Plt Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam Alwan, mengungkapkan, aspek pemeliharaan (maintenance) menjadi variabel determinan dalam menjaga kelaikan infrastruktur penerbangan di IKN tersebut.
Dia mengungkapkan nominal anggaran pemeliharaan sebesar Rp 9 miliar per tahun seiring standar prosedur operasional di bandara ini mengadopsi regulasi internasional guna menjamin keselamatan penerbangan (safety) dan keamanan (security).
Imam menjelaskan, alokasi biaya pemeliharaan merupakan konsekuensi logis dari spesifikasi teknis bandara yang dirancang untuk melayani pesawat berbadan lebar (wide body).
"Kendati belum didarati pesawat berbadan lebar, namun bandara ini sudah berfungsi, menjadi gerbang bagi para tamu penting negara dan juga para investor," ujar Imam kepada Kompas.com, Kamis (7/5/2026).
Proyek Strategis
Proyek strategis nasional ini menelan nilai investasi sekitar Rp 4,3 triliun, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Rinciannya, Rp 4,1 triliun untuk pembangunan sisi udara (airside), dan Rp 800 miliar untuk pembangunan sisi darat (landside).
Bandara Nusantara memiliki landas pacu (runway) sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter. Spesifikasi tersebut memungkinkan pesawat tipe Boeing 777-300ER atau Airbus A380 melakukan pendaratan dengan beban maksimal.
Fasilitas sisi udara dilengkapi dengan apron yang mampu menampung tiga pesawat berbadan lebar secara simultan, serta taxiway yang dirancang untuk efisiensi pergerakan sirkulasi udara.
Di sisi darat, terminal penumpang seluas 7.350 meter persegi dipersiapkan untuk melayani arus mobilisasi pejabat negara serta tamu VVIP/VIP pada tahap awal operasional penuh.
Kelengkapan fasilitas pendukung lainnya, mencakup gedung terminal VVIP, terminal VIP, menara pengawas lalu lintas udara (ATC), gedung administrasi, serta instalasi distribusi bahan bakar pesawat.
Imam menyebutkan bahwa kerumitan sistem kelistrikan dan navigasi penerbangan di bandara ini memerlukan pengawasan berkala yang ketat.
“Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh aset vital berfungsi optimal. Setiap komponen infrastruktur memiliki masa pakai dan jadwal kalibrasi yang tidak boleh dinegosiasikan demi menjamin integritas pelayanan,” tambah Imam.
Saat ini, pengembangan Bandara Internasional Nusantara memasuki tahapan lanjutan, yakni pelelangan untuk fasilitas esensial lainnya, termasuk gedung perkantoran, fasilitas karantina, dan keimigrasian guna melengkapi fungsi Customs, Immigration, and Quarantine (CIQ).
Fungsi Mobilitas dan Logistik
Imam menegaskan, keberhasilan pendaratan jet pribadi dan pesawat yang membawa tamu negara berulang kali ke bandara ini merupakan hasil dari pengujian sistem yang presisi.
"Bandara Internasional Nusantara telah menunjukkan performa yang sangat stabil. Fakta bahwa sejumlah jet pribadi telah mendarat dengan mulus berkali-kali di sini membuktikan bahwa kesiapan operasional, mulai dari sisi udara hingga navigasi, sudah berada pada level yang diharapkan," terang Imam.
Imam melanjutkan, kehadiran jet pribadi ini mencerminkan kepercayaan diri pasar. Aksesibilitas udara yang mumpuni adalah syarat mutlak bagi sebuah ibu kota baru untuk dapat bersaing di level global.
Bandara ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pintu masuk bagi pejabat, tetapi bertransformasi menjadi hub logistik yang akan mempercepat distribusi barang dan jasa di Kalimantan Timur.
"Tantangan ke depan bagi kami adalah menjaga konsistensi layanan di tengah meningkatnya minat kunjungan ke IKN Tahap II," cetus Imam.
https://ikn.kompas.com/read/2026/05/09/212513887/pemeliharaan-bandara-internasional-nusantara-ikn-rp-9-miliar-per-tahun