Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

"Healing" di IKN, Temukan Keindahan Alam dan Budaya Nusantara

Mereka menggelar "Jelajah Keindahan Nusantara" ke Gunung Parung pada Senin (12/5/2025), sebagai wujud healing di IKN atau rehat sejenak dari rutinitas.

Sebanyak 18 peserta dan 4 tour guide lokal dari Pokdarwis Hutan Adat Suku Balik Sepaku (HASBS) memulai pendakian pukul 02.53 WITA dini hari, seraya diterpa gerimis namun dengan semangat membara.

Tujuan mereka adalah Puncak Gunung Parung, salah satu permata tersembunyi di IKN yang menjanjikan panorama luar biasa.

"Yuk kita bareng-bareng healing, pokoknya keren dan seru walaupun tadi naiknya merosot-merosot karena agak licin, tapi teman-teman kompak banget dan semua peserta berhasil naik," seru Iroh, dalam keterangannya kepada Kompas.com, Rabu (14/5/2025).

Lautan Kabut IKN dari Puncak Gunung

Meski tak dapat menyaksikan matahari terbit secara langsung, perjuangan para ASN dan Non-ASN ini terbayar lunas.

Pemandangan IKN yang diselimuti lautan kabut dari ketinggian Gunung Parung sukses membuat mereka terpesona. Sebuah perspektif langka dan menakjubkan dari calon ibu kota baru Indonesia.

"Makasih ya udah ajak ke Gunung Parung, jangan lupa ajak-ajak lagi di kegiatan selanjutnya," ungkap Kartika.

Sepanjang perjalanan, suara alam seolah menjadi orkestra penyambut. Di antara pepohonan rimbun, terdengar lengkingan khas Owa Kalimantan (hylobates muelleri), spesies yang kini berstatus terancam punah.

Suara ikoniknya bukan hanya penanda kehadiran, tetapi juga pengingat akan urgensi menjaga kelestarian habitat alaminya di tengah pembangunan IKN.

Tak hanya menikmati keindahan, para peserta dan Pokdarwis juga menunjukkan kepedulian nyata terhadap lingkungan.

Mereka bahu-membahu mengumpulkan sampah yang ditinggalkan pendaki sebelumnya, membawanya turun, dan membuangnya pada tempat yang semestinya.

Sebuah aksi kecil namun berdampak besar dalam menjaga kelestarian alam Nusantara.

Namun, di balik keindahan alam yang memukau, terselip fakta menyedihkan yang diungkapkan oleh Arman, perwakilan Pokdarwis HASBS.

Menurutnya, produksi madu hutan di kawasan Gunung Parung kini kian menurun drastis!

"Dulu lebah mudah menemukan bunga hutan sebagai sumber nektar, tapi sekarang banyak pohon eucalyptus yang mengubah pola tumbuh tanaman di sekitar sini," jelas Arman.

Founder #HealingdiIKN Adinda Alya menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar sarana refreshing, tetapi juga mempererat kebersamaan dan sinergi dengan komunitas serta UMKM lokal Pokdarwis HASBS.

Ke depan, komunitas ini berencana menggelar berbagai kegiatan menarik lainnya, termasuk workshop, untuk mengisi akhir pekan para ASN dan Non-ASN dengan kegiatan positif, produktif, dan menyenangkan.

"Program-program akhir pekan berupa kegiatan outdoor menjelajahi alam serta kegiatan indoor berupa workshop, sangat dibutuhkan khususnya oleh para pegawai di IKN," ucapnya.

Kegiatan "Jelajah Keindahan Nusantara" ini membuktikan bahwa semangat untuk mencintai alam dan budaya dapat menjadi energi positif di tengah pembangunan mega proyek IKN.

https://ikn.kompas.com/read/2025/05/14/101723887/healing-di-ikn-temukan-keindahan-alam-dan-budaya-nusantara

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com