Penulis
Meski menghadapi tantangan adaptasi dengan iklim dan bahasa, ia fokus menjalankan tugasnya untuk memajukan ekonomi Indonesia di Eropa.
Baca juga: Ramaikan IKN, Hotel Qubika dan Resto Kampung Kecil Segera Diresmikan
Dengan latar belakang pengusaha, Iwan langsung tancap gas. Ia berhasil mendorong ekspor kelapa parut kering (desiccated coconut) ke Eropa, membuka mata pasar terhadap produk Indonesia yang potensial.
Bahasa Indonesia yang menjadi mata kuliah wajib di Universitas Bulgaria dan menjadi jembatan budaya yang menarik minat warga Eropa untuk mengenal Indonesia lebih dalam, juga merupakan sejarah gemilangnya.
Namun, salah satu pencapaiannya yang paling inovatif adalah pendirian pabrik bumbu rendang di Bulgaria.
Bekerja sama dengan ahli kuliner William Wongso dan perusahaan makanan besar Balkan, ia memadukan bumbu asli Indonesia dengan daging berstandar halal Turkiye.
Konsep "one-stop service" ini diharapkan menjadi pionir bagi makanan siap saji Indonesia di Eropa.
"Ini merupakan suatu pionir untuk bisa makan makanan siap Indonesia, tidak hanya rendang, ke depan mungkin nanti ada ayam Taliwang atau berikutnya itu bisa berjalan," ungkap Iwan.
Iwan melihat potensi besar di negara-negara kecil Eropa. Ia mencontohkan, Bulgaria yang mengimpor minyak sawit dari Indonesia untuk diolah dan didistribusikan ke negara-negara tetangga.
Baginya, pemerintah Indonesia perlu memberi perhatian lebih pada negara-negara ini, yang bisa menjadi pintu gerbang produk Indonesia ke pasar Eropa yang lebih luas.
Mengatasi Tantangan UKM Indonesia di Pasar Eropa
Salah satu fokus Iwan adalah membantu Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Indonesia menembus pasar Eropa. Ia melihat kendala utama adalah biaya pengiriman dan promosi.
Untuk itu, Iwan mengusulkan pembentukan warehouse (gudang) bersama yang dikelola KBRI dengan melibatkan pihak ketiga di negara setempat. Pemerintah diharapkan dapat memberikan subsidi pengiriman dan promosi.
"Saya yakin kalau setiap beberapa perwakilan kita belanja potensi pemerintah ikut dibantu dengan warehouse tersebut, Insya Allah pasti bisa lebih cepat," ujarnya.
Baca juga: Otorita Bantah Minat Investasi di IKN Turun, Ini Penjelasannya
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan pihak Indonesia dalam proses pengemasan dan pemasaran produk di negara tujuan, agar nilai tambah produk Indonesia lebih optimal.
Selama masa jabatannya, Iwan berhasil meningkatkan investasi dan perdagangan Indonesia dengan ketiga negara akreditasinya sebesar 50 persen.
Tren investasi tersebut adalah tahun 2019 sebesar 154,6 juta dolar AS, tahun 2020 senilai 188,9 juta dolar AS, tahun 2021 sebanyak 129 juta dolar AS, tahun 2022 senilai 434,4 juta dolar AS, dan tahun 2024 senilai 755,8 juta.
Iwan optimistis, produk Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Eropa. Ia berharap KBRI dapat menjadi hub pengembangan produk Indonesia, mulai dari komoditas hingga kerajinan.
"Tinggal bagaimana kita serius untuk bisa melakukan ini, yaitu dengan menggandeng KBRI untuk bisa mendapatkan potensi-potensi dari setiap negara," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang