedang membangun narasi baru, bahwa pembangunan kota masa depan tidak hanya diukur dari kemegahan infrastruktur fisiknya, tetapi juga dari kedalaman identitas dan karakter peradaban yang mendasarinya.

Melalui Seminar Nasional Kebahasaan yang digelar dalam rangka Bulan Bahasa Nasional pada Jumat (14/10/2025), Otorita IKN menegaskan bahwa Penguatan Bahasa Indonesia adalah bagian integral dari DNA Ibu Kota baru.

Baca juga: Basilika Nusantara IKN, Simbol Kerukunan Beragama Tembus 55 Persen

Kegiatan yang bertema "Mendaulatkan Bahasa, Merajut Bangsa, Menembus Dunia" ini dilaksanakan di Kantor Kemenko 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN.

Inisiasi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen ini menjadi langkah konkret untuk mendorong pengutamaan penggunaan Bahasa Negara di seluruh wilayah Nusantara.

Sekretaris Otorita IKN, Bimo Adi Nursanthyasto, menekankan bahwa pembangunan IKN harus tumbuh dari akar budaya bangsa.

"Pembangunan fisik di IKN harus sejalan dengan jati diri dan budaya bangsa. Bahasa menjadi elemen pemersatu dan identitas bangsa yang harus dijaga dalam setiap langkah pembangunan," ujar Bimo.

Baca juga: Serba Canggih, Operasional IKN Berbasis AI, dari Deteksi Wajah hingga Tata Kota

Pernyataan ini menggarisbawahi pendekatan holistik Otorita IKN, yang melihat Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai pondasi peradaban yang harus kokoh di pusat pemerintahan baru.

Sinergi Kebijakan dan Dukungan Lintas Sektor

Komitmen penguatan bahasa ini diresmikan melalui penandatanganan prasasti penggunaan Bahasa Negara antara Sekretaris Otorita IKN dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin.

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah dan legislatif. Asisten III Pemprov Kalimantan Timur, Arief Murdiyantno, menyebut seminar ini sebagai momentum penting untuk memperkuat sinergi antarlembaga dalam merumuskan kebijakan kebahasaan.

Baca juga: Revolusi Digital Otorita, IKN Dikelola dengan Memanfaatkan AI

Harapannya, kebijakan ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah untuk melestarikan bahasa daerah, mengutamakan Bahasa Negara, dan meningkatkan penguasaan bahasa asing.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, memberikan apresiasi tinggi, memandang IKN sebagai pusat peradaban bahasa di masa depan, melampaui citranya sebagai kota yang indah secara fisik.

Mercusuar Peradaban

Kegiatan kebahasaan ini mengirimkan pesan kuat ke publik dan dunia internasional: transformasi Nusantara menjadi kota berkelas dunia akan berpijak pada kekuatan bahasa, budaya, dan nilai kebangsaan.

Baca juga: Otorita IKN Menuju Pemdasus, Batas Wilayah Disepakati

IKN diproyeksikan sebagai "Mercusuar Peradaban Indonesia di mata dunia".

Dengan mengutamakan Bahasa Indonesia dan memadukannya dengan pelestarian bahasa daerah serta penguasaan bahasa asing, Otorita IKN memastikan bahwa kota baru ini akan menjadi simbol kemajuan yang berakar kuat pada identitas nasional, memadukan modernitas dengan karakter budaya yang unik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau