Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BI Optimistis Ekonomi Penyangga IKN, Balikpapan, PPU, dan Paser Tumbuh Positif

Kompas.com, 3 Desember 2024, 17:03 WIB
Add on Google
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) optimistis ekonomi tiga kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) yakni Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Paser, tetap tumbuh positif.

Hal itu ditegaskan Kepala BI Perwakilan Balikpapan Robi Ariadi usai acara Diseminasi Ekonomi Regional Tahunan 2024, di Balikpapan, Selasa (3/12/2024).

"Ketiga penyangga IKN ini akan melanjutkan tren pertumbuhan positif. Mesin utamanya adalah sektor manufaktur, konstruksi, perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), serta industri minyak dan gas (migas)," tutur Robi menjawab Kompas.com.

Baca juga: Dody Minta Tambahan Anggaran Rp 14,87 Triliun untuk Proyek IKN

Robi memerinci, pertumbuhan PDRB Balikpapan tahun 2024 dan 2025 melanjutkan tren pertumbuhan positif yang dikontribusi oleh sektor industri pengolahan sebagai penopang utama.

Hal ini seiring dengan prakiraan peningkatan kinerja migas dan nonmigas, seperti sektor konstruksi yang dipicu keberlanjutan pembangunan IKN dan sektor PHR sejalan dengan peningkatan event bisnis maupun budaya dalam kerangka meeting, incentives, convention, and exhibition (MICE).

"Kami perkirakan ekonomi Balikpapan positif di angka 6 persen ya. Kenapa moderat stabil, atau kami rem, karena tahun 2025 proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina sudah selesai," imbuh Robi.

Sementara pertumbuhan positif PDRB juga diperkirakan akan terjadi di Kabupaten PPU yang terus meningkat pada 2024 dan 2025, yang berada pada angka 29 persen.

Pertumbuhan ini terutama didorong oleh sektor konstruksi seiring keberlanjutan pembangunan IKN dan sektor pertambangan produksi batubara yang kuat.

Sedangkan pertumbuhan PDRB Kabupaten Paser tahun 2024 diperkirakan lebih tinggi dari 2023, namun sedikit melambat tahun 2025.

Baca juga: Dibuka 2025, Masjid Negara IKN Punya Daya Tampung 50.000 Jemaah

Faktor pendukung pertumbuhannya yaitu sektor pertambangan yang sejalan dengan produksi batubara yang tinggi pada 2024 dan lalu terkoreksi sedikit tahun 2025, serta sektor pertanian seiring membaiknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Adapun inflasi pada masing-masing kawasan penyangga IKN ini masih terkendali. Balikpapan berada pada rentang stabil terkendali yaitu 2,5%+1%.

Demikian halnya dengan inflasi Kabupaten PPU diperkirakan berada pada rentang terkendali yaitu 2,5%+1%.

Robi menjelaskan, kapal perekonomian Nasional saat ini sedang menuju ke arah Indonesia Emas 2045.

Kota Balikpapan, Kabupaten PPU, dan Kabupaten Paser harus terus mengakselerasi visi tersebut.

Terutama sektor manufaktur, peningkatan derajat hilirisasi produk turunan kelapa sawit, perlu terus didorong.

Termasuk upaya memperkuat ekosistem pemanfaatan jelantah sebagai alternatif bahan baku bioavtur baik dari rumah tangga, restoran, maupun industri pengolahan makanan.

Selain itu, citra jenama Balikpapan sebagai MICE City dan Tourism Hub IKN perlu diperkuat, juga sektor UMKM perlu terus diakselerasi mulai dari dukungan permodalan, pendampingan dan promosi termasuk keikutsertaan dalam pameran skala nasional dan bimbingan tenaga ahli untuk mengetahui preferensi konsumen.

Baca juga: Telan Anggaran Rp 940 Miliar, Masjid Negara IKN Topping Off Bulan Ini

Berbagai katalis pertumbuhan seperti ekonomi biru, ekonomi hijau, ekonomi syariah, ekonomi kreatif, dan ekonomi digital adalah menu wajib yang perlu diinternalisasikan di berbagai sendi ekonomi di Kota Balikpapan, Kabupaten PPU, dan Kabupaten Paser.

Upaya pengendalian inflasi juga wajib secara konsisten dilaksanakan mulai dari aspek hulu melalui home farming, distribusi melalui dukungan Pemda dalam bentuk pemberian subsidi ongkos angkut hingga hilir (optimalisasi BUMD dalam manajemen pasokan komoditas pangan).

"Ke depan BI Balikpapan siap bersinergi dengan Pemkot Balikpapan, Pemkab PPU, dan Pemkab Paser khususnya dalam mendukung akselerasi UMKM, pengendalian inflasi daerah serta peningkatan digitalisasi sistem pembayaran," tuntas Robi.

Balikpapan Siap Bersinergi

Sementara itu, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas'ud dalam pidato kunci yang dibacakan Sekda Balikpapan Muhaimin mengatakan, akan terus mendukung visi misi Pemerintah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Di antaranya dengan memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi syariah, ekonomi digital, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.

Kemudian melanjutkan pengembangan infrastruktur dan meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif serta mengembangkan agromaritim industri di sentra produksi melalui peran aktif koperasi.

Baca juga: Kangkung dan Bayam Bikin Kota Penyangga IKN Kembali Alami Inflasi

Terkait dengan hal tersebut, ke depan diperlukan upaya-upaya dan sinergi untuk menjaga tren pertumbuhan melalui inovasi, penguatan rantai suplai dan yang paling penting adalah penyiapan sumber daya manusia baik pada tenaga kerja maupun investasi dalam pendidikan.

Upaya ini bisa dengan memanfaatkan momentum pengembangan konsep superhub IKN, mengingat fase konstruksi IKN bisa memberikan kontribusi pertumbuhan sehingga pada saat pengembangan selanjutnya menjadi sumber dan pusat pertumbuhan sebagaimana yang diharapkan.

"Kami akan terus konsisten bersinergi dengan BI yang terus melakukan inovasi dan kolaborasi terkait berbagai kepentingan di Daerah IKN maupun mitra strategisnya, termasuk Kota Balikpapan, Kabupaten Paser, dan Kabupaten PPU," pungkas Rahmad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau