Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Kereta Tanpa Rel dan Taksi Terbang IKN Tinggal Mimpi, Basuki: Tak Urgent

Hal ini menyusul penegasan Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, bahwa program autonomous rail transit atau kereta otonom tanpa rel dan sky taxi atau taksi terbang yang diwacanakan menjadi bagian dari ekosistem transporrasi berkelanjutan tidak memiliki urgensi.

Basuki menyatakan bahwa fokus pembangunan saat ini adalah pada hal-hal yang lebih penting, yaitu pembangunan kantor, hunian, dan konsep Smart Forest City.

"Mobil saja belum ada, mau naik taksi terbang. Jadi belum urgent sekarang, menurut saya. Dan itu teknologinya pasti nanti 'kan masih berkembang terus. Nanti teknologinya pasti lebih baik dari pada temuan teknologi yang sekarang," ujar Basuki menjawab Kompas.com.

Ia memberi sinyal bahwa moda canggih ini mungkin baru akan relevan pada tahun 2040 atau 2045 sebagai ultimate goal IKN.

Untuk jangka pendek, prioritas akan dialihkan pada pengembangan kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) darat, terutama bus publik EV, yang akan mulai digunakan di IKN pada tahun 2026.

Berikut spesifikasi teknis kedua moda transportasi tersebut:

Kereta Otonom Tanpa Rel atau Autonomous Rail Transit (ART)

Kereta Otonom adalah transportasi massal berbasis listrik yang didukung teknologi otonom.

Sempat diuji coba pada Agustus 2024 dan digunakan saat HUT ke-79 RI, namun berdasarkan evaluasi PoC pada November 2024, trem ini memerlukan pengemudi dan dianggap belum optimal beroperasi otonom penuh, sehingga berencana dikembalikan ke China. 

Namun, kelebihan armada ini adalah biaya investasi lebih efisien (tidak memerlukan rel konvensional), ramah lingkungan (listrik), dan berkapasitas besar. 

Taksi Terbang (Sky Taxi)

Taksi Terbang merupakan bagian dari pengembangan Urban Air Mobility (UAM) di IKN.

  • Model (PoC IKN): Optionally Piloted Personal Air Vehicle (OPPAV) - HL016X 
  • Pabrikan/Pengembang: Hyundai Motors Company (HMC) dan Korea Aerospace Research Institute (KARI) |
  • Kapasita: 5 orang 
  • Uji Terbang (PoC): Dilakukan di Bandara APT Pranoto, Samarinda (Juli 2024)
  • Ketinggian Uji Coba: 50 - 80 meter 
  • Kecepatan Uji Coba: 50 km/jam

Uji terbang HL016X dilakukan pada 1 Juli 2024 di Bandara APT Pranoto, Samarinda, pada pagi waktu setempat.

Sky taxi ini mampu terbang dan mendarat mulus tanpa distraksi membentuk rute angka 8.

https://ikn.kompas.com/read/2025/11/04/093203587/kereta-tanpa-rel-dan-taksi-terbang-ikn-tinggal-mimpi-basuki-tak-urgent

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com