Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Demi Ibu Kota Berkelanjutan dan Tangguh, Apakah Betul IKN Dibutuhkan?

Menurut Direktur Arsitektur Lanskap Urban+, sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Rahman Andra Wijaya, topik itu dinilai menjadi sebuah diskursus yang masih ramai hingga sekarang.

Apabila dalam posisi mengevaluasi kebijakan IKN, dia mengaku memiliki banyak versi jawaban.

Sebaliknya, Rahman juga memiliki jawaban lain sebagai orang yang tergabung dalam tim yang merancang "Nagara Rimba Nusa", konsep desain kawasan IKN.

"Namun kalau saya dalam dalam posisi sebagai perencana IKN, yang bisa saya lakukan adalah memberikan yang terbaik secara moral, secara produk, agar bisa berjalan di dalam koridor yang tepat," ujar Rahman dalam Webinar berjudul "Sustainable & Resilient City" pada Kamis (24/10/2024).

Lanjut dia, jika kembali membandingkan dengan menyelamatkan DKI Jakarta untuk menjawab tantangan sustainable and resilient city, tentu bisa saja dilakukan.

"Jawabannya pasti bisa, tapi pertanyaannya adalah apakah pemimpin-pemimpin kita punya cukup kesabaran untuk melakukan itu semua," ucapnya.

Rahman pun mencotohkan proses penyiapan suatu proyek yang memakan waktu lama. Mulai dari mendengarkan aspirasi warga terdampak, kejelasan sumber dan alokasi pendanaan, melahirkan ide desain, merancang desain, menyiapkan tender proyek, hingga pembangunan.

"Jadi misal ada isu normalisasi dan naturalisasi. Nggak ada yang benar, nggak ada yang salah. Normalisasi adalah karena kita butuh cepat, kalau naturalisasi kita punya banyak waktu, tinggal yang mana yang mau kita ambil. Jadi tidak pernah ada satu jawaban," jelasnya.

Namun satu hal yang pasti, lanjut Rahman, saat ini yang bisa dilakukan masyarakat ialah mengawal perkembangan pembangunan IKN agar tetap sesuai koridor sustainable and resilient city.

"Seberapa cepat (IKN bisa jadi sustainable and resilient city), kita bisa dorong. Itu perlu peran serta kita semua," pungkasnya.

https://ikn.kompas.com/read/2024/10/24/201853787/demi-ibu-kota-berkelanjutan-dan-tangguh-apakah-betul-ikn-dibutuhkan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com