Bertepatan dengan rangkaian menyambut Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026, Otorita IKN mulai tancap gas mengorkestrasi perubahan radikal: menyulap sisa konsumsi menjadi pundi-pundi ekonomi melalui ekosistem ekonomi sirkular.
Pada Kamis (05/02/2026), Multifunction Hall Kantor Bersama 3 menjadi pusat gerakan "Memilah Sampah Menabung Emas".
Agenda ini merupakan implementasi nyata dari konsep Circular Economy di mana setiap gram plastik memiliki nilai tukar terhadap logam mulia.
Darurat Sampah Nasional vs Visi Bersih IKN
Langkah agresif Otorita IKN ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian LHK, Indonesia menghasilkan sekitar 68,5 juta ton sampah per tahun pada 2024-2025.
Dari total volume sampah itu, 17 persen di antaranya adalah plastik yang sulit terurai.
Di kawasan IKN sendiri, seiring dengan masifnya pembangunan dan bertambahnya populasi ASN serta pekerja konstruksi, volume sampah diprediksi akan terus merangkak naik.
Namun, berbeda dengan daerah lain yang masih bertumpu pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) konvensional, IKN menargetkan minimalisasi residu hingga titik terendah.
Menabung Emas dari Botol Bekas
Kunci utama dari strategi "Cuan Sampah" di IKN adalah kolaborasi antara teknologi digital dan lembaga keuangan.
Melalui program Forsepi dan PT Pegadaian, warga IKN diajak untuk tidak membuang botol plastik ke tempat sampah umum, melainkan menyetorkannya untuk dikonversi menjadi saldo tabungan emas.
Ketua Umum Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (Forsepi), Mirna Dewi Sukmawati, menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan mengubah psikologi masyarakat.
"Kita ingin masyarakat melihat botol plastik bukan sebagai limbah, tapi sebagai aset. Melalui manajemen berbasis teknologi, sampah yang dipilah setara dengan investasi masa depan di rekening Pegadaian," tuturnya.
Deputi Bisnis Area Wilayah Regional Kalimantan PT Pegadaian, Pangalinan Matandung, menambahkan bahwa integrasi ini memperkuat ekosistem ekonomi sirkular di IKN.
"Masyarakat mendapatkan manfaat finansial langsung dari kedisiplinan menjaga lingkungan," imbuhnya.
Mesin ATM Sampah di Jantung Kota
Dukungan sektor swasta turut mempercepat digitalisasi pengelolaan sampah di IKN. Mayora Group melalui kampanye Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional (GESN) menyerahkan unit Reverse Vending Machine (RVM) dari Plasticpay kepada Otorita IKN.
Mesin ini bekerja layaknya ATM, warga memasukkan botol plastik, dan mesin secara otomatis memberikan poin digital yang dapat dicairkan menjadi uang elektronik.
Sustainability Director Mayora Group, Tunky Natanael Kurniawan, menegaskan komitmen korporasi dalam menjaga IKN tetap sebagai kota berkelanjutan.
"Sejak 2021, kami konsisten mendorong sirkulasi ekonomi nasional. Di IKN, kami ingin memastikan sampah plastik dikelola agar kembali bermanfaat secara ekonomi, sejalan dengan prinsip kota bersih yang diusung Otorita," ujar Tunky.
Sementara itu, Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN, Myrna Asnawati Savitri, menekankan bahwa infrastruktur teknologi tidak akan berjalan tanpa perubahan perilaku.
Momentum HPSN 2026 dijadikan ruang untuk menyatukan tekad agar tidak terjadi penumpukan sampah di masa depan.
“Kunci utamanya adalah membangun kebiasaan mengelola sampah secara konsisten. Saya berharap dari pertemuan ini, semangat masyarakat semakin tumbuh untuk mengaktifkan praktik pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing,” tegas Myrna.
Sejalan dengan itu, Direktur Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Otorita IKN, Lazuardi Nasution, bersama Arif Rahman Abidin dari Plasticpay, terus merumuskan sistem penjemputan sampah yang lebih efektif di kawasan IKN agar tidak ada satu pun botol plastik yang "bocor" ke alam.
https://ikn.kompas.com/read/2026/02/06/104839887/transformasi-perilaku-sulap-sampah-jadi-cuan-di-ikn