Penulis
2. Pengereman Otonom Tidak Responsif
Salah satu kelemahan krusial adalah ketidakmampuan sistem pengereman otonom mendeteksi rintangan atau objek yang melintas.
ART tidak dapat secara otomatis memperlambat, mengerem, atau memberikan peringatan, meningkatkan risiko keselamatan.
Hal ini bertentangan dengan standar keamanan tinggi yang dipersyaratkan untuk transportasi publik di IKN.
3. Keterbatasan Kemampuan Bidireksional
Sistem kendali otonom ART tidak mendukung operasi dua arah (bidirectional), yang penting untuk fleksibilitas rute di IKN.
Selain itu, teknologi ini masih berupa prototipe dan belum teruji sepenuhnya di lingkungan operasional kompleks seperti di China, di mana ART telah beroperasi sejak 2017.Faktor
Selain kelemahan teknis, beberapa faktor eksternal turut memengaruhi hasil PoC:
Kondisi Mixed Traffic: Uji coba dilakukan di jalur yang digunakan bersama kendaraan lain, sementara IKN masih dalam tahap pembangunan. Ini menciptakan tantangan tambahan bagi sistem otonom yang belum matang.
Ekspektasi Tinggi IKN: Sebagai living laboratory inovasi, IKN menetapkan standar ketat untuk teknologi transportasi, termasuk interoperabilitas, nilai ekonomis, dan transfer teknologi.
ART dinilai tidak memenuhi kriteria ini, terutama dengan biaya tinggi (estimasi Rp 70 miliar per unit) yang tidak sebanding dengan performanya.
Kurangnya Penyempurnaan Pra-Uji: Berbeda dengan operasional ART di China, sistem di IKN belum diadaptasi untuk kondisi lokal, seperti pembaruan sistem komunikasi sesuai standar keamanan siber atau peningkatan fitur keselamatan.
Untuk diketahui, pembiayaan PoC ditanggung oleh penyedia teknologi, demikian halnya dengan pengiriman dan pengembalian armada, sehingga kegagalan ART tidak merugikan negara.
Namun, kegagalan ART ini tidak menghentikan ambisi IKN untuk mewujudkan ekosistem smart mobility.
Kepada Kompas.com, secara khusus Deputi Transformasi Hijau dan Digital OIKN, Mohammed Ali Berawi, menegaskan komitmen untuk mengembangkan transportasi cerdas terintegrasi melalui aplikasi Mobility-as-a-Service (MaaS).
MaaS akan memungkinkan warga memesan bus listrik, sepeda listrik, hingga urban air mobility melalui satu platform, mendukung target 80 persen perjalanan menggunakan transportasi publik atau mobilitas aktif.
"Otorita IKN juga membuka peluang bagi pabrikan lain untuk mengajukan PoC, dengan evaluasi berfokus pada empat pilar: kualitas teknologi, interoperabilitas, nilai ekonomis, dan transfer pengetahuan," tegas Ale, sapaan akrab Mohammed Ali Berawi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang