Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebutuhan Listrik IKN Tembus 1 TWh, Siap Menerangi Masa Depan RI

Kompas.com, 3 Juni 2025, 09:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

NUSANTARA, KOMPAS.com - Ibu Kota Nusantara (IKN) diproyeksikan akan menjadi pusat gravitasi ekonomi dan teknologi baru di Indonesia, dan salah satu indikator krusialnya adalah lonjakan kebutuhan energi listrik.

PT PLN (Persero) telah merilis permintaan listrik nasional akan melonjak drastis menjadi 511 Terawatt hour (TWh) pada tahun 2034, naik signifikan dari 306 TWh di tahun 2024.

Dalam angka ini, IKN memegang porsi yang menarik perhatian, dengan proyeksi kebutuhan listrik mencapai 1 TWh.

Baca juga: Siap Layani Atlet Indonesia, RS Abdi Waluyo Tembus 75,6 Persen

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menegaskan, peningkatan ini sudah mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dibidik mencapai 8 persen.

"Perhitungan peningkatan permintaan listrik tersebut berdasarkan lokasi, waktu, dan kapasitas di seluruh Indonesia," jelas Darmawan dalam acara Diseminasi Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) di Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Senin (2/6/2025).

Angka 1 TWh untuk IKN pada tahun 2034 menggambarkan peran strategis IKN dalam ekosistem energi nasional. Ada beberapa faktor utama yang mendorong proyeksi ini.

Baca juga: Intip Fasilitas Bintang 5 Rusun di IKN, ASN Tinggal Bawa Koper

Sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi baru, IKN akan menjadi tuan rumah bagi berbagai fasilitas modern, perkantoran, perumahan, hingga pusat bisnis. Semua ini membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan besar.

Selain itu, Kalimantan, termasuk wilayah sekitar IKN, merupakan lokasi strategis untuk program hilirisasi mineral dan batu bara (minerba).

Proyeksi PLN menunjukkan kebutuhan listrik untuk hilirisasi minerba di Kalimantan mencapai 5,3 TWh.

Meskipun angka ini bukan seluruhnya di IKN, pembangunan industri di sekitar IKN akan membutuhkan dukungan listrik yang kuat.

Kebutuhan Listrik Data Center

Darmawan secara khusus juga menyoroti peran sentral Artificial Intelligence (AI) dan pusat data (data center).

Baca juga: Saat Banyak Pihak Meragukan, Kompleks Kemenko 3 IKN Tuntas Secepat Kilat

"Penggunaan AI untuk bertanya atau apa pun kegiatan masyarakat, di sana ada computing power. Ini membutuhkan energi listrik dalam jumlah yang sangat intensif, dan juga air sebagai pendingin karena akan menimbulkan panas," ungkapnya.

IKN, sebagai kota pintar, dipastikan akan menjadi magnet bagi pengembangan data center dan ekosistem AI, yang secara langsung akan memicu permintaan listrik yang tinggi.

Sejalan dengan komitmen pemerintah terhadap transisi energi, penggunaan kendaraan listrik dan kompor listrik diprediksi akan meningkat pesat.

Di Kalimantan, proyeksi kebutuhan listrik untuk EV dan kompor listrik mencapai 0,2 TWh, yang akan turut berkontribusi pada beban kelistrikan di IKN.

Baca juga: Sempat Heboh, Bagaimana Perkembangan Terbaru Basilika Nusantara IKN?

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau