Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan dan aktivitas masyarakat di kawasan IKN tetap berjalan aman di tengah potensi cuaca ekstrem tahun ini.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada April 2026, sifat musim kemarau di IKN tahun ini diperkirakan berada pada kategori bawah normal. Kondisi tersebut berarti curah hujan selama musim kemarau diprediksi lebih rendah dibandingkan rata-rata normal.
Akibatnya, wilayah IKN berpotensi mengalami kondisi lebih kering sehingga risiko kekeringan dan karhutla meningkat.
BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026 dengan curah hujan berkisar 0-20 milimeter. Sementara itu, sejumlah titik panas terpantau terkonsentrasi di wilayah Sepaku, Samboja, Muara Jawa, dan sekitar Mentawir.
Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Komunikasi Publik, Troy Pantouw, mengatakan strategi mitigasi dilakukan agar aktivitas masyarakat dan pembangunan di wilayah IKN tidak terganggu.
"Fenomena El Nino merupakan siklus alam yang perlu diantisipasi bersama. Karena itu, Otorita IKN telah menggagas sejumlah strategi mitigasi dan kesiapsiagaan, khususnya dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan, agar aktivitas masyarakat serta pembangunan di IKN tetap berjalan optimal dan tidak terganggu," kata Troy, dikutip Kamis (14/05/2026).
Strategi Pencegahan dan Deteksi Dini
Mengantisipasi kondisi tersebut, Otorita IKN menyiapkan strategi pengendalian karhutla mulai dari tahap pencegahan, kesiapsiagaan dan deteksi dini, pemadaman, hingga penanganan pasca-kebakaran.
Pada tahap pencegahan, Otorita IKN menyiapkan regulasi dan standar operasional prosedur (SOP) penanganan karhutla. Selain itu, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, termasuk masyarakat adat, juga diperkuat.
Penyampaian informasi turut dilakukan melalui kegiatan keagamaan seperti dakwah, serta pengawasan diperketat di kawasan rawan kebakaran.
Dalam tahap kesiapsiagaan dan deteksi dini, Otorita IKN mengoptimalkan pemanfaatan teknologi melalui pemasangan sensor kebakaran hutan di tujuh kawasan delineasi IKN yang memiliki potensi karhutla.
Pemantauan dilakukan secara langsung melalui command center Otorita IKN yang terintegrasi dengan sistem panggilan darurat dan panic button guna mempercepat respons penanganan.
Pos Damkar Disiapkan di Lima Lokasi
Selain memperkuat sistem deteksi dini, Otorita IKN juga menyiapkan infrastruktur pemadaman kebakaran di sejumlah titik.
Pos pemadam kebakaran disediakan di lima lokasi, yakni Maridan, Sepaku, Samboja, Loa Janan, dan Muara Jawa, termasuk pos damkar di kawasan KIPP IKN.
Otorita IKN juga memetakan potensi sumber air di kawasan delineasi guna memastikan ketersediaan pasokan air saat proses pemadaman berlangsung.
Sementara itu, pada tahap pasca-kebakaran, dilakukan inventarisasi luas area terdampak karhutla, pengawasan wilayah pascakejadian, serta penanganan lanjutan untuk mencegah kebakaran berulang.
Selain itu, Otorita IKN juga menggandeng desa dan lintas pemangku kepentingan melalui program masyarakat peduli api, masyarakat mitra polhut, dan desa tangguh bencana guna memperkuat kesiapan penanganan karhutla secara terpadu dan berkelanjutan.
https://ikn.kompas.com/read/2026/05/14/190000887/ancaman-el-nino-mengintai-ikn-siagakan-sistem-penanganan-karhutla