Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menimbang Peluang Proyek Ambisius Kereta Lintas 3 Negara Menuju IKN

Kompas.com, 15 Desember 2025, 12:51 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Wacana konektivitas infrastruktur di Borneo, atau Pulau Kalimantan, memasuki babak paling ambisius dengan munculnya proposal pembangunan jaringan kereta yang menghubungkan tiga negara, Brunei, Malaysia, dan Indonesia.

Proposal yang digulirkan oleh Menteri Transportasi Sarawak dan sebelumnya oleh perusahaan swasta Brunei, BrunEnergy, menawarkan janji konektivitas regional yang tak tertandingi.

Namun, di balik janji tersebut, tersembunyi tantangan geografis, finansial, dan birokrasi yang kompleks di pihak Indonesia.

Baca juga: Basuki Optimistis Istana Wapres di IKN Tuntas Akhir Desember 2025

Pengamat Transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menyoroti bahwa realisasi proyek ini sangat bergantung pada keberanian pemerintah Indonesia dalam mengatasi hambatan domestik yang selama ini mengganjal pembangunan infrastruktur besar di luar Pulau Jawa.

"Sudah menjadi rahasia publik, pembangunan infrastruktur konektivitas di luar Pulau Jawa penuh dengan tantangan, tidak hanya soal dana, juga faktor geografis, dan kemauan kuat pemerintah," ujar Djoko kepada Kompas.com, Senin (15/12/2025).

Proposal Ambisius dan Urgensi Konektivitas IKN

Inisiatif pembangunan infrastruktur konektivitas berbasis rel ini dipicu oleh kesadaran bahwa Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim), sebagai Ibu Kota baru harus memiliki aksesibilitas regional yang kuat.

Menteri Transportasi Sarawak, YB Dato Sri Lee Kim Shin, mengajukan proposal jaringan rel yang akan menyambungkan wilayahnya ke jantung IKN.

Sebelumnya, perusahaan swasta Brunei, BrunEnergy, juga menunjukkan minat terhadap pembangunan ini, menunjukkan adanya kepentingan bisnis lintas batas yang kuat.

Baca juga: Perang Lawan Mafia dan Sapu Bersih IKN, Otorita Siapkan Renstra 2026

Kedua rencana ini, menurut Djoko, sangat mungkin untuk diintegrasikan, bahkan mendorong pihak Brunei dan Malaysia untuk bertindak sebagai investor utama.

"Mereka memiliki kepentingan nyata dalam membuka akses ke pusat administrasi dan ekonomi baru Indonesia, IKN," cetus Djoko.

Djoko juga menekankan, tantangan terbesar bagi proyek kereta lintas negara ini justru berada di sisi Indonesia, terutama di Kalimantan.

Pertama, adalah jarak yang ekstrem. Dari perbatasan Malaysia (Sarawak) menuju IKN, jarak tempuh diperkirakan lebih dari 1.700 kilometer, dihitung dari titik terjauh. Sementara dari Brunei ke IKN mencapai lebih dari 2.600 kilometer.

Kedua, kondisi geografis sulit, di mana jalur yang akan dilewati bukan jalan biasa. Kawasan tersebut masih didominasi hutan lindung, perbukitan berbatu, dan jalur perbatasan yang sulit seperti di sekitar Malinau, di mana terdapat jurang yang memerlukan biaya konstruksi luar biasa besar.

Baca juga: Komisi XI DPR RI Restui Penuh Kelanjutan Pembangunan IKN

Djoko membandingkan kesulitan ini dengan proyek rel yang lebih pendek di Indonesia, "Bangun rel kereta di Aceh saja yang cuma 60 kilometer, enggak beres-beres, apalagi yang dari utara Borneo ke IKN yang ribuan kilometer itu".

Ia juga menyoroti lambatnya realisasi kereta api yang menghubungkan Bandara Sepinggan di Balikpapan ke IKN, sebuah jalur yang hanya 60 kilometer dan desainnya sudah matang.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau